D-8 Halal Expo Indonesia Dibuka, RI Ingin Galang Kekuatan Ekonomi Halal

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Jakarta -

Pemerintah RI resmi membuka D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026. Acara nan digelar pada 8-12 Juli 2026 itu sebagai rangkaian dari KTT D-8 (D-8 Summit), di mana Indonesia menjadi ketua D-8 pada tahun ini.

"Acara rangkaian Expo ini adalah rangkaian dari aktivitas Summit dari D-8," kata Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta, kepada wartawan di letak Halal Expo, Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026).

Anis menjelaskan bahwa industri legal menjadi konsentrasi utama Indonesia di D-8. Prioritas lainnya nan diusung adalah membahas rumor generasi muda dan penanggulangan musibah alam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk era keketuaan Indonesia, memang konsentrasi utamanya salah satunya adalah legal industry ini, legal economic system ini. Ini insyaallah bakal jadi salah satu prioritasnya. Prioritas nan lainnya adalah rumor tentang generasi muda, rangkaian kerja sama pemuda di negara D-8 ini. Juga ada prioritas nan berasosiasi dengan rumor disaster, rumor musibah alam ya," katanya.

Anis juga mengungkapkan tanggal penyelenggaraan D-8 Summit di Indonesia pada tahun ini belum ditentukan setelah sempat ditunda pada April lalu. Meski begitu, Anis berambisi KTT tersebut tetap dapat diselenggarakan tahun ini.

"Mestinya kemarin pada bulan April jika enggak salah ya, acaranya. Summit-nya mestinya diadakan bulan April, tapi lantaran ada perang nan sedang terjadi di Timur Tengah, aktivitas ini ditunda sampai waktu nan sekarang belum ditentukan. Tapi insyaallah mudah-mudahan tetap bisa diadakan tahun ini," tuturnya.

Pada kesempatan nan sama, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Hassan-yang berkawan disapa Babe Haikal-mengungkap aktivitas ini digelar sebagai corak penggalangan kekuatan ekonomi legal negara-negara personil D-8. Ia menyoroti kebenaran bahwa belum ada satu pun negara D-8 nan memimpin ranking produsen produk legal dunia.

"Kita mau menggalang sebuah kekuatan daripada ekonomi halal. Dan unfortunately, negara penghasil produk legal nomor satu bumi saat ini tetap China. Nomor dua Brasil, nomor tiga Amerika. Tidak satu pun dari D-8 ini," kata Haikal.

Haikal membujuk negara-negara personil D-8 untuk tidak lagi memandang legal semata-mata dari kegunaan agama, melainkan juga sebagai instrumen ekonomi nan besar.

"Karena itu, di tengah-tengah meeting tadi, saya menyampaikan, 'Yuk kita galang sebuah kekuatan kebersamaan tentang logo, tentang standar'. Bagaimana kita memperlakukan legal bukan lagi sebuah kegunaan kepercayaan semata, tapi legal sekarang kegunaan ekonomi," jelasnya.

Lebih lanjut, Haikal mengungkap pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai redefinisi makna halal. Ia menyebut legal sekarang kudu beralih bentuk menjadi simbol transparansi dan kepercayaan universal.

"Jadi legal sekarang kudu bertransformasi. Bagaimana pesan dari Presiden Pak Prabowo Subianto, transformasi makna legal menjadi milik semua, menjadi prosperity of life, menjadi symbol of transparency, traceability, and trustability," pungkas Haikal.

(isa/isa)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News