Banyak pasangan mempunyai angan tertentu mengenai jenis kelamin calon bayinya. Tak sedikit pula nan mencoba beragam cara, mulai dari mengatur pola makan hingga menentukan waktu berasosiasi intim, dengan angan bisa mendapatkan bayi laki-laki alias perempuan. Namun, benarkah cara-cara tersebut terbukti secara ilmiah?
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, SpOG, menjelaskan bahwa jenis kelamin bayi pada dasarnya memang ditentukan oleh sperma nan berasal dari ayah.
Jenis Kelamin Bayi Ditentukan oleh Sperma Ayah
Menurut dr. Andrew, wanita hanya mempunyai kromosom seks XX sehingga seluruh sel telurnya selalu membawa kromosom X. Sementara itu, laki-laki mempunyai kromosom XY sehingga spermanya dapat membawa kromosom X alias kromosom Y.
Saat proses pembuahan terjadi, kromosom dari sperma bakal berjumpa dengan kromosom X dari sel telur.
-Sperma berkromosom X + sel telur X = XX (bayi perempuan)
-Sperma berkromosom Y + sel telur X = XY (bayi laki-laki)
“Karakteristik sperma Y adalah nan bergerak cepat, namun lebih rentan sehingga lama hidupnya diperkirakan lebih pendek, tidak lebih daripada 24 jam,” ucap dr. Andrew kepada kumparanMOM.
Mitos: Makanan dan Waktu Berhubungan Bisa Menentukan Jenis Kelamin Bayi
Di masyarakat beredar beragam mitos tentang langkah mendapatkan bayi dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya, mengonsumsi makanan tertentu, mengubah pola hidup, alias memilih waktu unik untuk berasosiasi intim.
Namun, menurut dr. Andrew, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah nan menunjukkan bahwa makanan, style hidup, maupun waktu berasosiasi intim dapat memengaruhi jenis kelamin bayi.
Beberapa pasangan juga tetap mempercayai teori bahwa berasosiasi intim tepat saat ovulasi bakal meningkatkan kesempatan mempunyai anak laki-laki. Teori ini didasarkan pada dugaan bahwa kondisi memek nan lebih basa lebih mendukung sperma berkromosom Y.
Sebaliknya, ada pula dugaan bahwa berasosiasi intim satu alias dua hari sebelum ovulasi dapat meningkatkan kesempatan mempunyai anak wanita lantaran kondisi memek dianggap lebih masam dan lebih mendukung sperma berkromosom X.
“Namun hanya sedikit bukti ilmiah nan mendukung teori ini sehingga persentase berhasilnya tidak tinggi,” ujar dr. Andrew.
Adakah Cara Memilih Jenis Kelamin Bayi?
Menurut dr. Andrew, andaikan pasangan mau meningkatkan kesempatan mendapatkan jenis kelamin tertentu, salah satu metode nan mempunyai kesempatan lebih tinggi adalah sperm sorting nan dilakukan dalam program fertilisasi intrauterin (IUI).
Sementara itu, metode dengan tingkat kepastian paling tinggi adalah program bayi tabung (IVF) nan dikombinasikan dengan Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A). Melalui pemeriksaan tersebut, kromosom embrio dapat dianalisis sebelum dipindahkan ke dalam rahim sehingga jenis kelamin embrio sudah diketahui.
Meski demikian, prosedur tersebut dilakukan berasas indikasi medis maupun pertimbangan tertentu sesuai rekomendasi dokter, bukan semata-mata untuk memenuhi preferensi jenis kelamin bayi ya, Moms.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·