Fondasi Perputaran Roda Ekonomi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Fondasi Perputaran Roda Ekonomi, sumber: AI

"Mengapa selembar kertas dapat ditukar dengan semangkuk bakso, satu liter bensin, alias apalagi sebuah rumah?"

Jawabannya bukan lantaran kertas itu mahal. Bukan pula lantaran tinta nan tercetak di atasnya mempunyai nilai istimewa. nan membikin selembar Rupiah begitu berbobot adalah sesuatu nan tidak dapat disentuh, tidak dapat ditimbang, dan tidak dapat dihitung dengan penggaris. Namanya adalah kepercayaan.

Setiap kali kita menerima duit dari kasir, pedagang, alias mesin ATM, kita nyaris tidak pernah bertanya apakah duit itu bakal diterima kembali oleh orang lain. Kita langsung percaya. Kepercayaan nan sederhana itulah nan membikin miliaran transaksi berjalan setiap hari tanpa hambatan.

Lantas nan menjadi pertanyaan selanjutnya, gimana jika kepercayaan itu mulai dipalsukan?

Nilai nan Tidak Tercetak

Sering kali kita mengira bahwa nilai Rupiah berasal dari nomor nan tercetak pada selembar uang. Padahal sesungguhnya, nomor hanyalah simbol. Nilai sebenarnya lahir dari kepercayaan bahwa duit tersebut sah, diakui negara, dan dipercaya oleh seluruh masyarakat sebagai perangkat pembayaran.

Karena itulah, pemalsuan duit bukan sekadar tindak kejahatan nan merugikan individu. Dampaknya jauh lebih besar. Ia berupaya merusak fondasi nan membikin sistem pembayaran dapat melangkah dengan baik, ialah kepercayaan publik terhadap Rupiah.

Bayangkan jika masyarakat mulai ragu setiap kali menerima duit tunai. Pedagang bakal memeriksa setiap lembar duit lebih lama. Pembeli menjadi waswas. Transaksi melambat. Bahkan rasa saling percaya nan selama ini menjadi pelumas aktivitas ekonomi perlahan dapat terkikis.

Dengan kata lain, nan dipalsukan bukan hanya Rupiah. nan ikut dipalsukan adalah rasa kondusif dalam bertransaksi.

Benteng Pertahanan Pertama

Karena itulah, perang melawan duit tiruan tidak dapat dimenangkan oleh Bank Indonesia alias abdi negara penegak norma saja. Benteng pertahanan pertama justru berada di tangan masyarakat.

Selama bertahun-tahun, Bank Indonesia berbareng Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (BOTASUPAL), Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Agung, serta beragam kementerian dan lembaga terus memperkuat upaya pencegahan dan pemberantasan Rupiah palsu. Namun keberhasilan upaya tersebut tetap berjuntai pada satu perihal sederhana: masyarakat nan mengenali duit Rupiah dengan baik.

Karena itu, Bank Indonesia terus mengedukasi masyarakat melalui metode 3D—Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Langkah sederhana tersebut membantu masyarakat mengenali karakter keaslian Rupiah melalui warna, gambar, benang pengaman, tanda air, hingga tekstur cetak nan khas. Semakin banyak masyarakat bisa mengenali keaslian Rupiah, semakin sempit pula ruang mobilitas pelaku pemalsuan.

Di era digital sekalipun, edukasi tersebut tetap relevan. Sebab meskipun transaksi nontunai terus berkembang, duit kartal tetap menjadi bagian krusial dalam kehidupan masyarakat, khususnya di beragam wilayah nan aktivitas ekonominya tetap didominasi transaksi tunai.

Menjaga nan Tidak Terlihat

Menariknya, pekerjaan menjaga kepercayaan nyaris selalu tidak terlihat. Ketika kita menerima Rupiah tanpa rasa khawatir, kita jarang memikirkan berapa banyak pihak nan bekerja di baliknya. Mulai dari proses pencetakan nan mempunyai standar keamanan tinggi, pengedaran ke seluruh pelosok negeri, edukasi kepada masyarakat, hingga penegakan norma terhadap pelaku pemalsuan.

Semua itu dilakukan agar masyarakat dapat melakukan sesuatu nan tampak sederhana: bertransaksi dengan tenang.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah mata duit tidak hanya ditentukan oleh desainnya nan bagus alias teknologi pengamannya nan canggih. Kekuatan itu lahir dari kepercayaan nan terus dijaga, hari demi hari, oleh negara dan seluruh masyarakatnya.

Karena itu, menjaga Rupiah dari pemalsuan sesungguhnya bukan hanya tentang melindungi selembar uang. Ia adalah menjaga kepercayaan nan memungkinkan jutaan orang bertransaksi setiap hari tanpa rasa curiga.

Ketika kepercayaan itu retak, nan kehilangan nilai bukan hanya selembar Rupiah. Melainkan fondasi nan membikin roda perekonomian terus berputar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan