Danantara Pastikan Tak Asal Taruh Investasi, Fokus ke yang Produktif

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Danantara. Foto: Iljanaresvara Studio/Shutterstock

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memastikan tidak sembarangan dalam mengucurkan investasi. Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia, Muliaman Hadad, mengatakan Danantara bakal terus berupaya meningkatkan kinerja.

Ia menegaskan Danantara baru melangkah satu tahun. Sehingga kurang tepat jika langsung dibandingkan kinerjanya dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) negara lain, seperti Temasek Singapura dan Khazanah dari Malaysia.

"Danantara baru satu tahun. Jadi Temasek itu sudah nyaris 47-50 tahun, jika membandingkan dua perihal ini, ya rada-rada enggak fair-lah, jadi berikan waktu Danantara untuk menunjukkan konsep nan bagus itu dikelola secara ahli dan lain sebagainya," ujar Muliaman saat Seminar BUMN Research Group, Kamis (30/4).

Muliaman mengungkapkan saat ini Danantara mempunyai sekitar 500 pegawai dengan pengalaman bekerja di beragam perusahaan dan lembaga internasional. Menurutnya, selain dari total aset BUMN dan dividen nan besar, satu perihal nan perlu diperhatikan dari Danantara adalah keahlian pengembalian investasi.

Muliaman Hadad ketika ditemui di Gedung Danantara, Jakarta Pusat pada Selasa (19/11/2024). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

"Isu pertama adalah gimana satu sisi ini bisa efektif. Isu kedua tidak kalah pentingnya, gimana menginvestasikan hasil jerih payah dari air mata nan dikelola demikian susah itu ke arah sesuatu nan produktif," tegas Muliaman.

Muliaman mencatat Danantara saat ini mempunyai aset nyaris USD 1 triliun, jika bisa mendapatkan Return on Asset (ROA) 3-5 persen saja, maka lembaga itu bisa mendapatkan modal besar untuk berinvestasi lebih lanjut.

"Kalau ROA nan 5 persen alias itu bisa di alokasikan ke sebelah kanan (investasi) itu, itu potensi untuk menjadi additional engineer luar biasa besar. Oleh lantaran itu mari kita sama-sama lihat, pantau berbareng agar sistem alias konsep ini bisa melangkah dengan baik," tutur Muliaman.

Sementara itu, Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, mengatakan Danantara merupakan SWF terbesar ke-5 di dunia, dengan total aset kelolaan mencapai USD 900 miliar dengan modal minium Rp 1.000 triliun. Angka tersebut telah melampaui Temasek nan mempunyai total aset USD 380 miliar.

"Angkanya juga bakal in terms of asset sudah di atas Temasek. Tapi tentu sebagian besar juga tetap berupa potensi nan kita kudu segera juga lakukan eksekusi dengan baik sehingga betul-betul potensi ini bisa nyata menjadi kekuatan requirement dan investment dari Danantara ke depan," ujar Toto.

Toto mengatakan keahlian konsolidasi BUMN juga selalu meningkat dari 2023, 2024, hingga 2025. Pada 2025, untung bersih berada di kisaran Rp 280 sampai Rp 332 triliun dengan setoran dividen ke negara mencapai Rp 140 triliun.

Pengamat BUMN dari FE UI Toto Pranoto memaparkan kondisi BUMN di obrolan soal likuidasi BUMN, Rabu (17/11). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan

Hanya saja, Toto menegaskan masalah nan perlu digarisbawahi pada pengelolaan BUMN di Tanah Air adalah ROA dan Return on Equity (ROE) nan pada 2025 menurun masing-masing sebesar 2 persen dan 7,8 persen.

"Mungkin nan kita kudu tingkatkan lagi adalah return on asset-nya, gimana kita mengutilisasi aset," tegas Toto.

Sebagai komparasi dengan Temasek dan Khazanah, Danantara memang mempunyai total aset nan jauh lebih besar, ialah USD 838 miliar per akhir Desember 2025, sementara Khazanah hanya USD 34 miliar dan Temasek USD 324 miliar.

Kendati demikian, dari sisi net portfolio, Danantara tetap di kisaran USD 180 miliar, tetap kalah dari Temasek nan sebesar USD 324 miliar, tetapi lebih baik dari Khazanah nan mencapai USD 23 miliar.

"Kalau kita mau lihat performance, kenapa kita tidak bisa bandingkan langsung dengan Temasek nan sudah umurnya 47 tahun alias Kazanah nan sudah didirikan sejak tahun katakanlah 1993. Tapi beberapa angka-angka mungkin bisa kita sampaikan," ungkap Toto.

Selain itu, angka-angka lain nan menunjukan bahwa Danantara sudah bisa berkompetisi dengan SWF negara tetangga adalah dari sisi untung terkonsolidasi nan mencapai USD 19,9 miliar pada 2024, dividen ke negara sebesar USD 8,4 sampai USD 9 miliar pada 2025, hingga ROE implisit sebesar 9,3 persen dari untung alias ekuitas.

"Kita bisa bilang bahwa posisi Danantara sudah punya modal nan cukup kuat lah, tinggal kelak mungkin gimana keahlian meng-generate ROE, kemudian juga dividen jika dikaitkan Danantara alias BUMN dengan Khazanah juga kita berlipat-ganda lebih besar," tegas Toto.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan