Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyampaikan orasi ilmiah dalam rangkaian Wisuda dan Dies Natalis ke-63 Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.
Di hadapan ribuan wisudawan, Eddy membahas posisi Indonesia di tengah pusaran disrupsi global, termasuk tantangan dan kesempatan nan dihadapi generasi muda.
Dalam paparannya, Eddy mengatakan Indonesia saat ini berada dalam situasi dunia nan penuh perubahan besar di beragam bidang, mulai dari teknologi, kesehatan, geopolitik, hingga lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut sejarah bumi telah mencatat beragam momentum besar nan mengubah tatanan global, seperti revolusi industri, perang dunia, revolusi digital, perkembangan kepintaran buatan, hingga pandemi COVID-19. Menurutnya, bumi sekarang kembali menghadapi tekanan akibat bentrok geopolitik, krisis energi, dan ancaman krisis iklim.
"Perlu ditegaskan bahwa disrupsi nan terjadi saat ini mempunyai karakter nan jauh lebih cepat, luas, dan berakibat simultan di beragam sektor," ujar Eddy dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
"Perang di Timur Tengah dan ketegangan dunia telah mengganggu rantai pasok daya dan industri. Dampaknya terasa langsung pada kenaikan nilai beragam komoditas, termasuk energi, pangan, hingga transportasi," katanya.
Eddy juga menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan daya nasional. Ia menilai Indonesia saat ini menghadapi tantangan lantaran daya fosil tetap mendominasi, sementara transisi menuju daya bersih tidak bisa terus ditunda.
"Produksi migas nasional perlu ditingkatkan, tetapi di saat nan sama, transisi daya kudu dipercepat. Elektrifikasi, bioenergi, serta pengembangan daya baru seperti hidrogen dan nuklir menjadi bagian dari solusi jangka panjang," tegasnya.
Selain itu, Eddy menilai perubahan dunia juga bakal memengaruhi struktur pasar kerja. Ia mengatakan transisi daya berpotensi melahirkan industri hijau dan lapangan kerja baru alias green jobs, namun perihal itu menuntut kesiapan sumber daya manusia.
"Reskilling dan upskilling menjadi keharusan. Dunia pendidikan kudu terhubung erat dengan kebutuhan industri melalui konsep link and match," jelasnya.
Di akhir orasinya, Eddy membujuk generasi muda untuk memandang disrupsi sebagai peluang, bukan semata ancaman.
"Para pemenang adalah mereka nan bisa beradaptasi cepat, jeli memandang peluang, dan tetap berprestasi di tengah ketidakpastian. Jangan pernah capek mencintai Indonesia dan berkontribusi di bagian masing-masing," tutupnya.
Turut datang dalam aktivitas tersebut Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur Watubun, dan Sekda Provinsi Maluku Ir. Sadali.
(akd/ega)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·