Liputan6.com, Jakarta - Sudah dua hari listrik padam setelah gempa bumi mengguncang Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi itu membikin penduduk di pengungsian terpaksa mengandalkan senter hingga genset.
"Korban di pengungsian hanya mengandalkan lampu ponsel, senter, dan genset warga," kata Jufri Husen (36), penduduk terdampak gempa kepada Liputan6.com, Minggu (16/8/2026).
Pemadaman listrik selama dua hari juga membikin akses internet terganggu. Warga kesulitan berkomunikasi dengan family maupun kerabat di tengah kondisi darurat pascagempa.
"Karena meninggal padam dua hari, akses internet juga sulit. Komunikasi dengan orang-orang juga terputus," ujarnya.
Menurut dia, persoalan lain nan sekarang dihadapi penduduk adalah sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk mengoperasikan genset. Padahal, genset tidak hanya digunakan untuk penerangan, tetapi juga untuk menghidupkan pompa air.
"Kalau bisa aktifkan pom bensin di Reo. Bensin kudu stabil. Kalau bisa bensin cuma-cuma untuk genset warga. Karena jika tidak ada bensin, penduduk tidak bisa nyalakan genset," ujarnya.
Ketersediaan bahan bakar menjadi krusial lantaran pompa air juga berjuntai pada genset. Jika genset tidak dapat beroperasi, penduduk kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Selain untuk penerangan, genset dipakai untuk nyalakan pompa air," kata Jufri.
Di sisi lain, mobilitas penduduk juga tetap terkendala. Jalur Ruteng-Reo belum dapat dilalui kendaraan roda empat. Sementara pengendara sepeda motor kudu menggunakan jalur alternatif.
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·