DPR: Blok Masela Harus Hadirkan Manfaat Nyata bagi Ketahanan Energi Nasional

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
 Blok Masela Harus Hadirkan Manfaat Nyata bagi Ketahanan Energi Nasional Ilustrasi(Dok Istimewa)

SETELAH nyaris tiga dasawarsa tertunda, proyek raksasa Lapangan Abadi Blok Masela akhirnya memasuki fase baru. Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo optimistis keterlibatan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina bakal menjadi aspek krusial dalam mempercepat pengembangan proyek strategis tersebut sekaligus memaksimalkan manfaatnya bagi ketahanan daya nasional.

Optimisme itu disampaikan Sartono menyusul peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku oleh Presiden Prabowo Subianto, pekan lalu.

Sebelumnya, proyek ini sempat tertunda selama 28 tahun sejak perjanjian bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Setelah penantian panjang itu, Blok Masela memasuki babak baru seiring masuknya PHE dengan kewenangan partisipasi sebesar 20% pada 2023. Keikutsertaan Pertamina memberikan dorongan terhadap persetujuan revisi Plan of Development (POD) dari Pemerintah pada November 2023.

Menurutnya, masuknya PHE sebagai pemegang kewenangan partisipasi 20% membuka kesempatan lebih besar bagi peningkatan peran industri nasional, transfer teknologi, hingga pembuatan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
“PHE berpotensi memberi kontribusi besar lantaran mempunyai pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional,” kata Sartono, Senin (20/7/2026). 

Menurut dia, kehadiran PHE di Blok Masela memang kudu menghasilkan nilai tambah, bukan hanya kepemilikan saham. Maka itu, kontribusi PHE nan mempunyai kewenangan partisipasi 20% di lapangan kekal ini kudu terukur.
Pada fase bangunan misalnya, dia menyebut, peran besar PHE dapat dilakukan melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Juga, melalui keterlibatan industri nasional, transfer teknologi, dan pengendalian biaya proyek berbobot investasi US$20,94 miliar tersebut. 
Harapan besar Sartono terhadap peran PHE, juga lantaran mempunyai SDM kompeten. Karena itu, diharapkan PHE mempunyai keahlian mengembangkan aspek teknis, lingkungan, dan komersial.

Hanya saja Sartono mengingatkan Blok Masela merupakan proyek LNG kelas bumi nan menuntut standar ESG dan daya saing komersial tinggi. Dalam kondisi demikian, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memastikan proyek tetap kompetitif di pasar LNG global. “Karena itu, penguatan kerjasama teknologi dan tata kelola menjadi kunci,” tegas Sartono. 

Sartono menambahkan dengan potensi persediaan gas mencapai 18,54 TCF dan kapabilitas produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, Blok Masela diharapkan bisa memperkuat ketahanan energi, penerimaan negara, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian Timur.

“Kita tentu bangga. Namun, kebanggaan itu kudu dibuktikan melalui faedah nyata bagi rakyat, ialah pasokan gas untuk industri dan kelistrikan dalam negeri. Bukan hanya keberhasilan membangun proyek alias meningkatkan ekspor LNG,” ujarnya.

Terpisah, personil Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha juga menilai positif keterlibatan Pertamina lewat PHE dalam pengelolaan Blok Masela. Selain berpotensi meningkatkan produksi migas nasional, kebaradaan PHE di blok itu membikin Indonesia sangat diuntungkan lantaran mendapatkan double split alias pembagian produksi ganda. Pertama dari bagian untuk negara dan kedua dari PHE. “Jadi positif banget ini,” jelas Satya.

Karena itu, Satya berharap, proyek ini bisa melangkah lancar. Terlebih, sebelum groundbreaking, proyek sempat tertunda hingga 27 tahun. “Ya, kita doakan lancar. Karena kan sudah terlambat lama,” ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo meresmikan peletakan batu pertama alias groundbreaking PSN Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku, Kamis (16/7). Peresmian itu menandai dimulainya fase baru pengembangan persediaan gas raksasa tersebut setelah sempat tertunda 28 tahun sejak perjanjian bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, PSN LNG Abadi Masela menyumbang penerimaan negara hingga US$37,8 miliar.
“Proyek Abadi Masela diproyeksikan memberikan faedah ekonomi dan fiskal signifikan, antara lain meningkatkan penerimaan negara dengan proyeksi pendapatan langsung sekitar US$37,8 miliar,” ujar Bahlil dalam aktivitas Groundbreaking PSN LNG Abadi Masela di Tanimbar, Maluku.
Di sisi lain, kontribusi pajak tidak langsung diperkirakan mencapai sekitar US$6,43 miliar.

Lapangan gas dengan potensi persediaan mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) tersebut merupakan PSN dengan nilai investasi sekitar US$20,9 miliar alias setara Rp352 triliun. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia