Guru SD di Pelosok Sulteng Bikin MBG Mandiri Pakai Donasi Medsos

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Parigi Moutong -

Guru SD berjulukan Muh Najib di pelosok Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), menginisiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara berdikari lantaran sekolahnya belum terjangkau. Satu porsi MBG dibuat dengan modal Rp 5 ribu per siswa dari bantuan di akun media sosial.

Najib mengajar di SD Kecil Terpencil Ogolau di Desa Tibo, Kecamatan Tinombo. Lokasinya berada di wilayah pelosok nan aksesnya tetap cukup susah dijangkau dengan kendaraan.

Program MBG berdikari ini berasal dari keprihatinannya memandang kondisi bentuk dan konsentrasi para siswa di sekolah terpencil tersebut. Setiap memasuki pukul 09.00 hingga 10.00 Wita, tidak sedikit siswa nan mulai lenyap konsentrasi hingga meminta pulang lebih awal lantaran menahan lapar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di jam 09.00 alias 10.00 itu sudah banyak nan mengeluh, 'kapan pulang Pak Guru, kami lapar.' Saat saya berjamu ke rumah-rumah siswa, kebanyakan memang berada di kategori prasejahtera, di atas 90 persen. Banyak nan tidak sarapan lantaran terkendala bahan makanan," ujar Najib kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).

Sebelum adanya program ini, proses belajar mengajar di atas pukul 09.00 Wita menjadi sangat sulit. Meski jam pelajaran dijadwalkan selesai pukul 11.30 Wita, para siswa sudah tidak konsentrasi lagi menerima materi pembelajaran.

Siapa sangka, buahpikiran menghadirkan MBG berdikari senilai Rp 5.000 ini muncul dari kejadian nan tidak disengaja. Sang pembimbing mengawali aksinya dengan membagikan buah sirsak nan dipetik dari belakang sekolah.

Momen anak-anak menikmati buah cuma-cuma nan saat itu disebut Makan Buah Gratis kemudian diunggah ke media sosial. Belakangan video itu menarik perhatian para donatur.

"Awal mulanya kami dapat buah sirsak di belakang sekolah. Setelah makan sirsak, kami upload dan nyebutnya Makan Buah Gratis alias MBG. Dari situ ada beberapa dermawan nan bilang, 'nanti saya modalin untuk makanan'. Itulah awal mula kami buat program MBG Rp 5.000 ini," jelasnya.

Dengan anggaran terjangkau Rp 5.000 per porsi, menu nan disajikan untuk 52 siswa aktif di sekolah itu terdiri dari nasi kuning, mi, sambal, hingga sepotong ikan. Pembuatan makanan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik warung lokal di wilayah Kilometer 5 alias berjarak 3 kilometer dari sekolah.

"Akses jalan termasuk susah lantaran kudu menyeberangi tiga sungai. Tapi lantaran pemilik warung penduduk lokal, beliau sudah terbiasa," ungkapnya.

Selain akses jalan, kesiapan bahan baku di wilayah terpencil juga membikin program ini belum bisa digelar setiap hari. Pemilik warung kudu menunggu hari pasar setiap Selasa alias pergi ke pusat kecamatan untuk berbelanja stok pangan.

Meski belum bisa melangkah setiap hari dan mengandalkan bantuan followers media sosialnya di IG dan TikTok milik, program ini membawa perubahan signifikan bagi dinamika belajar anak-anak. Angka kehadiran siswa melonjak drastis, dan tidak ada lagi keluhan lapar di tengah jam pelajaran.

Baca selengkapnya di sini

(idh/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑