Dari GIIAS Sampai Bioskop London: Kacamata Pintar Meta Terancam Dilarang di Mana-mana

Sedang Trending 1 jam yang lalu

loading...

Kacamata nan menolong tunanetra membaca dunia, sekarang dituduh jadi perangkat mengintip diam-diam saat pemakainya beriktikad jahat. Foto: ist

JAKARTA - Sepasang kacamata bisa jadi perangkat pengintai. Tanpa disadari korbannya. Itulah nan terjadi di GIIAS 2026, ICE BSD, 30 Juli sampai 9 Agustus lalu. Seorang pembuat konten mendekati usher di salah satu booth. Bertanya spesifikasi mobil. Memuji langkah sang usher menjelaskan produk. Lalu bertanya nama dan usia.

Semua terasa wajar. Sampai akhirnya sang usher sadar: dari awal dia direkam. Salah satu kamera diduga disembunyikan di kacamata pandai nan dipakai pembuat itu. Videonya lantas diunggah dengan titel "cara deketin cewek".
Tidak ada izin. Tidak ada pemberitahuan.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, langsung bereaksi. "Pada prinsipnya adalah kita perlu sekali mengingatkan bahwa ini pelanggaran terhadap Undang-Undang PDP," katanya, Senin (3/8). Ia menegaskan: perekaman tanpa izin tidak bisa dibenarkan, sekalipun dilakukan di ruang publik. Ini juga soal etika, bukan hanya hukum.

Masalahnya: sampai sekarang belum ada izin unik nan mengatur kacamata pandai berkamera. Juga belum ada larangan resmi memakainya di arena seperti GIIAS.

Kasus serupa rupanya bukan monopoli Indonesia. Di Skotlandia, seorang laki-laki berjulukan Scott Margerison memakai kacamata pandai Meta untuk merekam diam-diam penumpang saat tur di kapal feri MV Loch Seaforth. Tur itu akhirnya dihentikan. Sesi foto dan video pun dilarang selama tur berlangsung. Polisi Skotlandia sekarang meninjau rekaman videonya, setelah dia dilaporkan.

Sementara di Inggris, persoalan ini sudah naik satu tingkat: ke ruang bioskop.

UK Cinema Association (UKCA) menyatakan banyak jaringan bioskop besar Inggris sedang mempertimbangkan kebijakan melarang alias membatasi pemakaian kacamata pandai berkamera di dalam gedung.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews