(MI/Duta)
IBADAH haji ke Tanah Suci merupakan tanggungjawab bagi setiap muslim nan mempunyai keahlian (istitha’ah). Namun, krusial dipahami bahwa keahlian dalam kaitan ibadah haji tidak hanya berangkaian dengan biaya, kekuatan fisik, dan bekal selama di Tanah Suci. Ibadah haji juga mensyaratkan kesiapan mental spiritual.
Yang juga tak kalah krusial adalah agunan keamanan, baik dari negara asal jemaah haji maupun negeri nan dikenal sebagai pelayan dua kota suci (khadimul haramain), ialah Kerajaan Arab Saudi. Jaminan keamanan krusial lantaran pada musim haji 1447 H/2026 M, bumi diwarnai peperangan.
Dalam kondisi itu, nan kudu diutamakan tentu menjaga keselamatan jiwa (hifdz al-nafs). Untuk itulah Allah menegaskan ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang nan bisa melaksanakan perjalanan ke Baitullah (QS Ali ‘Imran: 97). Setiap jemaah haji juga wajib membawa bekal terbaik, ialah bertakwa (QS Al-Baqarah: 197).
Modal ketakwaan itulah nan bakal menjamin setiap jemaah bisa memahami makna sekaligus pesan krusial dari setiap tahapan ibadah haji. Setiap jemaah haji juga kudu meneladani karakter Nabi Ibrahim, sebagai figur sentral dalam rangkaian ibadah haji. Ingat, prosesi ibadah haji pada intinya adalah menapaktilasi jejak Ibrahim dan keluarganya.
KEUTAMAAN IBADAH HAJI
Bagi setiap muslim, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci merupakan dambaan. Bahkan bagi mereka nan sudah berhaji sekalipun, gairah untuk beragama ke Tanah Suci tetap tinggi. Senantiasa muncul kerinduan untuk sekali lagi dan sekali lagi berkunjung ke Tanah Suci. Selain untuk menyempurnakan rukun Islam, ibadah haji memberikan pengalaman keagamaan nan krusial dan mendalam.
Karena itulah, dapat dipahami jika antusiasme umat untuk menjalankan ibadah haji selalu menggelora. Semangat umat menunaikan rukun Islam kelima itu pula nan menjadikan antrean calon jemaah haji (CJH) terus mengular. Dampaknya, daftar tunggu CJH mencapai puluhan tahun.
Menurut info Kementerian Haji dan Umrah, bahwa pada 2026 antrean CJH di sejumlah wilayah mencapai 20-30 tahun. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan antrean CJH mencapai 45-50 tahun. Antrean CJH nan panjang menandakan dua hal. Pertama, antusiasme umat untuk beragama sangat tinggi. Bukan hanya untuk berhaji, antusiasme umat menunaikan ibadah umrah juga luar biasa.
Kedua, antrean panjang dari CJH itu juga menunjukkan kesejahteraan umat semakin membaik. Hal itu disebabkan untuk memperoleh porsi antrean ibadah haji seseorang kudu mendaftarkan diri melalui bank-bank mitra pemerintah dengan menyetor duit puluhan juta rupiah. Antrean CJH tidak hanya terjadi untuk haji reguler. Haji plus dengan biaya ratusan juta rupiah pun kudu mengantre 5-10 tahun.
Dalam menghadapi antrean nan panjang itu rasanya tidak ada pilihan lain. Semua CJH nan mengantre puluhan tahun kudu tetap bersabar. Itulah makna bahwa ibadah haji memang panggilan Allah. Bersabar hingga pada saatnya betul-betul dipanggil sebagai tamu-tamu Allah (wafdullah). Panggilan sebagai tamu Allah jelas sangat menyentuh hati nurani.
Dengan panggilan itu berfaedah Allah nan bakal menjadi tuan rumah perjumpaan jutaan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia. Karena itulah, dikatakan bahwa jemaah haji berjamu ke Baitullah (rumah Allah). Sebagai tuan rumah, Allah nan bakal menyambut, melayani, serta memberikan rasa kondusif dan nyaman bagi jemaah haji.
Bangunan Kabah (Baitullah) nan menghadap ke semua penjuru juga melambangkan bahwa Allah bakal menjamu siapa pun nan datang dan dari negara mana pun, tanpa memandang latar belakang ideologi, mengerti keagamaan, etnik, dan kelas sosial ekonominya. Allah tidak membedakan siapa pun jemaah haji nan datang, selain berasas level ketakwaannya.
Keutamaan lain dari ibadah haji juga dapat dipahami dalam beberapa sabda Nabi SAW. Nabi berfirman bahwa ibadah haji nan diterima Allah (mabrur) pahalanya tiada lain selain surga. Rasul juga menegaskan bahwa haji nan dilakukan dengan betul (tidak melakukan rafats dan fasiq) bakal membikin dia bersih dari segala dosa laksana baru dilahirkan dari rahim ibunya.
DIMENSI SPIRITUAL
Pemikir asal Iran, Ali Shariati (1933-1977), dalam kitab berjudul Hajj (2005), mengilustrasikan ibadah haji laksana sebuah pertunjukan. Pernyataan Shariati tentu tidak berlebihan jika kita memperhatikan protokoler ibadah haji. Jika diamati secara saksama, penyelenggaraan rukun Islam kelima itu memang laksana sebuah pertunjukan. Namun, bukan pagelaran biasa, melainkan pagelaran akbar lantaran melibatkan jutaan umat.
Dalam pagelaran akbar itu, Allah SWT menjadi sutradara. Tokoh-tokoh nan kudu diperankan adalah Adam, Ibrahim, Hajar, dan Syetan. Lokasi utamanya di sekitar Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Tanah Haram, Kabah, Shafa, Marwa, Arafah, Muzdalifah, Mina, dan tempat berhistoris lainnya. Simbol-simbol nan krusial diperhatikan adalah siang, malam, mentari terbit, mentari tergelincir, mentari terbenam, berkurban, tahalul (mencukur rambut), dan berhala.
Baju kebesaran nan kudu dipakai adalah busana ihram, ialah dua lembar kain putih tanpa jahitan (untuk pria) dan busana menutup aurat (untuk wanita). Pakaian ihram melambangkan kesucian dan kesetaraan di hadapan Allah SWT. Penting ditegaskan bahwa pemain utama dari seluruh pagelaran akbar itu adalah setiap jemaah haji sendiri. Setiap pemain dituntut untuk memainkan peran dengan penuh penghayatan.
Apabila dihayati dengan saksama, prosesi ibadah haji pasti dapat mengantarkan setiap pribadi dalam kehidupan nan diwarnai kesadaran mengenai keberadaan Allah. Rumah Allah (Kabah) nan mengarah ke semua penjuru melambangkan bahwa Allah berada di mana saja. Tatkala kesadaran itu muncul, setiap jemaah haji termotivasi untuk mencium batu hitam (hajar aswad), alias minimal melambaikan tangan ke arah Kabah.
Saat itulah setiap jemaah haji merasakan kedekatannya dengan Allah. Tanpa disadari air mata pun tumpah sebagai bentuk rasa syukur lantaran dapat memenuhi panggilan Allah untuk berjamu ke Kabah. Pertanyaannya, dapatkah setiap jemaah haji menghayati peran nan dimainkannya? Untuk menjawab pertanyaan itu memang tidak mudah. Pasti dibutuhkan penelitian mendalam.
Namun, umumnya jemaah haji sukses memainkan peran dalam pagelaran akbar itu. Salah satu indikatornya tidak ada jemaah haji nan merasa 'kapok' alias minimal menyesal berangkat ke Tanah Suci. nan terjadi justru kemauan untuk senantiasa dipanggil sebagai tamu-tamu Allah. Setiap tamu Allah pasti selalu terkenang tatkala melaksanakan prosesi ibadah haji di Tanah Suci.
Selalu terbayang tatkala dia mengelilingi Kabah (tawaf), melangkah mondar-mandir antara Bukit Shafa dan Marwa (sai), berkumpul dan bermunajat di hamparan nan luas padang Arafah (wukuf), bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina, melontar dengan batu-batu mini (jumrah), menggunting alias mencukur rambut (tahalul), dan mencium batu hitam (hajar aswad).
Khusus jemaah haji laki-laki juga ada ketentuan nan kudu dipatuhi. Di antaranya menggunakan busana ihram, dua helai kain putih nan tidak berjahit. Pada saat tertentu juga tidak diperkenankan untuk menggunakan dasar kaki nan menutup mata kaki. Jika busana ihram telah dikenakan, tidak boleh lagi bersolek. Bersisir, menggunting kuku, dan mencabut bulu, andaikan dilakukan saat berpakaian ihram, bakal dikenai denda.
Terlebih lagi jika bercumbu, membunuh binatang, dan mencabut tanaman. Semua larangan itu kudu dipatuhi lantaran Allah semata. Hanya dengan menyerahkan diri seutuhnya pada Allah, para jemaah bakal memahami peran nan dimainkan dalam keseluruhan prosesi ibadah haji. Itulah makna spiritual nan susah dilupakan sekaligus menjadi pengalaman keagamaan terpenting dari siapa pun nan menunaikan ibadah haji.
PESAN KEMANUSIAAN
Pakaian kebesaran jemaah haji, ialah kain ihram nan serbaputih dan tidak berjahit itu, menandakan semua orang mempunyai kedudukan sama di hadapan Allah. Dimensi kemanusiaan nan disimbolkan melalui busana ihram itu sangat penting.
Rasulullah dalam pidato perpisahannya tatkala menunaikan ibadah haji wada’ (haji perpisahan) juga menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan nan banget mengharukan. Rasulullah bersabda: “Wahai umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang nan berkulit merah (putih) terhadap nan berkulit hitam, tidak ada kelebihan nan berkulit hitam dengan nan berkulit merah (putih), selain derajat ketakwaanya.” (HR Ahmad).
Secara keseluruhan ibadah haji juga tidak dapat dilepaskan dari figur sentral, ialah Nabi Ibrahim. Bahkan, dikatakan bahwa ibadah haji tidak dapat dipahami dengan baik tanpa mengenali sosok dan karakter Nabi Ibrahim. Di antara keistimewaan Kekasih Allah (Khalilullah) itu adalah bahwa melalui Nabi Ibrahim kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji alias tumbal dibatalkan Allah.
Allah lantas mengganti Ismail nan bakal disembelih Nabi Ibrahim dengan hewan sembelihan nan besar (QS Al-Shaffat: 100-107). Hal itu terjadi bukan lantaran manusia terlalu mulia untuk dikorbankan, melainkan lantaran kasih sayang Allah semata. Jika Allah berkehendak, apa pun nan kita miliki kudu diserahkan. Bahkan nyawa pun mesti diserahkan jika Allah sudah menentukan kapan kita kembali (QS Al-Baqarah: 156).
Karena itulah, perintah berkurban (al-udlhiyah) dalam rangkaian ibadah haji krusial ditunaikan. Jika dilacak secara historis, berkurban merupakan ibadah nan paling awal diperintahkan Allah pada manusia. Hal itu dapat dipahami dari perintah Allah pada anak-anak Nabi Adam, ialah Qabil dan Habil. Allah memerintahkan pada keduanya untuk berkurban dengan kurban nan terbaik.
Qabil dan Habil lantas berkurban dengan langkah masing-masing. Kurban Habil diterima lantaran keikhlasannya. Sebaliknya, kurban Qabil ditolak. Akibatnya, muncul kedengkian dari Qabil hingga berujung pada pembunuhan terhadap Habil. Kisah pengorbanan sekaligus pembunuhan pertama di muka bumi dalam sejarah peradaban manusia itu diabadikan dalam Al-Qur’an (QS Al-Ma’idah: 27-31).
Kisah penyembelihan Ismail nan kemudian diganti dengan hewan sembelihan mengajarkan pentingnya komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Melalui ibadah kurban, umat diperintahkan untuk membantu sesama tanpa memandang latar belakang sosial, agama, etnik, dan golongan. Di samping sebagai corak pengabdian pada Allah, perintah untuk berkurban mempunyai pesan-pesan kemanusiaan nan kuat.
Hal itu tecermin pada aliran untuk menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada mereka nan berhak. Di negeri tercinta nan tergolong rawan musibah ini daging hewan kurban tentu sangat bermanfaat. Mereka nan terdampak oleh bencana, baik musibah alam maupun musibah kemanusiaan, pasti memerlukan asupan makanan nan sehat dan bergizi.
Kebermanfaatan daging korban bakal bertambah jika jemaah haji asal Indonesia menyembelih hewan dam (denda) haji di Tanah Air. Pada konteks itulah krusial dipahami keputusan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah nan menetapkan pentingnya pengalihan letak penyembelihan hewan dam haji dari Tanah Haram ke Tanah Air.
Keputusan Muhammadiyah tersebut bukan saja berlandasan kajian nan mendalam terhadap nas-nas syar’i dan ijtihad ulama. Fatwa itu juga mempertimbangkan kemaslahatan umat nan lebih besar dan menghindari kemubaziran daging hewan dam di Tanah Suci.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·