Ebola Jadi Darurat Internasional, Pengamat Soroti Risiko Penularan dari Jemaah Haji dan Umrah

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Ebola Jadi Darurat Internasional, Pengamat Soroti Risiko Penularan dari Jemaah Haji dan Umrah Ilustrasi(Dok Magnific)

PENELITI Global Health Security, Dicky Budiman, menilai pemerintah tidak perlu menutup total perbatasan negara menyusul penetapan pandemi ebola sebagai darurat kesehatan masyarakat nan meresahkan bumi (PHEIC). Menurutnya, konsentrasi utama justru kudu diarahkan pada penguatan pengawasan penularan, terutama terhadap jemaah haji dan umrah serta pelaku perjalanan internasional.

"Pemerintah tidak perlu melakukan penutupan total perbatasan, tapi standar penguatan alias adanya skrining pintu masuk negara memang kudu dijaga kualitas dan pengelolaannya," kata Dicky saat dihubungi, Minggu (17/5).

Ia menekankan surveilans epidemiologi di beragam pintu masuk internasional kudu diperketat, termasuk di bandara, pelabuhan, jalur migrasi, serta terhadap jemaah haji dan umrah nan berpotensi menjadi golongan dengan mobilitas tinggi.

Surveilans epidemiologi di pintu masuk internasional bandara, pelabuhan, jalur migrasi, jemaah haji juga umrah, dan pelaku perjalanan internasional dari Afrika kudu sudah dijaga secara ekstra dan tertata dari saat ini sampai ke depan.

Selain pengawasan mobilitas internasional, pemerintah juga diminta memastikan skrining berbasis akibat melangkah optimal, terutama terhadap pelaku perjalanan dengan riwayat kunjungan dalam 21 hari terakhir nan menunjukkan indikasi tertentu.

Kemudian juga tentu kudu dipastikan terjaga juga tentang skrining berbasis akibat nan konsentrasi pada riwayat perjalanan 21 hari dengan indikasi demam akut, pendarahan, alias kontak dengan pasien ebola, dan paparan satwa liar juga kudu ada skrining.

Penguatan kesiapsiagaan di dalam negeri juga dinilai penting, mulai dari kesiapan laboratorium hingga sistem penanganan pasien dan tenaga kesehatan.

Untuk penguatan di dalam negeri, kudu pastikan kesiapan laboratorium BSL-3 dan BSL-4, keahlian juga PCR Filovirus dengan diagnostik nan cepat, dan juga tentu sistem transport spesimen nan biohazard.

Selain itu, tentu kesiapan rumah sakit rujukan nan tentu perlu simulasi outbreak, audit Infection Prevention and Control, kesiapan APD juga ruang isolasi tekanan negatif, dan juga tentu refreshing dari tenaga kesehatan dalam training ini.

"Karena banyak pelajaran di masa pandemi, negara itu kandas bukan lantaran virusnya terlalu kuat melainkan sebenarnya lantaran sistem kesehatan terlambat bereaksi," ungkap dia.

Dicky juga mengingatkan bahwa penanganan ebola perlu menggunakan pendekatan one health nan menghubungkan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Dicky menambahkan jika bicara ebola, maka pendekatannya adalah one health sama seperti menanggulangi kasus hantavirus, dan covid-19 bahwa pendekatan kesehatan lingkungan, manusia, dan hewan.

"Karena Ebola bukan hanya masalah pada manusia, tapi berangkaian dengan penggundulan hutan, pembalakan hutan, fragmentasi habitat, hubungan manusia dan satwa, perdagangan satwa liar, perubahan iklim, dan juga pemanfaatan tambang dan rimba tropis," sebut dia.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO menetapkan pandemi ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai PHEIC. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mencatat terdapat 13 kasus ebola terkonfirmasi. Selain itu, sebanyak 246 kasus belum terkonfirmasi telah diidentifikasi, sementara otoritas setempat tetap menyelidiki kemungkinan kematian mengenai pandemi terhadap 65 orang lainnya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑