China Tanam 66 Miliar Pohon buat Bikin Hutan Buatan, Ternyata Tumbuh Lebih Cepat

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi hutan. Foto: Shutter Stock

Program penghijauan besar-besaran nan dilakukan China selama puluhan tahun rupanya menunjukkan hasil menarik. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa miliaran pohon nan ditanam dalam proyek reforestasi tersebut tumbuh lebih sigap dibandingkan pohon di rimba alami.

Para intelektual menduga perihal ini berangkaian dengan langkah pohon merespons peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer.

China memang tengah mengalami transformasi hijau dalam beberapa dasawarsa terakhir. Negeri Tirai Bambu itu telah menanam sekitar 66 miliar pohon sejak 1978, dan menargetkan penambahan 34 miliar pohon lagi hingga pertengahan abad ini. Seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari proyek ambisius Great Green Wall, nan bermaksud memperlambat ekspansi Gurun Gobi dan Gurun Taklamakan.

Hutan baru ini bisa menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar. Namun, para peneliti tetap berupaya memahami sejauh mana karakter rimba hasil penanaman manusia (buatan) dengan rimba alami.

Penulis utama studi, Yuhang Luo, mahir ekologi lanskap dari Peking University di Shenzhen, mengatakan timnya mau mengetahui gimana perbedaan antara rimba alami dan rimba buatan, mulai dari keragaman spesies, kepadatan pohon, hingga usia rimba memengaruhi responsnya terhadap peningkatan CO2 dan perubahan iklim.

"Selama ini rimba buatan banyak dimanfaatkan dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Namun, sebagian besar model ekosistem dunia belum membedakan jenis rimba maupun memperhitungkan dinamika usia pohon dengan baik," ujar Luo.

Menurutnya, memahami hubungan faktor-faktor tersebut krusial bukan hanya untuk kepentingan ilmiah, tetapi juga untuk meningkatkan kecermatan model suasana nan menjadi dasar kebijakan kehutanan dan kalkulasi persediaan karbon.

Ilustrasi rimba dan penanaman pohon. Foto: KLHK

Hutan buatan merupakan area rimba nan sengaja dibangun oleh manusia, seperti nan dilakukan dalam proyek Great Green Wall. Sementara itu, rimba alami tumbuh secara alami tanpa kombinasi tangan manusia.

Dalam penelitian ini, para intelektual memanfaatkan info satelit untuk mengukur Leaf Area Index (LAI) alias indeks luas daun, ialah parameter kepadatan tajuk pohon nan berkedudukan krusial dalam proses penyerapan karbon. Dari pengukuran tersebut, mereka menemukan perbedaan nan cukup mencolok.

Hasilnya menunjukkan bahwa luas tutupan tajuk pada rimba hasil penanaman meningkat 66 persen lebih sigap dibandingkan rimba alami. Sebagian besar perbedaan tersebut disebabkan oleh usia pohon. Rata-rata, rimba buatan berisi pohon-pohon nan jauh lebih muda, sementara pohon muda memang mempunyai laju pertumbuhan lebih sigap dibandingkan pohon nan sudah tua.

Menariknya, ketika peneliti membandingkan rimba dengan usia dan kondisi tumbuh nan serupa, rimba buatan tetap tumbuh 4,6 persen lebih cepat. Selisih ini apalagi lebih besar pada rimba campuran maupun rimba hijau sepanjang tahun (evergreen).

Para peneliti menyebut salah satu penyebabnya adalah langkah pengelolaan rimba buatan. Hutan jenis ini umumnya ditanami jenis nan memang dikenal tumbuh cepat, seperti eukaliptus dan poplar. Selain itu, pengelola biasanya secara aktif membersihkan tanaman pesaing di sekitar pohon utama, apalagi memberikan pupuk.

Perawatan tersebut mengurangi persaingan dalam memperoleh sinar matahari, air, dan nutrisi sehingga pengaruh pemupukan alami akibat meningkatnya CO2 di atmosfer menjadi semakin kuat.

Kendati begitu, kelebihan ini tak berjalan selamanya. Penelitian menunjukkan pertumbuhan paling pesat terjadi ketika pohon berumur sekitar 30 hingga 40 tahun. Setelah melewati usia 40 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat secara signifikan.

Orang berpakaian seperti manusia Gua Neanderthal memanjat pohon di rimba dekat Chianale, di Pegunungan Alpen Italia. Foto: MARCO BERTORELLO/AFP

Sebaliknya, rimba alami memang tumbuh lebih lambat, tetapi pertumbuhannya condong stabil dalam jangka panjang. Karena itu, rimba alami dinilai tetap unggul sebagai penyimpan karbon untuk periode nan lebih lama.

"Hutan buatan dapat menjadi perangkat nan sangat efektif untuk meningkatkan penyerapan karbon dalam jangka pendek, tetapi kelebihan itu hanya berkarakter sementara. Untuk penyimpanan karbon jangka panjang dan menjaga ketahanan ekosistem, rimba alami tetap tidak tergantikan," kata Luo.

Di sisi lain, Kevin Dsouza, peneliti nan pernah mengembangkan model reforestasi saat menjalani riset pascadoktoral di University of Waterloo dan tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai hasil tersebut cukup masuk akal.

Menurutnya, pohon muda nan tumbuh sigap memang mempunyai tajuk dan daun nan lebih luas sehingga berpotensi menyerap karbon lebih banyak. Namun, dia mengingatkan bahwa indeks luas daun belum tentu menjadi ukuran terbaik untuk menilai pertumbuhan maupun keahlian penyimpanan karbon secara keseluruhan.

"Ini memang parameter nan cukup baik, tetapi belum menggambarkan keseluruhan kondisi. Tajuk hanyalah bagian paling atas pohon, sementara karbon juga tersimpan di batang, kulit kayu, akar, hingga tanah," jelasnya.

Dsouza juga menyoroti penelitian lain mengenai rimba di China nan menunjukkan bahwa rimba alami justru bisa mengakumulasi karbon di atas permukaan tanah lebih banyak dibandingkan rimba buatan pada fase awal pertumbuhannya. Karena itu, menurutnya, hasil studi terbaru ini perlu dipertimbangkan berbareng beragam aspek lainnya.

Bagi Luo, temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar model suasana dunia tetap belum sepenuhnya memahami peran masing-masing jenis rimba dalam menyerap karbon dan menghadapi perubahan iklim.

"Pengelolaan lahan rupanya bekerja dengan langkah nan jauh lebih kompleks daripada nan selama ini kita bayangkan. Bukan hanya soal menanam lebih banyak pohon, tetapi juga kapan pohon ditanam, jenis apa nan dipilih, serta gimana pengelolaannya dalam jangka panjang," ujarnya.

Luo berambisi hasil penelitian ini dapat menjadi pedoman nan lebih baik bagi beragam program reforestasi di masa depan sehingga faedah penanaman rimba baru untuk mengurangi akibat perubahan suasana dapat dimaksimalkan.

"Penelitian kami memberikan pedoman nan lebih praktis untuk tindakan suasana berbasis hutan, mulai dari kapan waktu terbaik menanam, jenis pohon nan dipilih, berapa lama manfaatnya bertahan, hingga aspek-aspek nan selama ini belum diperhitungkan dalam model iklim. Kami berambisi temuan ini dapat membantu pengambil kebijakan membikin keputusan nan lebih baik," tutup Luo.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan