Belakangan ini, sejumlah peristiwa nan menyita perhatian publik turut mempengaruhi kondisi emosional para ibu. Mulai dari dugaan penganiayaan di daycare di Yogyakarta dan Aceh, hingga tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam, nan melibatkan banyak korban perempuan, termasuk ibu. Situasi ini memicu rasa cemas, takut, apalagi marah nan tidak jarang terasa berlebihan.
Menurut Little Shine Montessori School & Little Shine Psychological Services, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, respons emosional tersebut merupakan perihal nan wajar. Secara psikologis, ibu condong mempunyai empati dan sistem identifikasi nan kuat, membayangkan bahwa kejadian serupa bisa terjadi pada diri sendiri alias anaknya.
“Situasi seperti kecelalaan KRL dan Kejahatan di daycare memang sangat memicu respons emosional nan kuat, terutama bagi para Ibu,” ucap Jovita kepada kumparanMOM, Kamis (30/4).
Cara Mengelola Emosi di Tengah Kabar nan Memicu Kecemasan
Berikut beberapa langkah nan bisa dilakukan:
1. Validasi emosi, jangan ditekan
Akui bahwa emosi nan muncul adalah perihal nan wajar. Menyadari “Saya sedang resah lantaran ini menyentuh saya sebagai ibu” bisa membantu otak memproses emosi dengan lebih sehat dibandingkan menolaknya.
2. Batasi paparan informasi
Terlalu sering memandang buletin alias video berulang dapat memperkuat kecemasan. Tentukan waktu unik untuk pembaruan informasi.
“Dan hindari konsumsi berlebihan, terutama dari sumber nan tidak terverifikasi,” katanya.
3. Fokus pada perihal nan bisa dikontrol
Alihkan perhatian pada hal-hal nan bisa dilakukan, seperti memastikan keamanan anak, berkomunikasi dengan pengasuh alias sekolah, serta memberikan edukasi sederhana pada anak.
4. Salurkan emosi secara konstruktif
Emosi perlu dikeluarkan dengan langkah nan sehat, seperti menulis jurnal, berbagi cerita dengan orang terpercaya, melakukan aktivitas bentuk ringan, alias latihan pernapasan.
5. Bangun rasa kondusif secara bertahap
Lakukan teknik grounding sederhana, seperti menarik napas perlahan alias menyadari lingkungan sekitar, untuk membantu pikiran kembali konsentrasi pada kondisi saat ini.
6. Perkuat support sosial
Berbagi dengan sesama ibu dapat memberikan rasa tidak sendirian. Namun, krusial untuk menjaga agar obrolan tetap sehat dan tidak memperburuk kecemasan.
7. Waspadai tanda kelelahan emosional
Jika mulai susah tidur, mudah marah, alias merasa kewalahan, itu bisa menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran memerlukan istirahat.
“Atau merasa kewalahan, itu tanda perlu jarak dan mungkin support profesional,” sambungnya.
8. Cari support ahli jika diperlukan
Jika emosi terasa sangat berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog.
Pada akhirnya, kunci dari pengelolaan emosi bukanlah menghilangkannya, melainkan memahami dan mengolahnya dengan baik. Dengan begitu, ibu tetap bisa datang secara utuh untuk diri sendiri maupun keluarga, meski di tengah situasi nan penuh tekanan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·