Harga Beras Kompak Naik pada Agustus, BPS Ungkap Penyebabnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pekerja mengangkut beras di area Pasar Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan beras kembali menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada Agustus 2026, mencatatkan inflasi sebesar 0,42 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan perihal tersebut dipicu oleh penurunan potensi luas panen dan produksi beras bulanan seiring berjalannya fase transisi setelah melewati puncak panen raya.

“Inflasi beras ini juga dipengaruhi terutama oleh aspek pengedaran beras ke pasar nya. Terutama pada beberapa wilayah di Indonesia kan ada sentra produksinya, ada juga nan non sentra produksinya,” ucap Ateng dalam konvensi pers nan dilaksanakan di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9).

Ateng mengungkapkan potensi luas panen dan produksi beras diperkirakan mengalami penurunan pada Agustus 2026. Pasokan harian gabah maupun beras nan disalurkan ke tempat penggilingan pada rentang waktu ini pun tergolong lebih sedikit jika dibandingkan dengan periode puncak musim panen raya sebelumnya.

Untuk kurun waktu Agustus hingga Oktober 2026, luas panen diproyeksikan berada di nomor 3,07 juta hektare, alias menyusut sekitar 0,04 juta hektare daripada periode setara pada tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konvensi pers di Kantor Pusat BPS, Selasa (1/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

“Meskipun nomor proyeksi-proyeksi kumulatif hingga Oktober berada dalam kondisi relatif kondusif ya, pasokan untuk nan gabah beras harian nan masuk ke penggilingan pada periode ini condong lebih terbatas jika dibandingkan dengan pada saat terjadinya puncak panen,” jelas Ateng.

Kemudian, di tingkat penggilingan, rata-rata nilai beras naik 1,32 persen secara bulanan dan melonjak 5,52 persen secara tahunan. Jika dipilah berasas kualitas, beras premium di penggilingan naik 1,22 persen secara bulanan dan 10,07 persen secara tahunan, sementara beras medium naik 1,48 persen secara bulanan dan 4,03 persen secara tahunan.

“Jadi secara year-on-year untuk beras premium kenaikan ya lebih tinggi dibandingkan dengan beras medium,” lanjut Ateng.

Sementara itu di tingkat grosir, beras mengalami inflasi sebesar 0,80 persen secara bulanan dan 4,28 persen secara tahunan. Pada tingkat eceran, terjadi inflasi sebesar 0,42 persen secara bulanan dan 2,77 persen secara tahunan.

harga rata-rata beras di tingkat grosir tercatat naik menjadi Rp 14.901 per kilogram dari posisi bulan sebelumnya nan sebesar Rp 14.783 per kilogram. Kemudian pada tingkat eceran, di mana nilai rata-rata beras merangkak naik menjadi Rp 15.641 per kilogram jika dibandingkan dengan April 2026 nan sebesar Rp 15.575 per kilogram.

“Harga beras nan kami sampaikan merupakan nilai rata-rata beras nan mencakup beragam jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia,” imbuh Ateng.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan