Fenomena El Nino Menguat, WMO Minta Negara-Negara Tingkatkan Kesiapsiagaan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Fenomena El Nino Menguat, WMO Minta Negara-Negara Tingkatkan Kesiapsiagaan Warga menyejukkan diri di air mancur umum untuk mengatasi suhu tinggi selama gelombang panas ekstrem nan memicu peringatan di 17 kota di seluruh negeri, di Milan, Italia, Kamis (25/6/2026).(Anadolu/Andrea Carrubba)

ORGANISASI Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan serius mengenai fenomena El Nino nan diperkirakan bakal berkembang pesat menjadi kategori kuat selama periode Juli hingga September 2026. Kondisi ini berpotensi memicu cuaca ekstrem di beragam bagian dunia, mulai dari gelombang panas hingga curah hujan nan tidak menentu.

Dalam pembaruan resmi nan dirilis pada 3 Juli, badan suasana PBB tersebut menyatakan bahwa El Nino telah mulai terbentuk di area Pasifik tropis. Fenomena nan ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ini diprediksi bakal terus menguat dalam beberapa bulan ke depan.

"Kondisi El Nino telah berkembang di Pasifik tropis dan diperkirakan bakal menguat dengan cepat, meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem di banyak bagian dunia," tulis pernyataan resmi WMO, Senin (6/7).

Ilmuwan suasana WMO, Alvaro Silva, mengungkapkan bahwa anomali suhu permukaan laut rata-rata musiman diperkirakan bakal melampaui periode pemisah 2 derajat Celsius. Meskipun puncak El Nino biasanya terjadi antara November hingga Februari, dampaknya diprediksi bakal terasa hingga akhir tahun 2026, apalagi meluas sampai tahun 2027.

WMO juga menyoroti akibat besar pada sektor pertanian dan kesehatan. Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan pentingnya peningkatan sistem peringatan awal untuk memitigasi akibat bencana. "Ini bakal meningkatkan kemungkinan kekeringan, curah hujan lebat, serta akibat gelombang panas di darat maupun di laut," ujar Saulo.

Proyeksi saat ini menunjukkan pola curah hujan nan kontras di beragam wilayah. Sebagian wilayah barat daya Amerika Serikat berpotensi mengalami curah hujan tinggi, sementara India dan Australia justru diperkirakan menghadapi curah hujan di bawah rata-rata nan memicu akibat kekeringan.

Dampak nyata mulai terlihat di beberapa negara, salah satunya Peru. Pemerintah setempat telah menetapkan status darurat selama 60 hari di 800 wilayah administratif sejak 2 Juli akibat ancaman hujan deras dan tanah longsor nan menakut-nakuti lebih dari 9,3 juta penduduknya.

WMO menegaskan bahwa meskipun belum ada bukti ilmiah perubahan suasana meningkatkan gelombang El Nino, pemanasan dunia diyakini memperkuat akibat kejadian ini. Atmosfer nan lebih hangat menyediakan daya lebih besar bagi terjadinya cuaca ekstrem nan lebih merusak. (Fer/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia