Dokter Aman Pulungan: Terapi Hormon Pertumbuhan Anak Harus Berdasarkan Diagnosis Medis

Sedang Trending 56 menit yang lalu
 Terapi Hormon Pertumbuhan Anak Harus Berdasarkan Diagnosis Medis DOKTER ahli anak subspesialis endokrinologi, Prof. Aman Bhakti Pulungan.(Dok. Antara)

DOKTER ahli anak subspesialis endokrinologi, Prof. Aman Bhakti Pulungan, menekankan bahwa penerapan terapi hormon pertumbuhan pada anak wajib didasarkan pada pemeriksaan medis nan akurat. Ia menegaskan bahwa prosedur ini tidak boleh dilakukan semata-mata hanya untuk menambah tinggi badan tanpa indikasi kesehatan nan jelas.

Dalam aktivitas jumpa media daring di Jakarta, Rabu (22/7), Prof. Aman menjelaskan bahwa terapi hormon pertumbuhan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, namun kudu disesuaikan dengan penyebab spesifik dari gangguan pertumbuhan tersebut.

"Kalau memang ada gangguan pertumbuhan dan bisa diterapi, tentu anak mempunyai kesempatan nan lebih besar untuk mengembangkan potensinya," ujar lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Peluang Pertumbuhan dan Pentingnya Diagnosis

Prof. Aman memaparkan bahwa tinggi badan anak tetap mempunyai kesempatan untuk bertambah hingga usia sekitar 17–18 tahun, terutama bagi mereka nan mengalami keterlambatan pubertas. Ia memberikan contoh pemain sepak bola Lamine Yamal, nan tinggi badannya tetap menunjukkan pertumbuhan pada usia 17 tahun.

Bagi anak nan terdiagnosis mengalami gangguan pertumbuhan sejak masa balita, terapi hormon dapat diberikan sesuai dengan indikasi medis. Prof. Aman, nan telah berilmu selama 30 tahun menangani pasien terapi hormon, menggarisbawahi bahwa ketepatan pemeriksaan adalah kunci utama.

"Yang terpenting adalah diagnosis. Begitu penyebabnya diketahui, terapinya bisa diberikan sesuai kondisi anak," tegasnya.

Terapi Sesuai Penyebab Spesifik

Lebih lanjut, Prof. Aman menjelaskan bahwa tidak semua anak bertubuh pendek memerlukan terapi hormon pertumbuhan. Penanganan medis kudu merujuk pada masalah mendasar nan dialami anak, misalnya:

  • Gangguan Hormon Tiroid: Diberikan terapi hormon tiroid.
  • Kelainan Tulang: Menjalani terapi untuk memperkuat struktur tulang.
  • Keterlambatan Pubertas: Menjalani terapi hormon reproduksi sesuai indikasi.

Ia juga meluruskan persepsi masyarakat nan sering kali hanya mengaitkan tubuh pendek dengan kekurangan gizi. Padahal, kondisi tersebut bisa dipicu oleh masalah hormon alias kondisi medis lainnya.

Risiko Pemberian Nutrisi Berlebihan

Sebagai peringatan bagi orang tua, Prof. Aman mengingatkan agar tidak memberikan makanan berkalori dan berprotein tinggi secara berlebihan dengan angan anak bisa tumbuh lebih tinggi. Jika tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, pola makan tersebut justru berakibat buruk.

Konsumsi kalori dan protein nan berlebihan tanpa pengawasan medis dapat memicu kelebihan berat badan hingga obesitas. Kondisi ini, menurutnya, justru bakal mendatangkan beragam masalah kesehatan baru bagi anak di masa depan. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia