Fakta-Fakta Amukan Trump ke Raksasa NATO, Tarik Pasukan-Eropa Terancam

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump memenuhi janjinya untuk memangkas penempatan militer Amerika Serikat (AS) di Jerman, sebuah langkah nan sekarang menempatkan peran Washington di Eropa dalam sorotan tajam.

Mengutip laporan The Associated Press pada Selasa, (5/5/2026), Pentagon mengumumkan bakal menarik 5.000 tentara dari Jerman, namun Trump menegaskan bahwa dia bakal bertindak "jauh lebih jauh" dari jumlah tersebut.

Biasanya terdapat 80.000 hingga 100.000 tentara AS di benua Eropa, dengan lebih dari 36.000 di antaranya berada di Jerman. Kehadiran militer ini merupakan warisan Perang Dunia II dan Perang Dingin sebagai tembok pertahanan melawan ekspansi Soviet, namun sekarang peran tersebut meluas untuk mendukung operasi di Arktik, Afrika, hingga Timur Tengah, termasuk bentrok nan tengah berjalan dengan Iran.

Keputusan Trump ini memutus konsensus bipartisan selama bertahun-tahun nan mendukung komitmen keamanan di Eropa. Ketegangan memuncak setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik pedas pekan lampau dengan menyebut AS tengah "dipermalukan" oleh Iran dan menuduh Washington tidak mempunyai strategi nan jelas.

Postur Pertahanan AS di Eropa

Komando Eropa AS (EUCOM) nan dibentuk sejak 1947 mencakup sekitar 50 negara dan wilayah. Selain puluhan ribu personel di Jerman, Italia menampung lebih dari 12.000 tentara dan Inggris mempunyai sekitar 10.000 tentara berasas info Pentagon. Meski rencana penarikan sudah diumumkan, pihak Pentagon tetap memberikan sedikit rincian mengenai unit alias operasi mana nan bakal terdampak.

AS sebenarnya sempat meningkatkan penempatan pasukannya di Eropa setelah Rusia meluncurkan perang skala penuh terhadap Ukraina empat tahun lalu. Sekutu NATO seperti Jerman telah menduga selama lebih dari setahun bahwa pasukan tambahan inilah nan bakal menjadi pihak pertama nan angkat kaki.

Peran Global Penempatan Eropa

Selain sebagai pencegah agresi Rusia, kehadiran militer AS di Eropa membantu Washington memproyeksikan kekuatan secara dunia lantaran jarak nan lebih pendek ke wilayah bentrok lainnya. Komandan pasukan AS dan NATO di Eropa, Jenderal Alexus Grynkewich, menegaskan faedah jejak militer nan kuat di benua tersebut dalam kesaksiannya di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Maret lalu.

"Memiliki keahlian dan amunisi di Eropa memungkinkan kita membantu Komando Afrika AS untuk menargetkan teroris di Afrika, alias membantu Komando Pusat AS saat mereka melaksanakan Operasi Epic Fury (perang Iran). Jaraknya lebih pendek, lebih murah, dan jauh lebih mudah untuk memproyeksikan kekuatan," ujar Grynkewich.

Jerman saat ini menjadi markas bagi Komando Eropa dan Afrika AS, Pangkalan Udara Ramstein, serta pusat medis Landstuhl. Selain itu, AS diperkirakan menempatkan sekitar 100 peledak nuklir di pangkalan-pangkalan Eropa, termasuk Jerman, Italia, Belgia, Belanda, dan Turki, nan dirancang untuk dikirim melalui pesawat udara.

Desakan Memindahkan Pasukan ke Timur

Rencana penarikan ini memicu kekhawatiran dari para pemimpin Partai Republik di Kongres. Senator Roger Wicker dari Mississippi dan Perwakilan Mike Rogers dari Alabama memperingatkan bahwa pengurangan pasukan nan prematur bakal memberikan "sinyal nan salah kepada Vladimir Putin."

Wicker dan Rogers beranggapan bahwa pasukan semestinya dipindahkan ke pangkalan di Eropa Timur, bukan ditarik sepenuhnya, mengingat investasi besar nan telah dilakukan sekutu untuk menjamu tentara AS. Akibat keputusan ini, Pentagon juga membatalkan rencana penempatan batalion artileri jarak jauh Angkatan Darat AS nan mengoperasikan sistem rudal peluncur darat ke Jerman.

Visi Trump: Pertahanan Mandiri Eropa

Dalam Strategi Pertahanan Nasional nan diumumkan Januari lalu, pemerintahan Trump menekankan bahwa Eropa kudu melakukan lebih banyak untuk pertahanannya sendiri. Dokumen tersebut menyatakan bahwa meski AS tetap terlibat, prioritas utama sekarang bergeser pada pertahanan tanah air AS dan pencegahan terhadap China.

Strategi tersebut mencatat bahwa kekuatan ekonomi Jerman sendiri sebenarnya jauh melampaui Rusia. Trump juga memimpin dorongan agar sekutu NATO meningkatkan shopping pertahanan nasional mereka menjadi 5% dari PDB, sebuah nomor nan sangat signifikan dibanding target-target sebelumnya.

Upaya Jerman Memperkuat Militer

Menanggapi situasi ini, Jerman mulai memodernisasi militernya alias Bundeswehr nan lama terabaikan. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Berlin menyiapkan biaya unik sebesar 100 miliar euro alias setara US$117 miliar (Rp2.018 triliun) untuk pengadaan peralatan baru.

Pemerintahan Kanselir Merz juga berencana meningkatkan jumlah personel militer menjadi 260.000 orang dari saat ini sekitar 180.000 orang. Menteri Pertahanan Boris Pistorius mengakui bahwa Eropa memang kudu memikul tanggung jawab lebih besar atas keamanannya sendiri.

"Eropa kudu mengambil tanggung jawab lebih besar atas keamanannya sendiri. Bundeswehr tengah berkembang, peralatan militer sedang dibeli lebih cepat, dan prasarana sedang dikembangkan," kata Pistorius kepada instansi buletin Jerman, dpa.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News