Golden lion tamarin (Doc F. Perroux)
DI tengah meningkatnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati di beragam wilayah dunia, berita positif datang dari bumi konservasi satwa.
Salah satu jenis primata langka nan sebelumnya sempat berada di periode kepunahan sekarang menunjukkan perkembangan nan cukup menggembirakan.
Golden lion tamarin alias mico-leão-dourado, monyet kecil berwarna keemasan asal Brasil, tercatat mengalami peningkatan populasi hingga beberapa kali lipat dibandingkan jumlah nan pernah tercatat pada masa kritisnya.
Golden lion tamarin merupakan primata endemik nan hidup di Hutan Atlantik Brasil. Satwa ini mempunyai ukuran tubuh mini dengan panjang sekitar 20-33 sentimeter dan dikenal melalui warna bulunya nan menyerupai surai singa berwarna emas.
Namun, di kembali tampilannya nan mencolok, jenis ini pernah menghadapi ancaman serius akibat kerusakan habitat. Pada dasawarsa 1960-1970-an, populasi golden lion tamarin mengalami penurunan drastis.
Perluasan wilayah permukiman, pembukaan lahan pertanian, hingga pembalakan rimba menyebabkan kediaman alami mereka terus menyusut. Saat itu, jumlah perseorangan nan tersisa di alam liar diperkirakan hanya sekitar 100–600 ekor.
Kondisi tersebut membikin banyak pihak cemas terhadap kelangsungan hidup jenis ini. Berbagai lembaga konservasi kemudian memulai upaya pengamanan melalui program penangkaran, pelepasliaran, pembangunan koridor hutan, hingga restorasi habitat.
Upaya tersebut menunjukkan hasil nan cukup signifikan. Berdasarkan info konservasi terbaru, populasi golden lion tamarin di alam liar saat ini telah mencapai lebih dari 4.800 individu.
Jumlah tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode awal pemulihan populasi beberapa dasawarsa lalu. Peningkatan populasi tersebut juga menunjukkan pentingnya kerjasama beragam pihak dalam menjaga jenis nan terancam punah.
Tidak hanya lembaga konservasi dan pemerintah, masyarakat sekitar juga dilibatkan untuk menjaga kediaman satwa agar tetap aman. Meski demikian, ancaman terhadap jenis ini belum sepenuhnya berakhir.
Pada 2016, populasi golden lion tamarin kembali mengalami tekanan akibat pandemi demam kuning nan menyerang sejumlah area kediaman mereka. Jumlah populasi nan sebelumnya mencapai sekitar 3.700 perseorangan sempat turun menjadi sekitar 2.500 individu.
Para peneliti kemudian mengambil langkah tambahan, termasuk pemantauan kesehatan satwa dan pengembangan strategi perlindungan terhadap ancaman penyakit di masa mendatang.
Kisah pemulihan golden lion tamarin menjadi salah satu contoh bahwa upaya konservasi memerlukan proses panjang dan berkelanjutan.
Di tengah banyaknya jenis nan menghadapi akibat kepunahan, peningkatan populasi satwa ini menjadi gambaran bahwa intervensi nan tepat dapat memberikan hasil nyata.
Sumber: Smithsonian National Zoo & Conservation Biology Institute, Conservation Planning Specialist Group (CPSG), International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, Golden Lion Tamarin Association (Associação Mico-Leão-Dourado)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·