Seorang nelayan ikan sapu-sapu, Zaenudin (39), sukses mempertahankan kehidupan keluarganya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada masa pandemi COVID-19. Selama enam tahun terakhir, dia menggantungkan penghasilan dari mencari ikan sapu-sapu di wilayah Tangerang Selatan dan sekitar.
Setiap hari, Zaenudin memulai aktivitasnya sejak pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, dia biasanya bisa mengumpulkan hingga satu karung ikan sapu-sapu dengan berat sekitar 50 kilogram.
Ia menuturkan bahwa pekerjaan sebagai pencari ikan sapu-sapu bukan perihal baru di lingkungannya di area Bogor. Banyak penduduk setempat nan menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan tersebut. Bahkan, pekerjaan ini telah menjadi mata pencaharian turun-temurun di keluarganya.
“Dari kakek saya, bapak saya, sampai sekarang saya, semua menggantungkan hidup dari ikan sapu-sapu,” ujarnya.
Hasil tangkapan tersebut kemudian dijual dengan nilai berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram untuk daging ikan. Sementara itu, telur ikan sapu-sapu mempunyai nilai jual lebih tinggi, ialah antara Rp 18.000 hingga Rp 30.000 per kilogram.
Menurut penuturan Zaenudin, hasil tangkapan ikan sapu-sapu nan dia kumpulkan setiap hari juga mempunyai pasar tersendiri. Ia menyebut, para konsumennya kerap memanfaatkan daging ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan untuk beragam hewan peliharaan, mulai dari ikan hias seperti arwana, hingga bebek dan anjing.
Sementara itu, bagian telur ikan sapu-sapu mempunyai nilai guna nan berbeda. Telur tersebut biasanya dibeli untuk dijadikan campuran pelet, nan digunakan sebagai umpan oleh para pemancing. Bagi para penghobi memancing, campuran ini dipercaya lebih efektif untuk menarik perhatian ikan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·