Jakarta -
Harga cabe melonjak belakangan ini. Harga cabe rawit merah apalagi menembus nilai Rp 90.050/kg.
Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia (BI), kenaikan paling tajam dicatatkan oleh cabe merah keriting nan melesat hingga 9% menjadi Rp 62.950/kg. Kemudian, cabe rawit merah juga ikut melonjak 7,2% ke level Rp 90.050/kg.
Menanggapi perubahan nilai cabai, Badan Pangan Nasional mengupayakan mobilisasi stok dari wilayah nan surplus ke wilayah defisit, salah satunya melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Program ini pernah dilaksanakan pemerintah secara kolaboratif berbareng para Champion Cabai dan cukup efektif menekan nilai cabai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menuturkan upaya mengatasi perubahan nilai cabe perlu segera diterapkan. Bapanas dan Kementerian Pertanian (Kementan) bakal menjalin hubungan agar FDP dapat dijalankan guna menyasar ke wilayah nan sedang mengalami dinamika nilai nan fluktuatif.
"Untuk cabe rawit, berasas info dari Kediri, saat ini terdapat dinamika nilai dan pasokan nan perlu segera kita respons. Karena itu, kami mau berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk memandang wilayah mana nan dapat kita dukung melalui FDP," ucap Ketut dalam keterangannya, dikutip Minggu (13/9/2026).
Pelibatan petani Champion Cabai nan dibina Kementan memegang andil krusial dalam upaya penstabilan nilai cabe rawit. Berkat kerjasama erat, pasokan cabe rawit dengan nilai nan terjangkau nan kemudian diguyur ke wilayah nan berfluktuasi dapat menjadi aspek penekan harga.
"Misalkan di wilayah di luar Jawa nan harganya relatif tetap terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah nan harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah nan harganya relatif tinggi," jelas Ketut.
Adapun dalam catatan Bapanas, FDP cabe rawit nan telah terlaksana pada triwulan pertama tahun 2026 totalnya mencapai 5.590 kilogram (kg). Ini terdiri dari mobilisasi stok cabe rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta sebesar 3.150 kg. Kemudian ke Lombok Tengah serta Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat masing-masing 1.140 kg dan 1.300 kg.
Implikasi positifnya pada April 2026 terjadi penurunan inflasi, termasuk pada komponen nilai bergolak (volatile food) alias inflasi pangan. Ini menunjukkan mulai meredanya tekanan nilai pangan usai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Cabai rawit pun menjadi salah satu penyumbang deflasi pada April.
Di sisi lain, dalam rapat koordinasi Bapanas berbareng petani cabe (26/8/2026) terungkap beberapa aspek penyebab perubahan nilai cabe rawit. Beberapa aspek nan mempengaruhinya antara lain tandus berkepanjangan, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul hingga adanya alih tanam ke komoditas lain.
Kendati demikian, beragam upaya nan dilakukan Kementan di sektor hulu diyakini bisa mengatasi beragam tantangan tersebut. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan Sudi Mardianto memastikan produksi cabe rawit secara nasional tetap kondusif sampai akhir tahun.
"Untuk cabe rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop nan ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," urai Sudi.
"Kemudian untuk di wilayah Jawa tetap terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun tetap relatif rendah lantaran mungkin baru sebagian besar tanam, tapi kelak itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," sambung Sudi.
Sudi juga mengatakan petani cabe rawit bimbingan Kementan siap mendukung program penstabilan nilai pemerintah. Program FDP dapat segera dilaksanakan bersama-sama untuk mengguyur wilayah nan mengalami nilai cabe rawit nan berfluktuasi tinggi.
"Nah seandainya kelak ada program pemerintah untuk dapat melakukan pengedaran ke wilayah-wilayah nan membutuhkan, artinya dari produksi nan ada. Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah nan nilai cabe rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah nan harganya cukup tinggi," tambah Sudi.
Berikut daftar nilai pangan berasas PIHPS:
1. Beras kualitas super I Rp 17.850/kg, nilai tetap
2. Beras kualitas super II Rp 17.300/kg, nilai tetap
3. Beras kualitas bawah I Rp 14.800/kg, turun 0,34%
4. Beras kualitas bawah II Rp 14.700/kg, naik 0,34%.
5. Beras medium I Rp 16.550/kg, nilai tetap
6. Beras medium II Rp 16.400/kg, naik 0,31%
7. Gula pasir lokal Rp 19.100/kg, nilai tetap
8. Minyak goreng curah Rp 20.500/kg, naik 0,24%
9. Minyak goreng bungkusan bermerek 1 Rp 24.300/kg, turun 0,21%
10. Minyak goreng bermerek 2 Rp 23.500/kg, naik 0,21%
11. Telur ayam ras segar Rp 29.250/kg, turun 1,35%.
12. Cabai Merah Besar Rp 54.200/kg, naik 2,65%
13. Cabai Merah Keriting 62.950/kg, naik 9%
14. Cabai Rawit Hijau Rp 64.700/kg, naik 3,94%
15. Cabai Rawit Merah Rp 90.050/kg, naik 7,2%
16. Daging Ayam Ras Segar Rp 42.500/kg, turun 0,47%
17. Daging Sapi Kualitas 1 Rp 152.150 per kg, naik 0,16%
18. Daging Sapi Kualitas 2 Rp 142.850/kg, naik 0,07%
19. Bawang Merah ukuran sedang Rp 37.700/kg, turun 1,05%
20. Bawang putih ukuran sedang Rp 39.400/kg, naik 0,25%
21. Gula pasir kualitas premium Rp 20.300/kg, naik 0,25%.
(acd/acd)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·