Ilustrasi.(Magnific)
DUNIA kembali diguncang ketidakpastian ekonomi setelah nilai minyak mentah melonjak tajam pada perdagangan Senin (1/6). Kenaikan ini dipicu oleh laporan media nan berafiliasi dengan pemerintah Iran bahwa Teheran memutuskan untuk menghentikan pembicaraan tenteram dengan Amerika Serikat (AS) guna mengakhiri perang nan tengah berlangsung.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak hingga 8,5% ke level nyaris US$95 per barel atau naik sekitar US$8. Sementara itu, minyak mentah patokan internasional, Brent, naik sebanyak 7,3% menjadi lebih dari US$97 per barel, lonjakan sebesar US$6 dalam waktu singkat.
Kenaikan nilai daya ini tidak hanya terbatas pada minyak mentah. Harga minyak pemanas (heating oil), nan sering menjadi proksi untuk bahan bakar jet, naik 7%, sementara nilai gas grosir meningkat 4%. Meski nilai bensin satuan sempat turun US$0,24 dari puncaknya tahun ini, secara rata-rata nilai gas tetap 44% lebih tinggi dibandingkan periode sebelum perang pecah.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Memasuki bulan keempat konflik, Teheran dilaporkan menangguhkan pertukaran pesan melalui mediator sebagai corak protes atas ekspansi serangan militer Israel di Libanon. nan lebih mengkhawatirkan bagi pasar global, Iran menyatakan tekadnya untuk mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz serta mengaktifkan front lain, termasuk Selat Bab el-Mandeb di lepas pantai Yaman.
Analisis Pasar: Strategis dari HSBC dalam catatannya menyebut bahwa Selat Hormuz nan tertutup sebagian tetap menjadi konsentrasi utama pengamat pasar komoditas. Meskipun pasar sejauh ini bisa menyerap guncangan berkah stok inventaris nan tinggi, penutupan jangka panjang dapat menguras stok hingga titik kritis dan memicu lonjakan nilai nan non-linear serta kelangkaan nyata.
Dampak ke Pasar Saham dan Obligasi
Gejolak di sektor daya langsung merembet ke pasar keuangan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, nan sangat memengaruhi suku kembang pinjaman konsumen, melonjak berbarengan dengan nilai energi. Yield Treasury AS tenor 10-tahun naik dari 4,4% menjadi 4,51%, sementara tenor 30-tahun meningkat dari 4,97% menjadi 5,02%.
Di pasar modal, bursa saham AS mengalami penurunan tipis. Namun, kejatuhan indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq sukses diredam oleh momentum saham kepintaran buatan (AI) menyusul pengumuman produk baru dari Nvidia. Sebaliknya, indeks Russell 2000 nan melacak perusahaan mini merosot 1% pada perdagangan pagi.
Secara internasional, tindakan jual saham terjadi lebih masif. Indeks referensi di Prancis, Inggris, dan Italia masing-masing turun sekitar 1%, sementara indeks pan-Eropa Stoxx 600 melemah 1,1%. Para penanammodal sekarang bersiap menghadapi volatilitas tinggi jika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat tanpa adanya jalur diplomasi nan jelas. (NBC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·