Dampak Bullying Terhadap Perkembangan Anak-Anak

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi bullying di Korea Selatan. Foto: CGN089/Shutterstock

Bullying memiliki akibat negatif terhadap perkembangan anak. Baik pelaku maupun korban sama-sama berpotensi mengalami dampaknya. Di era sekarang pem-bully-an sudah banyak di seluruh bagian dunia, dikarenakan dengan platform media sosial saja kita sudah dapat memandang banyak korban pembulyyan.

Faktor nan menyebabkan terjadinya bully, ialah lantaran adanya aspek kurang kasih sayang dan kurang perhatian. Dampak nan dihadapi korban bullying ialah jadi suka menyendiri perihal ini menyebabkan korban menjadi anti sosial.

Orang tua mempunyai peran krusial dalam mencegah dan menangani tindakan bullying. Karena orang tua merupakan pilar dalam penentuan sikap dan sifat anak kedepannya, orang tua meupakan contoh pertama nan bakal ditiru anak.

Upaya nan dilakukan orang tua ialah dengan memberi motivasi kepada anak serta memberikan dorongan agar anak dapat bersosialisasi seperti anak pada umumnya.

Empat Bentuk Bullying

  1. Bullying verbal, merupakan corak penindasan nan paling umum digunakan, bullying verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan di hadapan orang dewasa serta kawan sebaya. Seperti celaan, cemoohan serta kata-kata nan menyakiti hati orang lain.

  2. Bullying fisik, merupakan jenis bullying nan paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainya. Seperti pukulan, menendang, menampar, meludahi alias segala corak kekerasan menggunakan fisik.

  3. Bullying Relassional, jenis ini paling susah dideteksi dari luar. Penindasan relassional adalah pelemahan nilai diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, cibiran dan segala corak tindakan untuk mengasingkan seseorang.

  4. Cyber Bullying, ini adalah corak dari bullying yang terbaru lantaran semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Seperti mengirim pesan nan menyakitkan alias menggunakan gambar, meninggalkan pesan voicemail yang kejam, menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls), membikin website nan memalukan bagi si korban, si korban dihindarkan alias dijauhi dari chat room dan lainnya.

Dampak bullying tidak hanya dirasakan oleh para korban saja, pelaku bullying juga mendapat akibat nan negatif terhadap dirinya dan lingkungannya. Dampak bagi pelaku bullying diantaranya pelaku bullying mempunyai empati nan minim dalam hubungan terhadap sosial.

Bukan hanya empatinya saja nan bermasalah tapi juga perilakunya pun tak normal. Perilaku nan hiperaktif dan pro-sosial saling berangkaian dengan tindakan pelaku bullying terhadap lingkungan disekitarnya.

Pelaku bullying memiliki tingkat gangguan kesehatan mental terutama indikasi emosional nan lebih tinggi dibandingkan dengan korban bullying. Dampak bagi korban bullying seperti mengalami kekerasan bentuk dan juga verbal. Tindakan seperti ini dapat menjadi trauma berkepanjangan.

Jika dilihat dari pernyataan diatas, tindakan bullying ini tidak bisa dibenarkan apapun alasannya. Apalagi tindak bullying kepada anak menimbulkan akibat nan sangat besar untuk masa depannya kelak.

Di usia mereka harusnya dipenuhi dengan emosi senang dan senang selalu bukan dipenuhi dengan emosi tertekan nan timbul dari lingkungannya. Hal ini bakal menanamkan trauma nan mendalam pada diri anak.

Dua Aspek Bullying bagi Korban

1. Aspek Sosial Emosional

Korban bullying berpotensi mengalami gangguan kekhawatiran dan depresi nan berpengaruh pada perkembangan sosial emosionalnya. Contoh: murung, pendiam, emosi tidak terkontrol, dan sebagainya.

2. Aspek Kognitif

Bullying dapat menghalang perkembangan kognitif anak. Perasaan takut nan ditimbulkan bullying bisa menyebabkan anak tidak berani mengungkapkan buahpikiran dan pendapat sehingga mengganggu perkembangan kognitifnya. Selain itu, Ketidakpercayaan diri ini di masa mendatang dapat menghalang anak dalam memaksimalkan potensi kognitifnya.

Bullying adalah tindakan tidak terpuji berupa penindasan nan dilakukan oleh seseorang alias sekelompok orang dengan tujuan menyakiti orang lain, baik secara bentuk maupun psikis. Umumnya, tindakan ini berkarakter agresif, mengintimidasi, dan dilakukan secara berulang alias terus-menerus.

Menurut Kemendikbud langkah mengatasi perundungan alias bullying yakni dengan 12 merancang program anti-bullying dengan menghadirkan program pencegahan perundungan di sekolah, bekerjasama dengan masyarakat luas alias organisasi.

Upaya mengatasi tindakan bullying di sekolah ialah membikin suasana nan kondusif untuk dapat mencegah tindakan bullying. Membuat konsep sekolah tanpa bullying perlu digunakan sedini mungkin kepada siswa dan juga kepada orang tua siswa.

Dengan memberikan info sedini mungkin kepada siswa dan orang tua diharapkan dapat memahami nilai-nilai nan diberlakukan di sekolah serta orang tua dapat membantu. Siswa perlu diberikan pemahaman tentang bullying dan juga dampaknya sehingga sekolah menjadi tempat nan kondusif dan nyaman bagi siswa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan