Doraemon dan Antitesis Jargon Villain Adalah Orang Baik yang Tersakiti

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Ilustrasi Doraemon. Foto: Dream Story/Shutterstock

Jika Joker jenis Joaquin Phoenix adalah corak nyata "orang jahat adalah orang baik nan tersakiti", maka Doraemon adalah gambaran gimana mengampuni masa lampau nan menyakitkan tak membuatmu jadi lebih lemah dan merana.

Tepat hari ini di masa depan, 3 September 2112, Doraemon hanya satu dari ratusan robot bernomor seri MS-903 nan diciptakan di Pabrik Matsushiba. Robot-robot ini diciptakan sebagai pengasuh anak dan pembantu rumah tangga.

Sialnya, golongan pidana Time Bandits nan kabur dari kejaran Polisi Waktu terbang melintas atas pabrik. Pertarungan keduanya memicu gelombang kejut listrik nan langsung menyambar Doraemon nan tetap berada di mesin perakitan, melepaskan satu bautnya, dan nyaris membuatnya jatuh ke tungku peleburan.

Ia mungkin sukses selamat setelah ditolong Noramyako, robot penari elok nan kelak jadi kekasih pertama sekaligus gadis pertama nan mematahkan hatinya. Tapi satu baut nan lenyap membikin Doraemon jadi "produk gagal" nan diobral murah: kurang pintar, pelupa, lebih ceroboh.

Doraemon awal Foto: Dok. Istimewa

Dari awal Doraemon sudah menghadapi beragam penolakan. Karena "cacat", dia kudu masuk kelas unik (tokubetsu kurasu) di Akademi Robot sebelum bisa dilepas ke pasar. Setelah sukses lulus dengan nilai pas-pasan, Doraemon siap dilepas ke pasar melalui sebuah lelang.

Saat robot-robot canggih lain langsung terbeli oleh family kaya, Doraemon tetap berdiri tak dilirik, nyaris tak laku terjual. Setelah dibeli secara tak sengaja oleh family Sewashi, cicit Nobita Nobi, pun kesialan Doraemon tak lantas berhenti.

Karena sebuah insiden, kupingnya digigit robot tikus. Ia sempat dibawa ke klinik, namun kejadian lain membuatnya kehilangan telinga. Kekasihnya nan terkejut memandang penampakan baru Doraemon nan "botak" pun mencampakkannya.

Percaya alias tidak, dalam movie "2112: The Birth of Doraemon" nan dirilis tahun 1995, depresi berat tak hanya membuatnya menangis dan mengubah cat tubuhnya dari kuning ceria jadi biru. Rasa sedih nan begitu mendalam apalagi membuatnya nyaris mengakhiri hidup di laut!

Scene pipa beton Doraemon. Foto: doraemon.fandom.com

Dengan masa lampau nan kelam, kegagalan bertubi-tubi, dan "tubuh nan tak lagi utuh" tak lantas membikin Doraemon terpuruk, mendendam, dan memilih menjadi jahat. Doraemon tetap memilih menjadi robot pendamping nan bersahabat.

Padahal jika Doraemon memilih mengikuti emosi gelapnya, dia tak perlu repot-repot meneror orang di kereta bawah tanah, menyekap rekan di apartemen, alias melakukan pemberontak di ibu kota seperti nan Joker lakukan. Cukup masuk bilik telepon ajaib, realitas seluruh bumi bisa diganti seketika.

Dengan Dictactor Switch, Doraemon bisa saja menyebut nama siapa saja nan pernah menyakiti dan mem-bully-nya saat tetap di sekolah robot. Dan voila, orang itu bakal lenyap seketika. Doraemon apalagi sebenarnya punya peledak pemusnah bumi dalam kantong ajaibnya nan bisa dia gunakan kapan saja.

Tapi Doraemon tak begitu. Ia memilih tetap menjaga dan mendampingi Sewashi dengan setia. Bahkan ketika Sewashi meminta Doraemon menemani leluhurnya, Nobita Nobi, demi memutus beban utang tujuh turunan, dia tetap jadi robot pendamping nan baik dan setia.

Ilustrasi Doraemon. Foto: MergeIdea/Shutterstock

Sama seperti kita, Doraemon mungkin tak sempurna dan banyak kekurangan. Sama seperti kita, hidup Doraemon mungkin tak melangkah seperti rencana. Sama seperti kita, Doraemon mungkin tak selalu berjumpa orang dan situasi nan baik.

Tapi Doraemon justru mengajarkan kita, seburuk apa pun hal-hal nan terjadi hari ini, tak pernah ada argumen untuk berubah menjadi villain di masa depan.

Selamat jelang ulang tahun, Doraemon!

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan