Volker Turk.(Al Jazeera)
KETEGANGAN diplomatik pecah di markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah delegasi Amerika Serikat (AS) melakukan tindakan walk out saat perwakilan Prancis berbincang dalam pertemuan Dewan Keamanan. Aksi ini merupakan corak protes keras Washington terhadap komentar Prancis nan membandingkan pola pemungutan bunyi AS dengan negara-negara otoriter.
Perselisihan ini bermulai pada Jumat (24/7) setelah AS berasosiasi dengan Korea Utara dan Rusia dalam memberikan bunyi menolak perpanjangan masa kedudukan Volker Turk sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM). Keputusan AS nan sejajar dengan negara-negara tersebut memicu reaksi tajam dari sekutu Baratnya.
Misi PBB Prancis di Jenewa mengeluarkan pernyataan pedas pascapemungutan bunyi tersebut. "AS dulunya mercusuar kewenangan asasi manusia. Tidak lagi," tulis pernyataan tersebut.
Tudingan Retorika Merendahkan
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, membalas kritik tersebut dengan menuduh Prancis mendukung sosok nan selama ini dianggap hanya menceramahi negara-negara demokratis, tetapi di sisi lain justru bermesraan dengan penindas terburuk di dunia.
Selama masa jabatannya, Volker Turk memang kerap melontarkan kritik tajam terhadap invasi Rusia di Ukraina serta tindakan militer Israel di Jalur Gaza. Hal ini disinyalir menjadi salah satu argumen ketidaksukaan Washington terhadap kepemimpinannya.
Pejabat senior AS, Dan Negrea, menegaskan bahwa delegasi AS bakal terus melakukan tindakan serupa hingga Prancis mencabut pernyataan mereka. "Kami bakal terus mengambil sikap serupa sampai Prancis melepaskan retorika mereka nan merendahkan dan tidak sopan," tegas Negrea.
Ancaman Pengurangan Pendanaan
Meskipun ditentang oleh AS, masa kedudukan kedua Turk tetap disahkan dengan support 144 negara, sementara 10 negara menolak dan 13 lainnya abstain. Hasil ini semakin mempertegas keretakan hubungan antara Washington dan badan bumi tersebut.
Duta Besar AS Jeff Bartos mengkritik pengangkatan kembali Turk dan memperingatkan ada konsekuensi serius. Ia menyebut majelis PBB menoleransi pelampauan prosedur, kesepakatan rahasia, dan penyalahgunaan kedudukan PBB.
"Amerika Serikat bakal segera mengevaluasi kembali keterlibatan, partisipasi, dan pendanaan kami," ujar Bartos, merujuk pada kebijakan AS nan sebelumnya memotong biaya untuk beragam badan PBB.
Di sisi lain, Duta Besar Prancis Jerome Bonnafont memihak Turk dengan menyebutnya sebagai bunyi hati nurani yang menunjukkan ketegasan serta imparsialitas selama masa kedudukan pertamanya. Sementara itu, ahli bicara PBB Farhan Haq menolak berkomentar mengenai tindakan walk out tersebut dan hanya menekankan bahwa PBB mengharapkan seluruh negara personil menghormati keputusan nan telah diambil. (BBC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·