Gangguan Selat Hormuz dan El Nino Ancam Pertanian serta Ketahanan Pangan Global

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Gangguan Selat Hormuz dan El Nino Ancam Pertanian serta Ketahanan Pangan Global Ilustrasi(Antara)

GANGGUAN pelayaran di Selat Hormuz di tengah fenomena El Nino berisiko memperburuk produksi pertanian dan ketahanan pangan global akibat kenaikan nilai komoditas serta meningkatnya biaya daya dan pupuk. Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Maximo Torero, memperingatkan kedua aspek tersebut dapat saling memperkuat dampaknya terhadap sektor pertanian.

"Pesan utamanya adalah bahwa risiko-risiko ini dapat saling memperkuat satu sama lain," kata Torero kepada RIA Novosti, Jumat.

Data FAO menunjukkan bahwa gangguan pelayaran dapat memperburuk akibat terhadap produksi pertanian nan mengenai dengan El Nino, akibat kenaikan nilai komoditas dan berkurangnya kesiapan komoditas tersebut.

El Nino merupakan kejadian alam nan ditandai dengan suhu permukaan laut nan lebih hangat dari biasanya di wilayah Pasifik khatulistiwa.

Torero mengatakan FAO belum menerbitkan prakiraan dunia nan mengukur akibat campuran gangguan di Selat Hormuz dan El Nino terhadap hasil panen alias nilai pangan dunia.

"Hasil akhirnya bakal berjuntai pada lama gangguan pelayaran dan energi, waktu serta tingkat keparahan anomali cuaca mengenai El Nino di beragam wilayah, almanak tanam, keputusan petani mengenai input pertanian, permintaan bahan bakar nabati (*biofuel*), serta respons kebijakan," jelasnya.

Torero mengatakan tingginya biaya daya dan pupuk dapat menghalang produksi pertanian. Sementara itu, kondisi cuaca nan tidak menguntungkan dapat semakin menurunkan hasil panen di wilayah terdampak sekaligus membatasi keahlian negara produsen lain untuk menutupi kerugian tersebut.

Ia menekankan pentingnya memantau prospek panen, situasi pasar pupuk dan energi, arus perdagangan, biaya pengangkutan, permintaan bahan bakar nabati, serta dinamika inflasi pangan.

Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang target-target di Iran, nan memicu tindakan jawaban dari pihak Iran. Saat ini, bentrok tersebut belum terselesaikan, namun kedua pihak tidak terlibat dalam pertempuran aktif dengan AS lebih mengandalkan tekanan ekonomi.

Eskalasi bentrok itu praktis telah menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, nan merupakan jalur pasokan utama bagi minyak dunia, produk minyak bumi, dan gas alam cair. Akibatnya, nilai bahan bakar mengalami kenaikan di sebagian besar negara. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑