Emirat Arab Percepat Pipa Minyak Baru Hindari Blokade Selat Hormuz oleh Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Emirat Arab Percepat Pipa Minyak Baru Hindari Blokade Selat Hormuz oleh Iran Ilustrasi.(Magnific)

EMIRAT Arab resmi mengumumkan percepatan pembangunan pipa minyak strategis baru sebagai langkah darurat untuk menghindari Selat Hormuz nan tengah diblokade. Langkah ini diambil guna memastikan kelancaran ekspor daya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di area Teluk.

Perusahaan minyak negara, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyatakan bakal mempercepat proyek pipa minyak West-East. Jalur ini membentang dari ladang minyak Habshan di barat daya Abu Dhabi langsung menuju Pelabuhan Fujairah nan terletak di pesisir Teluk Oman.

Solusi di Tengah Blokade Iran

Selat Hormuz, nan biasanya menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, efektif ditutup oleh Iran sejak bentrok pecah pada akhir Februari lalu. Penutupan ini memaksa negara-negara Teluk mencari rute pengganti guna mengurangi gangguan pengedaran daya global.

ADNOC mengungkapkan bahwa pipa tersebut sebenarnya sudah dalam proses konstruksi. Namun, dengan percepatan ini, akomodasi tersebut ditargetkan mulai beraksi pada 2027. Meskipun demikian, pihak perusahaan tidak merinci agenda penyelesaian sebelum ada kebijakan percepatan ini.

Signifikansi Strategis Pelabuhan Fujairah:

  • Lokasi Aman: Kapal tanker tidak perlu memasuki Selat Hormuz untuk mencapai Fujairah lantaran posisinya menghadap langsung ke Teluk Oman.
  • Kapasitas Ekspor: Pipa baru ini diproyeksikan bakal melipatgandakan kapabilitas ekspor Emirat. Saat ini, pipa nan ada (sejak 2012) hanya bisa mengangkut 1,5 juta barel per hari, kurang dari separuh total ekspor normal ADNOC.
  • Titik Rawan: Karena peran vitalnya, Fujairah sempat menjadi sasaran serangan rudal Iran awal bulan ini nan menyebabkan salah satu kilang minyak terbakar.

Dampak pada Harga Minyak Dunia

Konflik dan blokade ini memicu lonjakan tajam nilai minyak mentah di pasar internasional. Para pedagang bereaksi terhadap penurunan drastis volume ekspor dari negara-negara Teluk nan selama ini berjuntai pada Selat Hormuz.

Berdasarkan info pasar pada Jumat (15/5/2026), minyak mentah Brent berada di level US$109 per barel. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan nilai sebelum bentrok nan berada di kisaran US$66 per barel.

Ketergantungan Negara Teluk

Saat ini, hanya Emirat dan Arab Saudi nan mempunyai prasarana pipa untuk mengekspor minyak mentah tanpa melewati Selat Hormuz. Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Kuwait, Irak, Qatar, dan Bahrain tetap sangat berjuntai pada jalur perairan sempit tersebut untuk pengiriman komoditas mereka.

Pipa minyak Emirat sekarang menjadi salah satu rute paling krusial di Timur Tengah. Para produsen minyak diperkirakan bakal semakin berjuntai pada jalur darat ini untuk mengimbangi gangguan nan disebabkan oleh penutupan jalur laut utama bumi tersebut. (The Telegraph/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia