Destry Damayanti Bicara Arah Kebijakan Suku Bunga di Tengah Tekanan Global

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (3/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan arah kebijakan suku bunga referensi alias BI Rate ke depan bakal mempertimbangkan kondisi ekonomi dunia nan semakin kompleks. Menurutnya, BI tidak dapat menentukan arah suku kembang hanya berasas perkembangan inflasi domestik.

“Jadi jika kita mau merespons dengan kekompleksan nan ada di bumi ini, pasti gak bakal mungkin bisa dengan satu kebijakan aja,” kata Destry dalam gelaran Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9).

Destry menjelaskan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa tetap menghadapi tekanan inflasi nan tinggi. Kondisi itu membikin ruang bagi bank sentral negara-negara tersebut untuk menurunkan suku kembang menjadi lebih terbatas lantaran berisiko kembali mendorong inflasi.

“Bond yield mereka jika kita lihat nan di atas 30 tahun itu sudah di atas 5,3 persen. Kemudian nan 10 tahun juga sudah 4,6 persen, 4,5, 4,6 persen. Dari kondisi mereka nan normal biasanya hanya 3 persen,” jelas Destry.

Destry menilai situasi itu menjadi semakin kompleks lantaran kenaikan inflasi dan yield terjadi ketika pertumbuhan ekonomi AS justru melambat. Kondisi ini juga membikin bank sentral AS tidak dapat mengambil kebijakan hanya dengan mempertimbangkan satu parameter ekonomi.

“Kalau kita bicara kebijakan moneter kan biasanya oke BI Rate mau ke mana gitu kan. Paling arahnya seperti itu. Oh jika misalnya inflasi mau naik BI Rate naik. Kemudian jika inflasi lagi rendah Bi Rate-nya turun lantaran ada kesempatan untuk lebih sorong ekonomi dan seterusnya,” tutur Destry.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (tengah), didampingi Deputi Gubernur Senior Aida S. Budiman (kiri) dan Deputi Gubernur Solikin M. Juhro, memberikan keterangan pers usai pelantikan di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ia menilai BI perlu memperhitungkan kondisi suku kembang dunia untuk menjaga daya tarik aset domestik dan memastikan aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

“Tapi di satu sisi kita tahu bahwa kita kudu mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Tapi jika kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti gak bakal cukup. Karena di satu sisi kita menghadapi situasi higher for longer dari global,” ungkap Destry.

Destry menekankan BI bakal mengkombinasikan kebijakan suku kembang dengan kebijakan makroprudensial untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian.

“Karena kita ada insentif GWM (Giro Wajib Minimum). Di mana kita memberikan tadi upaya Bank Indonesia untuk mendorong angsuran sektor prioritas dan sebagainya,” ujar Destry.

Selain itu, BI juga telah mengembalikan likuiditas ke perbankan agar dapat disalurkan kembali dalam corak kredit. Hingga saat ini, sekitar Rp 440 triliun biaya telah dialirkan ke perbankan untuk mendukung penyaluran pembiayaan. “Jadi banknya terima lagi duit untuk bisa salurkan,” tutur Destry.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan