Tengkorak dan gigi Parabos tigneresi dari Camp dels Ninots.(Sorbelli dkk., 2026, PLOS One)
JAUH sebelum manusia menapakkan kaki di benua Eropa, sebuah jenis mamalia raksasa bertanduk besar pernah merajai area rimba basah di wilayah nan sekarang dikenal sebagai Katalonia, Spanyol. Hewan purba berjulukan Parabos tigneresi ini diperkirakan hidup sekitar 4,4 million tahun nan lampau pada masa Pliosen Awal.
Kini, berkah penemuan fosil nan terawetkan secara luar biasa di sebuah waduk vulkanik purba berjulukan Camp dels Ninots, para intelektual sukses mengungkap tabir kehidupan dan karakter bentuk dari kerabat antik sapi modern ini.
Dalam bumi paleontologi, menemukan fosil utuh dari periode Pliosen adalah perihal nan sangat langka lantaran sebagian besar sisa-sisa hewan purba biasanya ditemukan dalam kondisi hancur alias terpisah. Namun, situs Camp dels Ninots memberikan pengecualian nan berharga. Selama lebih dari 20 tahun kerja keras nan penuh ketelitian, tim peneliti sukses mengidentifikasi 14 perseorangan Parabos tigneresi, di mana delapan di antaranya ditemukan dalam kondisi nyaris komplit dengan posisi tulang nan tetap sesuai aslinya.
Berdasarkan kajian perkiraan berat, Parabos tigneresi bukanlah hewan rimba nan kecil. Peneliti memperkirakan berat rata-rata satwa ini mencapai 419 kilogram. Individu nan lebih mini mempunyai berat sekitar 378 kilogram, sementara spesimen terbesar apalagi menyentuh berat nyaris 500 kilogram (sekitar 481 kilogram). Ukuran tersebut menjadikannya sebagai hewan golongan bovid (keluarga sapi dan antelop) terbesar nan pernah dikenal di Eropa pada zamannya, dengan ukuran tubuh nan setara dengan kerbau Afrika mini alias bongo raksasa.
Uniknya, perbedaan ukuran tanduk antara jantan dan betina pada jenis ini tergolong sangat tipis. Tidak seperti kebanyakan kerabat sapi modern di mana tanduk jantan jauh lebih dominan, baik Parabos tigneresi jantan maupun betina sama-sama mempunyai tanduk nan kokoh dan mengesankan.
Struktur anatomi tulang kaki hewan ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak didesain untuk berlari sigap di padang rumput nan terbuka. Sebaliknya, corak kaki mereka dirancang untuk melangkah di atas tanah nan lembut, basah, dan berlumpur di sekitar tepian waduk vulkanik alias sungai tanpa takut tenggelam terlalu dalam. Sesuai dengan kondisi lingkungan Camp dels Ninots kala itu nan hangat dan lembap, wilayah tersebut dikelilingi oleh rimba lebat di dekat sumber air.
Selain itu, corak gigi mereka mengindikasikan Parabos tigneresi mempunyai pola makan campuran. Mereka bukan pemakan daun murni, namun juga bukan ahli pemakan rumput. Satwa ini mengonsumsi dedaunan, tunas tanaman muda, sekaligus menyantap rumput saat tersedia.
Meskipun penelitian nan diterbitkan dalam jurnal PLOS One ini sukses menjawab banyak perihal mengenai corak bentuk dan style hidupnya, satu misteri besar mengenai garis keturunan evolusinya tetap belum terpecahkan. Para intelektual tetap memperdebatkan apakah jenis ini merupakan nenek moyang awal nan membuka jalan bagi kemunculan sapi, bison, dan kerbau modern, ataukah mereka merupakan bagian family antik nan punah tanpa sisa namun sempat berevolusi mengembangkan ciri-ciri bentuk nan mirip dengan sapi.
Terlepas dari misteri tersebut, penemuan ini memberikan info berbobot nan sangat melimpah mengenai anatomi hewan purba bagi bumi sains. Keberadaan fosil-fosil di waduk vulkanik ini seolah membuka jendela waktu untuk memandang kondisi alam liar Eropa sebelum dihuni oleh manusia. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·