Chief of AI & Corporate Strategy (AICS) kumparan, Andrias Ekoyuono, meraih Penghargaan Inspirasi Alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM).
Malam penganugerahan berjudul Strategic Partnership Award itu berjalan di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman, DIY, Senin (21/9).
Andrias merupakan alumni Ilmu Komputer FMIPA UGM tahun 1998. Dalam sambutannya, Andrias berbincang tentang pentingnya membangun ekosistem nan tidak hanya berorientasi pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga bisa menerjemahkan hasil riset menjadi produk, kebijakan, serta akibat nyata bagi masyarakat.
"Saya hendak bertanya satu perihal kepada seluruh nan datang di ruangan ini. Apa nan membikin Fakultas MIPA ini terus relevan, bukan hanya 71 tahun ke belakang, tapi apa nan bakal membikin Fakultas MIPA ini tetap relevan 71 tahun ke depan, mungkin 100 tahun ke depan? Pertanyaan itulah nan saya bakal coba usulkan jawabannya seperti apa malam hari ini," kata Andrias.
Andrias mengatakan, FMIPA UGM menjadi semakin krusial pada hari ini di saat bumi sedang berubah dengan artificial intelligence (AI). Bukan lantaran data, melainkan sains terapan nan bergerak dari laboratorium langsung ke dalam corak produk dan kebijakan.
"Jadi, sains itu hasilnya enggak hanya produk sebenarnya, policy itu adalah hasilnya sains. China maju sekali itu karena, mungkin Bapak Ibu tahu, presidennya dan para pemimpinnya mathematics dan segala macam. Jadi, kita nan datang di sini tuh kelak bukan hanya menghasilkan produk sebenarnya, tapi juga policy," bebernya.
Semua fondasi dari perubahan itu adalah matematika, statistik, fisika, kimia, pengetahuan komputer, hingga elektronika, lahir persis di fakultas ini. FMIPA bukan hanya sekadar salah satu fakultas di UGM, FMIPA ini adalah mesin nan menggerakkan nyaris setiap industri nan hari ini sedang bertransformasi.
Andrias mengatakan ada empat pilar nan kudu dibangun berbareng secara kokoh dan sejajar ke depan. Pertama, adalah pendidik itu sendiri.
"Pendidikan itu bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk the way of thinking, membentuk langkah berpikir. Tidak hanya langkah berpikir, tapi keberanian membuktikan segala sesuatu secara scientific, serta menghasilkan juga ketangguhan menghadapi bumi nan terus berubah," ujarnya.
Ke depan bakal ada banyak perihal nan bisa dikerjakan oleh AI. Pekerjaan rumah pendidikan saat ini adalah gimana caranya menghasilkan lulusan nan levelnya langsung menjadi supervisor-nya AI.
"Karena officer-nya itu udah diganti AI semua. Nah, untuk menghasilkan fresh graduate nan bisa jadi supervisor-nya AI, kita perlu ngapain? Mereka punya pengalaman, mereka punya skill di luar statistiknya, cross knowledge computer science/physics, computer science/biotechnology, physics/chemistry dan segala macam. Banyak perihal nan jadi PR kita, sehingga lulusan kita itu beyond fresh graduate aja, kayak gitu. Fresh graduate masa lampau tepatnya, kayak gitu ya. Itu pilar pertama kita," katanya.
Pilar nan berikutnya adalah translasi dari riset. Riset nan luar biasa tidak boleh berakhir di jurnal. Menurut Andrias, riset memang menghasilkan jurnal. Namun, riset itu kudu menemukan jalannya dari jurnal itu menuju laboratorium.
"Kemudian menuju produk, menuju kebijakan, menuju kehidupan nyata masyarakat Indonesia, syukur-syukur masyarakat global," ujarnya.
Selanjutnya pilar ketiga adalah komunikasi dan branding. Prestasi dahsyat FMIPA jika bumi luar tidak mengetahui maka dampaknya hanya terbatas.
"Fakultas sekelas MIPA ini layak dikenal luas oleh calon mahasiswa terbaik," katanya.
"Kenapa? Kalau kita dapat calon mahasiswa terbaik, kita have the best input," bebernya.
"Amerika waktu dulu itu membangun negaranya itu adalah dengan menarik semua calon mahasiswa paling pinter sedunia untuk sekolah di Amerika. Dan semester dua udah ditawarin untuk jadi penduduk negara Amerika, gitu kan, waktu itu. Jadi, komunikasinya tadi nomor satu agar dapat calon mahasiswa terbaik," jelasnya.
Selain itu, dengan langkah ini FMIPA bakal makin dikenal di bumi industri. Para mitra bakal mendengar riset dan prestasi dari fakultas ini.
"Dan berikutnya adalah cerita itu juga kudu didengar oleh para employer, calon employer, perusahaan-perusahaan, untuk mereka kemudian bisa merekrut lulusan-lulusan terbaik MIPA itu," katanya.
Pilar keempat, menurut Andrias, adalah keberlanjutan lembaganya sendiri alias fakultasnya itu sendiri.
"Sejauh ini, sudah banyak inisiatif riset, ide, proyek kerjasama dengan industri nan lahir dari FMIPA. Harapan kita berbareng malam ini adalah semua itu terus berlanjut, dan apalagi tumbuh menjadi sesuatu nan lebih besar, sebuah structure yang lebih sustained, di mana pengelolaan itu bisa kelak gimana caranya bersambung menjadi investment arm, bersama-sama dengan para partner, dan akhirnya MIPA itu bisa punya biaya nan sustainable dan scalable," katanya.
Andrias mengatakan sebuah ekosistem di mana pendidikan, riset, narasi, dan keberlanjutan tumbuh berdampingan, saling menguatkan, dan terus melahirkan dampak.
"Karena pendidikan nan dahsyat melahirkan pemikir, riset nan dahsyat melahirkan solusi, dan kelembagaan nan kokoh dan sustainable memastikan keduanya tadi tidak pernah berhenti," pungkasnya.
Sementara itu, Dekan FMIPA UGM, Prof Kuwat Triyana, mengatakan FMIPA malam ini memberikan apresiasi bagi tokoh alias stakeholder Fakultas MIPA nan telah membersamai, khususnya dalam lima tahun terakhir. Harapannya kerja sama strategis ini bisa dilanjutkan di masa-masa mendatang.
"Selain kerja sama dengan mitra-mitra, kami juga sangat mengapresiasi para alumni nan rupanya sudah tersebar di beragam penjuru nasional maupun internasional, nan secara tidak langsung dan tidak tampak, itu memberikan banyak masukan atas langkah-langkah kami sehingga alhamdulillah sampai titik ini, perjalanan kami nyaris tidak menemukan hambatan apa pun," kata Kuwat.
Kuwat mengatakan kerja sama nan dibangun berasas asas kebutuhan kecocokan antara persoalan nan ada di industri dengan keahlian nan ada di universitas.
"Dengan obrolan dari awal, perancangan dari awal, itu bakal menghasilkan buah riset nan kemudian betul-betul dimanfaatkan oleh industri maupun bumi usaha," katanya.
"Nah, jika pada saat ini kami menekankan pada industri, memang kami sedang mendorong untuk bisa berdampak. Bahkan di kementerian kami, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, saat ini juga eranya semua serba berdampak. Berdampak itu kemudian kita maknai sebagai upaya kita untuk menghilirisasi," pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·