Di SKB, Anak-Anak Putus Sekolah Mendapat Ruang Menggapai Harapan

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring dari kediamannya di Jakarta, Minggu (20/9/2026). Foto: Kemensos RI

Harapan untuk kembali mengenyam pendidikan tumbuh di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna Bengkulu. Bagi anak-anak nan sebelumnya tidak sekolah, putus sekolah, alias belum memperoleh kesempatan belajar, SKB menjadi ruang untuk kembali membuka jalan menuju cita-cita.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan, keberadaan SKB menjadi salah satu upaya negara untuk memastikan anak-anak dari family kurang bisa tetap memperoleh kesempatan berguru dan membangun masa depan.

“Melalui SKB, anak-anak kita nan tadinya tidak sekolah, putus sekolah, alias belum sekolah, akhirnya bisa berguru kembali. Ini adalah corak kerjasama antara Kementerian Sosial dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memberikan ruang kepada mereka membangun kembali harapan,” ujarnyansaat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring di kediamannya di Jakarta, Minggu (20/9/2026).

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring dari kediamannya di Jakarta, Minggu (20/9/2026). Foto: Kemensos RI

Menurut Agus Jabo, pendidikan mempunyai peran esensial memutus transmisi kemiskinan. Karena itu, upaya mengembalikan anak-anak nan terputus dari pendidikan tidak cukup dilakukan oleh satu institusi, tetapi memerlukan kerja berbareng beragam pihak.

Ia menyebut tetap terdapat jutaan anak nan belum bersekolah, sementara aspek ekonomi menjadi salah satu argumen family tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran negara untuk memastikan anak-anak dari family miskin tetap mempunyai akses terhadap pendidikan.

“Jalur pendidikan adalah sarana nan paling esensial untuk memutus transmisi kemiskinan. Tugas kita berbareng adalah menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak ini untuk mewujudkan apa nan menjadi cita-cita hidupnya dan angan orang tuanya,” katanya.

Bagi Agus Jabo, setiap anak mempunyai potensi nan dapat berkembang andaikan diberikan kesempatan. Ia menegaskan, latar belakang family tidak menentukan keahlian seorang anak untuk berprestasi.

“Anak-anakku adalah anak-anak nan hebat, nan butuh peluang, nan butuh ruang untuk membuktikan dan memunculkan kehebatan kalian menjadi sesuatu nan bisa memberikan kebahagiaan dan harapan, terutama bagi kalian dan orang tua kalian,” tutur Agus Jabo.

Kehadiran SKB juga menjadi pelengkap di tengah pengembangan Sekolah Rakyat. Dengan keterbatasan daya tampung Sekolah Rakyat dibandingkan jumlah anak nan memerlukan jasa pendidikan, SKB menjadi salah satu ruang nan dapat menampung anak-anak nan belum memperoleh kesempatan belajar melalui jalur tersebut.

Agus Jabo mengatakan, negara perlu memastikan tidak ada anak nan kehilangan kesempatan berguru hanya lantaran kondisi ekonomi keluarganya.

“Kalau nan bisa bisa berguru dengan biaya sendiri, nan tidak bisa negara nan kudu mengantarkan mereka, menjemput mereka. Di sinilah pentingnya kita semua bergotong royong dan bekerja-sama antara lembaga agar seluruh anak Indonesia bisa berguru dan mewujudkan angan mereka,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Jabo juga menyampaikan apresiasi kepada para pendamping dan seluruh pihak nan terlibat dalam menjangkau anak-anak nan sebelumnya tidak mendapatkan perhatian dalam jasa pendidikan. Para pendamping, termasuk SDM PKH dan pendamping rehabilitasi sosial, berkedudukan dalam melakukan asesmen dan penjangkauan sehingga anak-anak tersebut dapat kembali memperoleh kesempatan belajar.

Ia menekankan, sentra-sentra Kemensos tidak hanya menjalankan kegunaan rehabilitasi sosial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring dari kediamannya di Jakarta, Minggu (20/9/2026). Foto: Kemensos RI

“Setelah adanya Sekolah Rakyat, angan itu tumbuh kembali. Apalagi kemudian nan tidak bisa di Sekolah Rakyat ditampung melalui SKB-SKB nan diselenggarakan antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial dan Dinas Sosial. Itu juga memberikan angan baru bagi saudara-saudara kita nan miskin,” kata Agus Jabo.

Karena itulah, dia membujuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dinas pendidikan, dinas sosial, sentra Kemensos, serta para pendamping untuk terus memperkuat sinergi dalam menjangkau anak-anak nan belum bersekolah.

“Janganlah kita hanya bekerja dengan tugas dan fungsi, tetapi mari kita bekerja dengan hati nurani. Kita kudu menjemput anak-anak kita dari family miskin agar mereka bisa sekolah dan kemudian mewujudkan apa nan menjadi cita-cita mereka,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan