Ilustrasi IHSG.(Antara)
PENELITI Ekonomi GREAT Institute Ani Asriyah menilai kehadiran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad berbareng jejeran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sinyal support negara terhadap pasar modal di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dasco menyambangi gedung BEI pada Selasa (19/5) berbareng CEO Danantara Rosan Roeslani dan COO Danantara Dony Oskaria. Kedatangan mereka disambut Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi serta jejeran dewan BEI.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah langkah konkret untuk menjaga kepercayaan penanammodal dunia dan penanammodal ritel domestik di tengah tekanan pasar saham dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Ani menegaskan bahwa dugaan nan mengaitkan pelemahan IHSG dengan kunjungan Dasco merupakan kajian nan keliru. Menurut dia, tekanan di pasar saham telah terjadi sejak awal perdagangan, apalagi sebelum rombongan tiba di gedung BEI.
“Pasar sudah berada dalam tekanan apalagi sebelum rombongan tiba di gedung BEI. Karena itu, tidak tepat jika pelemahan IHSG hari ini dikaitkan dengan kunjungan Pak Dasco,” ujar Ani dalam keterangannya, Rabu (20/5).
Ia menambahkan, kehadiran ketua DPR, OJK, dan Danantara justru bermaksud menjaga optimisme dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Berdasarkan catatan GREAT Institute, IHSG dibuka di level 6.599 dan sempat turun ke kisaran 6.565 pada awal perdagangan sebelum akhirnya ditutup di level 6.370 alias melemah 3,46 persen dibanding hari sebelumnya.
Ani menjelaskan, setidaknya terdapat tiga aspek utama nan menekan pasar saham domestik. Pertama, akibat rebalancing MSCI nan mencoret sejumlah emiten Indonesia dari indeks dunia standar dan small-cap lantaran persoalan konsentrasi kepemilikan dan transparansi.
Selain itu, FTSE Russell juga mengumumkan penghapusan sejumlah saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi serta menunda full index re-ranking dan penambahan saham baru Indonesia hingga September 2026.
Faktor lainnya adalah pelemahan parameter makroekonomi, termasuk depresiasi rupiah nan menembus level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan 19 Mei 2026. Sentimen negatif juga datang dari rumor ekspor satu pintu nan bergulir di Kementerian ESDM.
Dalam situasi tersebut, Ani menilai kehadiran pejabat negara di BEI krusial untuk memperkuat persepsi pasar terhadap koordinasi dan kesungguhan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi.
“Kehadiran ketua DPR, OJK, dan Danantara di BEI memberi pesan bahwa pemerintah dan otoritas tidak abai terhadap tekanan pasar,” kata Ani.
GREAT Institute juga menilai pernyataan Dasco selepas kunjungan menunjukkan arah nan konstruktif. Dasco optimistis pasar modal Indonesia bakal semakin kuat ditopang pertumbuhan penanammodal ritel, esensial ekonomi nan dinilai tetap baik, dan penyempurnaan izin untuk meningkatkan kenyamanan penanammodal domestik.
Ke depan, GREAT Institute mendorong pemerintah, OJK, dan BEI mempercepat reformasi pasar modal, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham, penyesuaian patokan free float, serta penguatan kredibilitas pasar demi meningkatkan daya saing Indonesia di mata penanammodal global. (Cah/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·