Ilustrasi(magnific)
TREN frugal living alias gaya hidup irit sekarang bukan sekadar kejadian sesaat di media sosial. Antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menilai pola hidup ini berpotensi memperkuat dalam jangka panjang. Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran finansial serta perubahan pola konsumsi nan lebih selektif di kalangan generasi muda.
Meski tren estetika dari frugal living, seperti style berpakaian minimalis, mungkin berubah sigap mengikuti zaman, Semiarto menekankan bahwa prinsip dari perilaku irit tersebut mempunyai akar nan kuat pada kondisi ekonomi saat ini.
Kesadaran Finansial di Tengah Gig Economy
Menurut Semiarto, salah satu aspek utama nan melanggengkan praktik efisiensi ini adalah model kerja gig economy nan sekarang mendominasi pasar tenaga kerja muda. Pendapatan nan tidak selalu stabil menuntut perseorangan untuk lebih bijak dalam mengelola arus kas.
“Kita hidup di dalam konteks ekonomi nan berbasis gigs. Ada kalanya punya duit cukup banyak, tapi ada kalanya kosong,” ujar Semiarto saat dihubungi pada Jumat (10/5).
Kondisi struktural inilah nan memaksa masyarakat urban untuk tetap adaptif terhadap tekanan ekonomi perkotaan melalui prinsip efisiensi.
Pergeseran Prioritas: Pengalaman di Atas Kepemilikan
Generasi muda saat ini condong lebih mengutamakan pengalaman dan kesejahteraan (well-being) dibandingkan kepemilikan aset secara permanen. Fleksibilitas menjadi kunci utama dalam memenuhi kebutuhan style hidup tanpa kudu terbebani biaya perawatan aset jangka panjang.
Berikut adalah komparasi pergeseran pola konsumsi nan diidentifikasi oleh Prof. Semiarto Aji Purwanto:
| Hunian | Membeli rumah/properti permanen | Sewa apartemen alias kediaman fleksibel |
| Transportasi | Membeli kendaraan pribadi (mobil/motor) | Layanan transportasi online premium |
| Fokus Utama | Akumulasi aset fisik | Pengalaman dan well-being |
| Manajemen Keuangan | Konsumsi impulsif | Budgeting dan menabung ketat |
Estetika vs Esensi
Semiarto membedakan antara frugal living sebagai tren visual dan sebagai prinsip hidup. Ia memprediksi bahwa tampilan visual nan sederhana dan minimalis mungkin bakal segera berganti ketika ada tren estetika baru nan muncul.
“Yang mungkin berubah sigap adalah frugal living sebagai tren estetika,” katanya. Namun, dia meyakini bahwa praktik konsumsi logis bakal tetap tinggi. Kesadaran untuk melakukan budgeting bukan lagi sekadar gaya-gayaan, melainkan strategi memperkuat hidup nan logis di tengah bumi nan perubahannya sangat cepat. (Ant/Z-1)
Frugal living dalam konteks ini dipandang sebagai corak penyesuaian masyarakat urban terhadap ketidakpastian ekonomi, di mana efisiensi menjadi nilai utama dalam mencapai stabilitas finansial jangka panjang.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·