Harga Minyak Turun 2,98 Persen Usai Iran Ajukan Proposal Negosiasi ke AS

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP

Usulan Iran mengenai negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) membikin nilai minyak mentah turun tajam pada Jumat (1/5). Namun, di tengah situasi ditutupnya Selat Hormuz dan Angkatan Laut AS nan menghalang ekspor minyak mentah Iran, nilai tersebut tetap berada di jalur kenaikan secara mingguan.

Mengutip Reuters, Sabtu (2/5), perjanjian berjangka Brent untuk pengiriman Juli ditutup di level USD 108,17 per barel, turun USD 2,23 alias 2,02 persen. Sementara itu, perjanjian West Texas Intermediate (WTI) berhujung di USD 101,94 per barel, turun USD 3,13 alias 2,98 persen.

Menurut laporan instansi buletin negara IRNA pada Jumat (1/5), Iran mengirimkan proposal terbaru untuk negosiasi dengan AS kepada mediator dari Pakistan pada Kamis (30/4). Langkah ini dinilai dapat membuka kesempatan untuk mengakhiri kebuntuan dalam upaya menghentikan perang Iran.

Meski demikian, nilai referensi Brent dan WTI tetap mencatat potensi kenaikan mingguan sebesar 2,95 persen. Kontrak Brent untuk Juni sempat menyentuh USD 126,41 per barel pada Kamis (30/4), level tertinggi sejak Maret 2022, sebelum akhirnya ditutup melemah.

“Proposal dari Iran ini memberi angan kepada pasar bahwa ada jalan keluar bagi Amerika Serikat,” ujar analis senior dari Price Futures Group, Phil Flynn.

Harga minyak telah meningkat sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, nan berujung pada penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Di sisi lain, gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April. Namun, penasihat presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, menyatakan Teheran tidak dapat dipercaya dalam pengaturan sepihak apa pun mengenai Selat Hormuz. Hal ini menandakan tingginya ketidakpercayaan di antara semua pihak.

Menjelang penutupan perdagangan Jumat (1/5), pasar minyak tampak mulai menerima kondisi gencatan senjata nan rentan dalam bentrok tersebut.

“Pergerakan pasar naik turun sangat berjuntai pada prospek penyelesaian konflik. Saat ini situasinya tetap buntu, setidaknya hingga pasar ditutup,” kata mitra di Again Capital, John Kilduff.

Sementara itu, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Kamis (30/4) menakut-nakuti bakal melancarkan serangan panjang dan menyakitkan terhadap posisi AS jika Washington kembali menyerang Iran. Ancaman ini sempat mendorong nilai minyak ke level tertinggi intraday sebelum kembali melemah.

Berdasarkan info dari seorang pejabat AS kepada Reuters, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada Kamis (6/5) mendatang mengenai rencana serangkaian serangan militer baru terhadap Iran guna memaksa negara tersebut bermusyawarah untuk mengakhiri konflik. Namun, Washington belum mengumumkan rincian lebih lanjut mengenai rencana tersebut.

video from internal kumparan
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan