Harga Minyak Dunia Tembus USD 100/Barel, Pasokan Timur Tengah Masih Terganggu

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP

Harga minyak bumi menembus level USD 100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9). Ini menjadi kali pertama dalam enam pekan nilai minyak berada di atas level tersebut.

Kenaikan nilai minyak dipicu meningkatnya bentrok antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari area Timur Tengah. Kondisi ini juga meningkatkan akibat inflasi serta kenaikan biaya daya bagi konsumen dan pelaku usaha.

Dikutip dari Reuters, Kamis (10/9), nilai minyak Brent sebagai patokan dunia telah naik sekitar 25 persen sejak awal Agustus. Kenaikan tersebut terjadi di tengah memudarnya angan terhadap penyelesaian bentrok AS-Iran nan telah berjalan selama enam bulan.

Harga minyak semakin naik dalam sepekan terakhir setelah golongan Houthi nan didukung Iran menyerang akomodasi daya Arab Saudi. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah instalasi minyak terbakar dan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan meluas ke area Teluk.

Kondisi ini membikin pasar minyak dunia semakin rentan. Pasalnya, pasokan telah berkurang selama berbulan-bulan akibat terganggunya ekspor minyak melalui Selat Hormuz serta menurunnya persediaan minyak di sejumlah negara konsumen utama.

"Investor minyak menunjukkan pandangan mereka terhadap akibat eskalasi terbaru di Timur Tengah dengan sangat jelas," kata Tamas Varga dari perusahaan pialang minyak PVM.

Menurut Tamas, pasokan minyak dunia tetap bakal menghadapi tekanan selama Selat Hormuz belum kembali normal. Jika aliran minyak melalui jalur tersebut belum lancar, pasokan berisiko tidak bisa memenuhi permintaan dalam waktu dekat.

Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Harga minyak Brent memang tetap berada di bawah level tertingginya selama konflik, ialah sekitar USD 126 per barel pada April lalu. Namun, Namun, kenaikan hingga menembus USD 100 per barel dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi. Kenaikan nilai minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan manufaktur, sekaligus kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi, serta potensi bank sentral mempertahankan suku kembang tinggi lebih lama

Amerika Serikat apalagi telah menggunakan persediaan minyak strategisnya dalam jumlah besar. Cadangan tersebut sekarang berada di level terendah sejak 1982, dengan persediaan sekitar 289,7 juta barel.

Badan Energi Internasional (IEA) pada Maret lampau mengumumkan pelepasan 400 juta barel dari persediaan minyak darurat untuk membantu menjaga pasokan global. Sekitar tiga perempat dari jumlah tersebut telah dikeluarkan.

Sementara info perusahaan nan memantau pengiriman minyak, Vortexa, memperkirakan sekitar 10 juta bph alias sekitar 10 persen dari permintaan minyak bumi tetap lenyap akibat bentrok Iran.

Sejumlah negara seperti AS, Kanada, dan Guyana juga telah meningkatkan produksi minyak. Namun, IEA memperkirakan pasokan minyak dunia tetap bakal turun sekitar 4,3 juta barel per hari (bph) tahun ini alias sekitar 4 persen.

Jeffrey Currie, Co-Chairman Abaxx Markets, menilai kenaikan nilai minyak saat ini bukan sekadar gejolak sementara.

“Menurut saya, pasar mencoba menganggap kenaikan nilai daya ini sebagai kejadian sesaat. Padahal bukan. Ini berkarakter struktural. Kondisi ini tidak bakal lenyap dan merupakan bagian dari apa nan saya sebut sebagai premi keamanan. Dan nilainya bakal terus meningkat,” ujar Jeffrey.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan