Opening Ceremony Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion Los Angeles, Amerika Serikat.( IG @fifaworldcup)
GELARAN final Piala Dunia 2026 nan dijadwalkan berjalan pada 20 Juli mendatang di Stadion MetLife, New Jersey, mencatatkan sebagai laga sepak bola dengan nilai komersial tertinggi di dunia. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) diketahui tetap membuka penjualan tiket menit-menit terakhir dengan nilai nan mencengangkan, mencapai ribuan dolar per lembar.
Berdasarkan pantauan sistem penjualan resmi FIFA, otoritas sepak bola tertinggi bumi itu tetap menyisakan 1.178 bangku untuk Kategori Dua nan ditempatkan di lima sektor tribun atas (top deck). Tiket untuk area ini dibanderol dengan nilai resmi $7.380 (setara Rp120 juta) per kursi.
Langkah FIFA membuka kembali loket digital ini cukup mengejutkan publik, mengingat platform resmi mereka sebelumnya sempat merilis pengumuman bahwa seluruh tiket untuk laga puncak tersebut telah lenyap terjual (sold out).
Bagi kelas VIP, FIFA juga memasarkan 68 bangku Kategori Satu di tribun bawah dengan rentang nilai $19.995 hingga $32.970 (sekitar Rp325 juta sampai Rp536 juta). Sementara untuk paket eksklusif di area Trophy Lounge dan Trophy Lounge+, nilai nan dipatok menyentuh nomor $34.500 (setara Rp561 juta), sudah termasuk akomodasi jamuan makanan dan minuman premium.
Kebijakan komersialisasi garang ini memicu gelombang protes masif dari pencinta sepak bola global. Kelompok suporter internasional apalagi telah melayangkan gugatan norma resmi kepada FIFA atas tuduhan pemanfaatan nilai tiket nan dinilai tidak masuk akal.
Harga Resale
Lonjakan paling liar justru terjadi di pasar purna-jual (resale) resmi milik FIFA, di mana nilai tiket final meroket dari nomor terendah $7.440 hingga nan tertinggi menyentuh nomor sebesar $11,49 juta (setara Rp207 miliar).
Menanggapi polemik tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino bersikeras memihak izin finansial lembaganya. Infantino menegaskan bahwa FIFA hanya memanfaatkan koridor norma komersial di Amerika Serikat nan melegalkan tiket untuk dijual kembali jauh di atas nilai nominal aslinya.
"Kami bergerak di dalam koridor izin lokal nan bertindak di AS. Sebagai badan pengatur global, sudah menjadi tanggungjawab kami untuk mengoptimalkan potensi pendapatan dari norma pasar nan ada," ujar Infantino dalam sebuah konvensi pers di New York.
Namun, pembelaan tersebut tidak serta-merta meredakan situasi. Pemerintah negara bagian New York dan New Jersey dilaporkan telah menerbitkan surat panggilan pengadilan (subpoena) kepada manajemen FIFA.
Langkah yudisial ini diambil sebagai bagian dari penyelidikan resm mengenai manipulasi indikasi nilai tiket serta transparansi zonasi letak bangku penonton nan dinilai merugikan kewenangan konsumen publik.
(aljazeera/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·