Jakarta, CNN Indonesia --
Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia (Puspom TNI) telah menyelesaikan investigasi kasus penyiraman air keras nan dilakukan oleh personil Badan Intelijen Strategis (BAIS) terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus.
TNI memerlukan waktu tak lebih dari satu bulan untuk melimpahkan berkas perkara dan peralatan bukti ke Oditur Militer II-07 Jakarta.
"Penyidik Puspom TNI telah menyelesaikan seluruh rangkaian proses investigasi sesuai dengan ketentuan nan berlaku," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasrullah melalui keterangan tertulis, Selasa (7/4) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selanjutnya, pada hari ini, Selasa, 7 April 2026 telah dilimpahkan berkas perkara, para tersangka dan peralatan bukti tindak pidana penganiayaan kerabat AY [Andrie Yunus] dari interogator Puspom TNI kepada Otmil II-07 Jakarta, untuk selanjutnya bakal diperiksa kelengkapan berkas syarat formil dan materiil," sambungnya.
Jika berkas dinyatakan lengkap, maka bakal dilimpahkan ke Pengadilan Militer II-08 Jakarta. Adapun tersangka nan dilimpahkan berjumlah 4 orang ialah dengan inisial NDP, SL, BHW, ES berikut peralatan bukti.
"Pelimpahan ini merupakan bagian dari komitmen TNI dalam penegakan norma nan profesional, terbuka dan akuntabel, serta sebagai bentuk ketegasan dalam menindak setiap tindak pidana nan dilakukan oleh oknum Prajurit TNI," kata Aulia.
Proses investigasi nan dilakukan oleh interogator Puspom TNI berjalan tertutup dan condong dilakukan dengan cepat, tak lebih dari satu bulan.
Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus disiram air keras sekitar tiga pekan lampau setelah mengisi siniar di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) berjudul "Remiliterisasi & Judicial Review UU TNI".
Polisi sempat mengumumkan inisial dua tersangka, namun di waktu nan berbarengan TNI juga menyampaikan sudah menahan empat orang dari BAIS TNI selaku pelaku lapangan penyiraman air keras terhadap Andrie. Mereka adalah NDP, SL, BHW, dan ES.
Sementara itu, Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) nan terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat sipil menyebut pelaku lapangan penyiraman air keras terhadap Andrie melibatkan sedikitnya 16 orang. TAUD menyebut ini sebagai operasi intelijen.
Tanpa dasar norma dan argumen nan jelas, polisi menyatakan melimpahkan penanganan perkara ke Pom TNI. Hal ini menuai kritik banyak pihak lantaran ada kekhawatiran itu bakal berujung pada impunitas prajurit militer.
(ryn/isn)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·