Diaspora dan Asa Indonesia Menuju Piala Dunia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Diaspora dan Asa Indonesia Menuju Piala Dunia Basuki Eka Purnama Wartawan Media Indonesi(MI/Seno)

KEBERHASILAN Folarin Balogun mencetak dua gol untuk timnas Amerika Serikat (AS) saat melibas Paraguai 4-1 di laga pembuka Piala Dunia 2026 membuktikan satu perihal bahwa globalisasi sepak bola tidak lagi bisa dibendung.

Balogun, nan lahir di Brooklyn dari seorang ibu berdarah Inggris (yang kala itu tengah berjamu sementara), berkuasa memihak AS berkah kewenangan kebangsaan berasas tempat lahir (birthright citizenship).

Meski tumbuh besar di Inggris dan punya opsi memihak Nigeria, komitmennya untuk AS pada 2023 justru menjadi senjata mematikan sekaligus memicu debat imigrasi nan panas di 'Negeri Paman Sam'.

Fenomena Balogun hanyalah puncak gunung es. Jika kita memandang daftar pemain nan berkompetensi di Piala Dunia 2026, turnamen ini dipenuhi oleh para pemain nan memihak negara berbeda dari asal etnik alias tanah kelahiran orangtua mereka. Hampir seperempat pemain di turnamen jenis ini merupakan bagian dari diaspora global.

Di timnas Prancis, trio penyerang mereka adalah pemain keturunan. Kylian Mbappe mempunyai ayah berdarah Kamerun dan ibu Aljazair. Ousmane dembele berdarah Mali, Mauritania, dan Senegal. Adapun Michael Olise lahir di Inggris dan berderah Nigeria.

Timnas Maroko mempunyai Achraf Hakimi dan Brahim Diaz nan lahir di Spanyol serta Noussair Mazraoui dan Sofyan Amabat nan lahir di Belanda. Bahkan ‘Singa Atlas’ mencatatkan sejarah dengan menurunkan 11 pemain inti nan semuanya lahir di luar negeri pada salah satu laga.

Di timnas lain, Jerman mempunyai Jamal Musiala (ayah Nigeria, ibu Jerman, besar di Inggris), Spanyol ada Lamine Yamal, dan Inggris punya Bukayo Saka. Begitu juga Kanada, AS, dan Austalia, mereka mempunyai pemain berdarah keturunan.

Negara-negara itu menjadi bukti nyata bahwa merangkul diaspora adalah strategi instan nan sangat sah demi mendongkrak prestasi di level dunia.

Tren dunia ini diadopsi dengan sangat masif dan terstruktur oleh PSSI. Langkah strategis mengumpulkan talenta diaspora berdarah Indonesia terbukti sukses menciptakan lonjakan prestasi nan masif.

Saat ini timnas Indonesia mempunyai pemain keturunan nan telah dinaturalisasi, ialah Maarten Paes, Emil Audero, Jay Idzes, Jordi Amat, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, Calvin Verdonk, Justin Hubner, Kevin Diks, Dean James, Mees Hilgers, Eliano Reijnders, Thom Haye, Ivar Jenner, Nathan Tjoe-A-On, Marc Klok, Jens Raven, Joey Pelupessy, Rafael Struick, Ole Romeny, dan Mauro Zijlstra.

Dua nama lagi bakal segera menyusul, ialah Luke Vickery dan Mitchell Baker, nan baru saja mendapat lampu hijau naturalisasi dari DPR RI pada Juni 2026.

Lewat racikan strategi nan matang serta kombinasi solid antara pemain lokal dan diaspora, timnas Indonesia sukses mencatatkan sejarah emas dengan mencapai babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 area Asia.

Pencapaian tersebut bukanlah akhir, melainkan sebuah fondasi kokoh. Kehadiran para pemain keturunan ini tidak hanya meningkatkan kualitas permainan, tetapi juga mendongkrak mentalitas bertanding skuad Garuda di panggung internasional.

Meski perjalanan menuju putaran final Piala Dunia 2026 tetap kudu diperjuangkan lewat jalan terjal, fondasi tim nan sudah terbentuk saat ini menyalakan api optimisme nan luar biasa.

Jika konsistensi pembinaan akar rumput melangkah beriringan dengan pemanfaatan diaspora berbakat, bukan perihal nan mustahil timnas Indonesia bakal tampil gagah sebagai kontestan resmi pada Piala Dunia 2030 mendatang. Merah Putih sudah semakin dekat dengan panggung dunia.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia