DOKTER ahli anestesiologi dan terapi intensif Siloam Hospitals, dr. Andreas Willianto.(Dok. Antara)
DOKTER ahli anestesiologi dan terapi intensif Siloam Hospitals, dr. Andreas Willianto, mengungkapkan bahwa indikasi seperti baal dan kesemutan merupakan indikasi awal adanya gangguan saraf tepi. Kondisi ini sering kali disertai rasa seperti tersetrum, kelemahan, hingga gangguan mobilitas pada area leher, bahu, lengan, tangan, maupun tungkai.
Menurut dr. Andreas, keluhan pada area bahu dan lengan dapat berangkaian erat dengan beragam masalah saraf tepi, mulai dari cedera akibat trauma, gangguan pada pleksus brakialis, penjepitan saraf, nyeri saraf kronis, hingga tumor saraf tepi.
"Keluhan pada saraf tepi memerlukan pemeriksaan menyeluruh untuk menemukan cedera saraf. Sebab gangguan saraf tepi dapat memengaruhi keahlian seseorang untuk beraktivitas dan hidup mandiri," ujar dr. Andreas di Tangerang, Kamis (20/8/2026).
Saraf tepi sendiri berfaedah sebagai penghubung antara otak dan sumsum tulang belakang dengan beragam bagian tubuh lainnya. Jaringan ini berkedudukan krusial dalam membawa sensasi sentuhan, panas, dingin, dan nyeri, serta meneruskan perintah motorik untuk bergerak. Jika saraf mengalami tekanan alias cedera, penghantaran sinyal tersebut bakal terganggu.
Penanganan Melalui Bedah Saraf Tepi
Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals, dr. Ferry Senjaya, menjelaskan bahwa salah satu solusi medis untuk kondisi ini adalah Peripheral Nerve Surgery alias bedah saraf tepi. Prosedur operasi ini bermaksud untuk memperbaiki, melepaskan, menyambungkan, alias mengalihkan saraf nan rusak di luar sistem saraf pusat.
"Pada kondisi tertentu, saraf dapat diperbaiki melalui operasi mikro dengan menyambungkan kembali ujung saraf, menggunakan nerve graft/conduit, dan melakukan neurolysis untuk membebaskan saraf nan terjepit," jelas dr. Ferry.
Pentingnya Rehabilitasi Medik
Selain tindakan bedah, proses pemulihan juga melibatkan rehabilitasi medik. Dokter ahli kedokteran bentuk dan rehabilitasi, dr. Theresia D. Arini, menekankan bahwa rehabilitasi bermaksud untuk mempertahankan keahlian bentuk nan tetap baik sekaligus melatih kembali kegunaan nan menurun.
Program rehabilitasi mencakup latihan gerak, penguatan otot, pengelolaan nyeri, hingga latihan aktivitas sehari-hari. Durasi latihan sangat berjuntai pada jenis gangguan, tindakan medis nan telah dijalani, serta perkembangan kondisi pasien.
"Pemulihan saraf tidak selalu berjalan cepat. Karena itu, sasaran rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi pasien dan dievaluasi secara berkala. Fokusnya dapat berubah, mulai dari mengatasi keluhan nyeri, menjaga kekuatan otot dan elastisitas sendi hingga memperbaiki postur dan mencapai kemandirian," pungkas dr. Theresia. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·