Dunia sedang melahirkan tatanan baru di depan mata kita. Dan nan membikin saya gerah, sebagian elite kita tetap tidur nyenyak.
Pada 1 Mei 2026, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memerintahkan penarikan 5.000 personel tempur dari Jerman. Ini bukan kebijakan teknis. Ini sinyal bahwa Amerika Serikat di bawah Trump sedang meninggalkan perannya sebagai polisi dunia.
Bersamaan dengan itu, Selat Hormuz nan mengalirkan 20 persen minyak dunia tetap dalam status blokade tidak resmi pasca-serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Dua peristiwa ini, di Jerman dan Hormuz, adalah dua ujung pisau nan sama: bumi multipolar sedang dipaksakan lahir, dengan alias tanpa persetujuan kita. Pertanyaan saya: Indonesia mau jadi apa?
Fakta di Jerman–Sekutu Ditinggal
AS saat ini mempunyai sekitar 35.000 personel militer di Jerman. Markas Komando Eropa dan Komando Afrika AS bermarkas di Stuttgart. Pangkalan Udara Ramstein adalah jantung logistik NATO. Dan sekarang, 5.000 orang bakal ditarik. Dalam bahasa militer, itu satu brigade penuh. Dalam bahasa geopolitik, itu pesan keras:
"Eropa, urus dirimu sendiri."
Kanselir Jerman Friedrich Merz baru saja mengkritik AS lantaran "tidak mempunyai strategi" di perang Iran. Trump membalas dengan murka di Truth Social. Lalu perintah penarikan keluar. Celakanya, ini terjadi saat Eropa sedang ketakutan. Mereka menggelontorkan 800 miliar Euro untuk pertahanan mandiri, tanda bahwa mereka sendiri tidak lagi percaya pada payung keamanan AS.
Kalau sekutu sekelas Jerman bisa ditinggalkan, apa agunan AS bakal datang membantu kita jika terjadi bentrok di Laut Natuna Utara? Jawabannya: tidak ada.
Fakta di Hormuz: Perang Ditangguhkan, Bukan Selesai
Jangan tertipu dengan kata "gencatan senjata". Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 dilancarkan di tengah proses negosiasi. Iran sudah tidak percaya lagi. Trump mengaku "tidak puas" dengan proposal Iran, sementara para pemimpin Iran menyebut AS sebagai "bajak laut".
Harga minyak mentah Brent tetap di atas 100 dolar AS per barel. Selat Hormuz belum aman. Pada 2 Mei 2026, Israel melancarkan serangan ke Lebanon selatan, menewaskan 12 orang.
Artinya: poros perlawanan terhadap Iran tetap panas. Gencatan senjata adalah ilusi. Perang hanya ditunda.
Sementara itu, pada 29 April 2026, Putin dan Trump berbincang telepon 1,5 jam. Putin mendukung gencatan senjata tapi menyatakan bahwa jika AS-Israel menggunakan kekuatan lagi, dampaknya jelek bagi semua pihak. China tidak banyak bicara, mereka justru sibuk memperkuat posisi Yuan sebagai mata duit persediaan global. Jepang dan Korea Selatan mulai mendekati China dan Rusia untuk keamanan daya mereka.
AS di bawah Trump adalah Amerika nan transaksional. Mereka memperkuat jika ada untung, pergi jika tidak. Itu bukan sekutu. Itu mitra upaya bersenjata.
Indonesia mengimpor nyaris 500.000 barel minyak per hari. Jika Hormuz betul-betul ditutup, nilai BBM di negeri kita bakal meledak. Inflasi menghantam rakyat mini lebih dulu. Dan semua ini saling terhubung. Tidak ada wasit. Tidak ada polisi.
Kritik Konstruktif: Indonesia Harus Bertindak
Saya mengerti keahlian militer kita. TNI tidak bakal pernah menandingi AS alias China secara konvensional. Tapi kekuatan Indonesia tidak pernah diukur dari jumlah jet tempur.
Kekuatan Indonesia adalah: Pertama, posisi geografis di antara dua samudra dan dua benua. Kedua, kekuatan diplomatik sebagai salah satu negara dengan masyarakat Muslim terbesar nan juga negara kerakyatan ketiga terbesar di dunia. Ketiga, netralitas berhistoris sejak Konferensi Asia-Afrika 1955.
Itu aset nan tidak dimiliki Brasil, Turki, apalagi India. Tapi aset itu percuma jika kita hanya berbincang di PBB. nan saya maksud konkret adalah:
Pertama. Memimpin poros negara-negara kekuatan menengah (Indonesia, Brasil, Nigeria, Turki, Arab Saudi) menjadi penyeimbang nan tidak berpihak ke AS, China, alias Rusia.
Kedua. Mengusulkan sistem de-eskalasi permanen untuk Selat Hormuz di bawah payung OKI dan ASEAN.
Ketiga. Mempercepat diversifikasi daya agar nilai minyak bumi tidak lagi menjadi sandera bentrok Timur Tengah.
Itu realistis. Itu bisa dilakukan. nan kurang hanya keberanian politik.
Penutup
Saya tidak sedang mengancam. Itu bukan jenis seorang pensiunan jenderal. Saya hanya mengatakan apa nan saya lihat dan saya rasakan dari bangku di DK PBB selama 2 tahun.
Dunia sedang melahirkan tatanan multipolar, AS menarik pasukan dari Jerman, Hormuz membara, Eropa ketakutan sendiri dan Rusia kembali menjadi tokoh utama serta China tersenyum dari kejauhan. Dan Indonesia? Kita tetap duduk manis di pinggir lapangan, mencatat skor, lampau pulang tanpa berkeringat.
Saya tidak mau cucu saya kelak bertanya: "Kakek, ketika bumi berubah, apa nan dilakukan Indonesia?"
Dan saya kudu menjawab: "Kita hanya menonton, Nak." Saya tidak rela.
Para pemimpin bangsa: Bangun. Dunia tidak lagi ramah bagi mereka nan hanya diam.
Kita punya kewenangan untuk menjadi aktor. Bukan penonton.
Selamat tinggal era unipolar. Selamat datang multipolar. Dan selamat bertindak, Indonesia.
Cisaranten – Arcamanik, Bandung 2 Mei 2026
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·