Ilustrasi LUBANG hitam supermasif (supermassive black holes).(Dok. Magnific)
LUBANG hitam supermasif (supermassive black holes) selama ini dikenal sebagai objek paling rakus di alam semesta nan melahap apa pun di sekitarnya. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan kebenaran mengejutkan: objek raksasa ini rupanya bisa "bersendawa" dalam corak semburan gelombang radio, apalagi bertahun-tahun setelah mereka selesai menyantap sebuah bintang.
Fenomena unik ini dianalogikan oleh para intelektual sebagai "sendawa kosmik" alias corak gangguan pencernaan pasca-makan. Temuan tersebut dipaparkan oleh astronom dari University of Arizona, Kate Alexander, dan telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi, The Astrophysical Journal.
Mengenal Fenomena Tidal Disruption Event (TDE)
Peristiwa hancurnya bintang oleh lubang hitam dikenal dalam bumi astronomi sebagai Tidal Disruption Event (TDE). Fenomena ini terjadi ketika sebuah bintang melintas terlalu dekat dengan lubang hitam supermasif nan berada di pusat galaksi.
Tarikan gravitasi nan ekstrem menyebabkan bintang tersebut tercabik-cabik menjadi aliran gas panjang dalam proses nan disebut spaghettification. Material bintang nan hancur kemudian membentuk cakram gas di sekitar lubang hitam sebelum akhirnya ditelan secara bertahap.
TDE merupakan peristiwa nan sangat langka. Para astronom memperkirakan kejadian ini hanya terjadi sekitar satu kali dalam 100.000 tahun di sebuah galaksi.
Semburan Radio nan Terlambat
Selama ini, pengamatan terhadap TDE biasanya dihentikan jika tidak ditemukan sinyal radio dalam satu tahun pertama. Namun, menggunakan teleskop Karl G. Jansky Very Large Array (VLA) di New Mexico, Amerika Serikat, para peneliti melakukan pemantauan jangka panjang selama enam tahun terhadap puluhan TDE.
Hasilnya mengejutkan: sekitar 40 persen TDE rupanya memancarkan gelombang radio beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah peristiwa penghancuran bintang terjadi. Emisi radio ini muncul justru ketika sinar tampak dari peristiwa tersebut sudah lama meredup.
"Para astronom sebelumnya mungkin berakhir mengawasi terlalu cepat, sehingga melewatkan beragam kejadian menarik nan justru terjadi pada tahap akhir," ujar Alexander sebagaimana dikutip dari laman Space.
Penyebab "Sendawa" Kosmik
Berdasarkan kajian terhadap 31 peristiwa TDE dengan info paling lengkap, tim peneliti menemukan bahwa semburan radio muncul pada dua kondisi ekstrem:
- Saat lubang hitam melahap gas dalam jumlah besar dengan sangat cepat.
- Saat laju konsumsi material sudah melambat secara drastis.
Dalam kedua situasi tersebut, tidak semua material bintang sukses ditelan. Sebagian gas justru terlontar keluar dengan kecepatan tinggi dan berbenturan dengan materi di sekitarnya. Tabrakan inilah nan menghasilkan gelombang kejut, mempercepat partikel berenergi tinggi, dan menciptakan emisi radio nan dapat dideteksi dari Bumi.
Penemuan ini memberikan perspektif baru bagi para intelektual mengenai siklus hidup dan perilaku lubang hitam supermasif, membuktikan bahwa aktivitas mereka jauh lebih kompleks daripada sekadar "penyedot debu" ruang angkasa nan pasif. (Space/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·