Pemilik Salaku, Shelly, saat memberikan training upaya digital di Cikarang.(MI/Insi Nantika Jelita)
BERAWAL dari modal hanya Rp50 ribu dan penelitian sederhana mengolah salak menjadi brownies pada 2016, upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) PT Salaku Cara Enak Makan Salak (Salaku) sukses berkembang hingga menembus pasar internasional. Tidak hanya memperluas pasar ke beragam negara, upaya nan dirintis dari skala rumahan ini juga aktif memberikan training dan pendampingan kepada pelaku UMKM lainnya.
Pendiri Salaku Shelly mengatakan usahanya lahir dari kemauan untuk menghadirkan penemuan dalam olahan buah salak. Menurutnya, selama ini salak lebih dikenal sebagai bahan baku keripik, sementara kesempatan pengembangan produk olahan lain tetap sangat terbuka.
"Di awal produksi kami lebih banyak mengolah produk-produk nan belum ada di pasaran, seperti brownies salak. Awalnya kami membikin kue basah, asinan, dan saribuah salak," kata Shelly saat ditemui di Cikarang, Bekasi, akhir pekan lalu.
Ide tersebut berasal dari kebiasaan anak bungsunya nan doyan mengonsumsi salak. Saat itu, salak menjadi buah nan nyaris selalu tersedia di rumah. Dari situ, Shelly memandang kesempatan lantaran banyak orang menyukai salak, tetapi enggan mengupasnya.
"Sebenarnya idenya sederhana. Anak saya suka sekali makan salak, sementara di rumah buah nan paling sering dibeli memang salak. Akhirnya saya berpikir ada orang nan mau makan salak tetapi malas mengupasnya. Akhirnya saya kembangkan upaya itu," ujarnya.
Meski tinggal di Bekasi nan bukan wilayah penghasil salak, wanita berumur 51 tahun itu memilih konsentrasi pada penemuan produk olahan. Baginya, diferensiasi menjadi kunci untuk membangun upaya dengan modal terbatas.
"Walaupun saya pemula dan modalnya sedikit, saya mau terlihat berbeda. Saya memilih salak lantaran tidak banyak nan mengolahnya. Setelah dipelajari, rupanya salak mempunyai kelebihan, salah satunya tinggi serat, nan belum banyak diketahui masyarakat," katanya.
Pengembangan produk
Saat pandemi covid-19 pada 2020, Salaku mulai mengembangkan produk camilan sehat berbahan dasar salak. Produk tersebut dirancang sebagai snack sehat dengan bebas gluten.
"Ini kami usung sebagai snack olahan salak pertama nan menggunakan tepung gluten free dan diproses secara natural. Produk ini hasil riset dan pengembangan sejak masa covid-19," tutur Shelly.
Ia menyatakan seluruh produk dibuat tanpa bahan tambahan pangan seperti essence maupun pengembang. Sebagai gantinya, Salaku mengedepankan komposisi bahan alami dan faedah kesehatan dari produk nan dihasilkan.
"Tepungnya dijamin bebas gluten," ucapnya.
Menurut Shelly, kerupuk salak nan diproduksinya hanya menggunakan bahan baku utama berupa tapioka dan bumbu-bumbu alami seperti ketumbar dan bawang putih.
"Jadi, bukan dikembangkan dengan bahan tambahan pangan (BTP), bukan dikembangkan dengan baking powder. Benar-benar rasa gurih asli," kata Shelly.
Keberanian memasuki pasar ritel baru dilakukan pada 2022. Sebelumnya, produk Salaku lebih banyak dipasarkan melalui sistem pre-order.
"Kami memang berkomitmen menampilkan produk-produk natural. Meskipun tidak memakai essence sehingga aromanya berbeda, kami lebih konsentrasi pada komposisi dan bahan baku alami," ujarnya.
Berawal dari modal Rp50 ribu
Shelly mengungkapkan upaya tersebut dimulai dengan modal nan sangat terbatas, ialah hanya Rp50 ribu. Saat itu, sebagian besar bahan baku sudah tersedia di rumah sehingga biaya produksi sangat minim.
"Modal awalnya hanya Rp50 ribu lantaran bikin brownies dari salak. Telur ada di rumah, terigu ada di rumah. Awalnya hanya satu loyang dan dijual dengan sistem pre-order lewat Facebook," katanya.
Momentum bulan Ramadan saat itu membantu meningkatkan penjualan. Produk nan dipasarkan berupa brownies, jus, dan asinan salak nan banyak diminati masyarakat untuk berbuka puasa.
"Awalnya saya jual Rp25 ribu. Sekarang sudah Rp60 ribu. Dulu kami tetap antar sendiri ke pelanggan," ujarnya.
Pada masa awal usaha, omzet nan diperoleh berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan. Menurut Shelly, nomor tersebut sudah tergolong besar lantaran saat itu belum ada biaya operasional tambahan seperti sewa toko maupun sertifikasi.
Dukungan BRI membuka akses pasar
Perkembangan upaya Salaku semakin pesat setelah mengikuti program BRI UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur pada 2022. Ajang tersebut membuka akses pasar nan lebih luas, termasuk ke jaringan ritel modern.
"BRI Expo betul-betul membuka pasar Salaku. Saya bisa berjumpa banyak pihak dari instansi pusat ritel dan dalam tiga bulan setelah expo, produk kami mulai masuk ke beragam toko modern," kata Shelly.
Ia menilai beragam pameran nan difasilitasi BRI menjadi pintu masuk krusial untuk memperluas jaringan upaya dan menjangkau pasar baru.
"BRI membantu kami membuka akses untuk bisa go global," ujarnya.
Melalui beragam pameran internasional, Salaku mulai memperkenalkan produknya ke luar negeri, termasuk melalui arena Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 di Singapura pada 21–24 April 2026.
"Jadi upaya kita bertumbuh dari expo ke expo," tutur Shelly.
Saat ini produk Salaku telah dipasarkan ke Singapura dan Portugal. Untuk pasar Portugal, produk dipasarkan melalui agregator nan menjual beragam produk Indonesia. Sementara di Singapura, pemasaran dilakukan melalui pemasok lokal.
Selain itu, Salaku juga pernah mengikuti pameran di Belanda dan sukses lolos kurasi untuk mengikuti Fine Food Australia.
Di satu sisi, Shelly berpandangan tantangan terbesar dalam ekspansi internasional bukanlah menjual produk, melainkan mengenalkan salak kepada konsumen luar negeri.
"Bahkan di luar negeri pun nggak tahu salak bisa diolah jadi snack alias kue," katanya.
Karena itu, pendekatan pemasaran disesuaikan dengan karakter masing-masing negara. Di negara nan belum mengenal salak, Salaku lebih menonjolkan aspek healthy snack, gluten free, dan vegan cracker. Sementara di negara nan sudah mengenal buah salak, nilai tambah produk olahan lebih ditonjolkan.
Untuk memperkuat daya saing produk, Salaku juga melakukan beragam pengetesan laboratorium dan sertifikasi.
"Kami sudah melakukan uji laboratorium untuk beragam klaim pangan. Kadar glutennya juga sudah diuji dan hasilnya 0 persen," ujar Shelly.
"Jadi enggak hanya gluten free lho, tapi dasarnya ada sertifikasi gluten-free," tambahnya.
Saat ini Salaku konsentrasi pada lima produk unggulan, ialah kerupuk salak, cookies, keripik, kopi, dan teh berbahan salak. Produk-produk tersebut dipilih lantaran mempunyai masa simpan hingga 12 bulan sehingga lebih sesuai untuk pasar ekspor.
Berkat ekspansi dan KUR BRI
Seiring ekspansi pasar, omzet Salaku terus mengalami peningkatan. Shelly mengungkapkan pameran dan pagelaran tetap menjadi salah satu kontributor utama penjualan.
"Dulu expo bisa menyumbang 70% penjualan. Sekarang kami mulai memperkuat pengedaran offline dan jaringan distributor," katanya.
Dalam satu pameran selama empat hari, Salaku bisa mencatatkan penjualan hingga Rp8 juta sampai Rp10 juta.
"Itu meningkat dari rata-rata mendapatkan Rp5 juta," katanya.
Perkembangan upaya juga didukung pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pada 2020, Shelly memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp25 juta dengan tenor tiga tahun nan digunakan untuk pengembangan usaha.
"Pinjaman tersebut kita pakai buat pengembangan upaya kami," ucapnya.
Kemudian pada 2024, dia kembali memperoleh KUR sebesar Rp85 juta dengan tenor tiga tahun. Dana tersebut digunakan untuk menyewa toko di Kecamatan Mustikajaya, Bekasi, serta menambah peralatan produksi.
"Akhirnya saya pakai buat sewa toko di wilayah Kecamatan Mustikajaya, Bekasi," terangnya.
Menurut Shelly, proses pengajuan KUR berjalan sigap dan sangat membantu pelaku UMKM dalam mengambil langkah ekspansi.
"KUR BRI membikin kami berani melangkah lebih jauh lantaran sudah ada anggaran untuk pengembangan usaha," katanya.
Ia menambahkan keberhasilan memanfaatkan pembiayaan upaya sangat berjuntai pada perencanaan dan penggunaan biaya nan tepat.
Shelly mengaku tidak ragu mengusulkan KUR lebih dari satu kali lantaran selalu mempunyai rencana pengembangan upaya nan jelas.
"Ada duit ya kudu dipakai dengan baik dan benar," tegasnya.
Dengan tambahan modal, Salaku bisa meningkatkan kapabilitas produksi, memperbaiki akomodasi usaha, menambah mesin, serta meningkatkan kepercayaan mitra upaya dan distributor.
"Dari situ kita jadi lebih percaya diri. Orang juga makin trust kepada kita. Distributor juga semakin yakin," pungkas Shelly.
Dari pengusaha rumahan menjadi mentor UMKM
Tak hanya membesarkan usahanya sendiri, Shelly turut menularkan pengalaman dan semangat berwirausaha kepada pelaku UMKM di beragam daerah. Berbekal pengalaman membangun upaya dari rumah hingga berkembang ke pasar nan lebih luas, dia sekarang kerap diminta menjadi mentor dengan memberikan training dan pendampingan kepada golongan upaya masyarakat.
Menurut Shelly, corak pemberdayaan nan dilakukan lebih banyak melalui pembelajaran dan penguatan kapabilitas pelaku usaha. Meski demikian, semangat nan dibawanya tetap sama, ialah mendorong masyarakat agar bisa berdikari secara ekonomi.
Ia mengaku lahir dari kondisi nan tidak mudah. Sebagai ibu rumah tangga nan mau mempunyai penghasilan sendiri, dia berupaya memberdayakan dirinya terlebih dulu sebelum kemudian membantu orang lain.
"Sebagai wanita rumahan nan mau punya penghasilan, saya memberdayakan diri saya sendiri. Semangat pemberdayaan dan kemandirian itu nan mau saya tularkan. Dari rumah pun sebenarnya bisa sukses berkembang," tegasnya.
Hal ini disampaikan Shelly usai memberikan training upaya digital kepada Kelompok B2M04 di Cikarang. Kelompok tersebut merupakan golongan tani resmi nan beraksi di Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi.
Peserta training nan dia dampingi berasal dari beragam sektor usaha, mulai dari pertanian, perkebunan, hingga pengolahan hasil pangan. Dari beragam pengalaman mendampingi pelaku UMKM tersebut, Shelly memandang bahwa tantangan terbesar nan dihadapi bukan semata soal modal alias produksi, melainkan pola pikir dalam berwirausaha.
"Rata-rata pola pikir pengusaha mini itu tetap membatasi dirinya sendiri. Mindset kewirausahaan dan kemandiriannya tetap sulit. Banyak nan terbiasa mengandalkan anak alias suami. Kalau saya, sejak awal memang berupaya membangun kemandirian sendiri," katanya.
Berbekal pengalaman membangun upaya dari skala rumah tangga hingga berkembang lebih luas, Shelly membagikan beragam praktik nan pernah dia terapkan kepada peserta pelatihan. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran.
Ia mengaku mengawali pengembangan usahanya melalui media sosial, khususnya Instagram, sehingga sekarang mendorong para pelaku UMKM untuk lebih berani memanfaatkan platform digital guna memperluas pasar.
Pendampingan nan dilakukan Shelly tidak hanya berjalan di Jawa Barat. Dalam beberapa tahun terakhir, dia telah berbagi pengalaman ke beragam wilayah di Indonesia, termasuk wilayah-wilayah terpencil.
Tahun lalu, misalnya, dia lebih banyak memberikan training pengolahan makanan kepada masyarakat desa. Salah satunya di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Untuk mencapai letak tersebut, dia kudu menempuh perjalanan laut selama sekitar enam jam.
Di sana, dia menemukan banyak potensi produk lokal nan sebenarnya mempunyai nilai jual tinggi, namun belum dipasarkan secara optimal.
"Mereka punya kesempatan nan bagus. Olahan ikan mereka enak-enak, tetapi mereka tidak tahu langkah menjualnya," ujarnya.
Pengalaman serupa juga dia temukan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Menurut Shelly, masyarakat setempat mempunyai sumber daya alam nan melimpah dan dapat diolah menjadi produk berbobot tambah. Namun keterbatasan pengetahuan pemasaran membikin potensi tersebut belum berkembang maksimal.
Selain itu, tetap ada sebagian wanita nan beranggapan bahwa mereka tidak boleh mencari penghasilan di luar rumah.
"Lalu saya edukasi dan berikan pemahaman untuk bisa mengandalkan upaya sendiri," katanya.
Dalam setiap pelatihan, Shelly menekankan pentingnya belajar secara berkelanjutan. Ia mengingatkan para pelaku UMKM agar tidak sigap merasa puas dan terus membuka diri terhadap pengetahuan baru.
"Jangan merasa sudah sampai di sini lampau berpikir ini tidak bisa, itu tidak bisa. Sampai hari ini saya tetap ikut pelatihan-pelatihan," ujarnya.
Menurutnya, mengikuti training membikin dirinya dapat memandang persoalan dari dua sisi sekaligus, ialah sebagai peserta maupun sebagai pengajar.
"Karena dari training itu saya bisa memposisikan diri sebagai peserta dan juga sebagai pengajar. Saya tetap terus belajar," katanya.
"Jadi jangan malas belajar dan bertumbuh. Usaha itu kudu punya rencana dan kudu gigih," tegasnya.
Membuka wawasan digitalisasi usaha
Manfaat training tersebut dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Siti, 29 tahun. Ia personil Kelompok B2M04 nan mengikuti workshop digitalisasi upaya nan dibawakan Shelly.
Menurutnya, training tersebut membuka wawasannya mengenai pemasaran digital dan langkah menjangkau pasar nan lebih luas.
“Kita jadi tahu langkah pemasaran secara digital untuk menjangkau pembeli nan lebih luas lagi,” ujarnya.
Ia mengaku belum pernah menggunakan beragam fitur pendukung upaya digital, termasuk WA Business. Setelah mengikuti pelatihan, dia mulai memahami langkah memanfaatkannya untuk mendukung aktivitas pemasaran.
"Dulu pakainya WhatsApp biasa untuk komunikasi sehari-hari. Sekarang sudah mengerti langkah membikin dan menggunakan WhatsApp Business," katanya.
Kelompok B2M04 sendiri mempunyai beragam unit upaya nan bergerak di bagian pertanian dan perikanan. Dari sektor perikanan, mereka mengolah hasil budidaya lele menjadi beragam produk seperti abon, amplang, dan stik. Sementara dari sektor pertanian, hasil panen langsung dijual kepada penduduk maupun pasar sekitar.
Selama ini pemasaran produk tetap dilakukan secara sederhana melalui jaringan pertemanan dan pesan WhatsApp.
"Jadi materi digitalisasi upaya ini krusial untuk menambah pengetahuan dan memperluas pengetahuan," kata Siti.
Ia berambisi keahlian pemasaran digital nan diperoleh dari training tersebut dapat membantu kelompoknya menjangkau pasar nan lebih luas. Saat ini, sebagian hasil pertanian mereka, seperti kangkung dan bayam, apalagi sudah pernah masuk ke supermarket melalui perantara.
Kelompok tersebut menjalankan pola tanam dengan masa panen sekitar 18 hingga 20 hari. Setelah lahan diistirahatkan selama beberapa hari, proses penanaman kembali dilakukan sehingga siklus produksi dapat terus berjalan.
Bentuk upaya mereka dijalankan secara berkelompok di tingkat lingkungan. Dalam satu RT terdapat beberapa golongan wanita tani (dawis) dengan personil sekitar 10 hingga 15 orang per kelompok. Melalui training digitalisasi usaha, Siti berambisi hasil produksi nan selama ini dipasarkan secara terbatas dapat mempunyai akses pasar nan lebih luas. (Ins/E-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·