Titi Nurmalasari, seorang ibu bekerja, mulai kebingungan soal ke mana kudu menitipkan anaknya, saat libur melahirkannya nyaris habis.
Sejak anak pertamanya lahir pada 2020, Titi sebenarnya sudah pernah menggunakan jasa pengasuh. Namun, menghadapi beberapa membuatnya berganti drama pengasuh sebanyak tiga kali dan perihal itu membuatnya capek secara mental.
“Karena saya capek nih, aduh capek nih sebelum bekerja kudu agar nggak was-was gimana ya,” cerita Titi kepada kumparanMOM, Kamis (7/5).
Saat itu, daycare belum langsung menjadi pilihannya. Ia sempat ragu seperti banyak orang tua lain, nan takut menitipkan anak pada orang asing. Bersama suami dan keluarga, Titi berbincang panjang sebelum akhirnya memutuskan mencari daycare di sekitar rumah.
Ia tidak asal memilih. Selain mencari info lewat internet, Titi juga bertanya kepada teman-temannya nan lebih dulu punya pengalaman menitipkan anak di daycare.
Dari situ, dia mulai membikin daftar mini tentang tempat seperti apa nan dia cari untuk anaknya. Harus ada akses CCTV nan bisa dipantau orang tua. Ruangannya wajib punya ventilasi baik. Menu makanan kudu jelas. Pengasuh dan pemilik daycare juga kudu terbuka kepada orang tua.
Mencari Tempat nan Membuat Ibu Tenang
Titi sempat mendatangi tiga hingga empat daycare di sekitar rumahnya. Daycare pertama nan dia pilih sebenarnya cukup baik: lingkungannya bersih, bilik mandi terawat, makanan anak diperhatikan, dan orang tua rutin mendapat laporan harian lewat WA berupa foto dan video aktivitas anak.
Namun saat pandemi, daycare itu belum mempunyai CCTV. Meski tetap merasa terbantu, Titi tetap mau mencari tempat nan lebih sesuai dengan kebutuhannya sebagai ibu bekerja. Sampai akhirnya, sebuah rekomendasi datang dari temannya nan baru pulang dari Inggris.
“Teman saya bilang dia menitipkan dua anaknya di daycare itu, apalagi nan tetap infant juga. Dari situ saya jadi tertarik buat coba survei,” katanya.
Pertemuan sederhana itu menjadi titik balik. Saat datang ke daycare tersebut, nyaris semua checklist miliknya terpenuhi.
Ada CCTV nan bisa dipantau kapan saja, menu makanan dan nutrisi anak diperhatikan dan pengasuh terbuka kepada orang tua. Setiap anak mempunyai kitab penghubung sehingga perkembangan mereka selalu diperbarui setiap hari.
Bahkan, setiap Jumat anak-anak rutin dicek berat badan dan suhu tubuhnya. Sekitar tiga bulan sekali, mereka juga mendapat sesi berbareng psikolog untuk memantau tumbuh kembangnya.
Dari sesi itu, orang tua menerima laporan perkembangan anak secara psikologis.
Titi tetap mengingat salah satu catatan nan pernah dia terima tentang anaknya nan saat itu berumur tiga tahun.
“Anak saya bicaranya waktu itu pas usia 3 tahun tetap ketukar-tukar. Seperti semestinya karpet tapi anak saya menyebutnya kaplet," ujarnya.
Baginya, laporan seperti itu membantu orang tua memahami perkembangan anak nan kadang luput disadari di rumah.
Pagi nan Sibuk di Daycare
Kini, setelah nyaris lima tahun menitipkan anak di daycare, Titi hafal betul ritme harian tempat itu.
Pukul 06.30 pagi, dia biasanya mengantar anaknya ke daycare setelah menyiapkan sarapan dari rumah. Di sana, anak-anak memulai hari dengan makan pagi, lampau sebagian dimandikan oleh pengasuh jika belum sempat mandi di rumah.
Selepas itu, aktivitas dimulai. Anak-anak diajak membaca kitab cerita, bermain motorik kasar dan halus, hingga beraktivitas di luar ruangan. Kadang mereka bermain di taman, kadang berjemur berbareng di bawah mentari pagi.
Sekitar pukul 10 pagi, mereka mendapat snack buah dan makanan ringan. Menjelang siang, anak-anak makan berbareng sebelum tidur siang.
Sore harinya, aktivitas kembali dilanjutkan sampai waktu bermain bebas sembari menunggu dijemput orang tua.
Sebagai ibu bekerja, keberadaan CCTV menjadi sesuatu nan menenangkan. Bahkan saat tidak sempat membaca grup daycare, Titi tetap bisa memandang aktivitas anaknya secara langsung.
“Pernah ada nan ulang tahun di daycare, saya baru tahu dari CCTV rupanya mereka lagi merayakan ulang tahun bersama,” ujarnya sembari tertawa.
Tidak Seram Seperti nan Dibayangkan
Belakangan, kasus kekerasan di daycare nan sempat ramai di Yogyakarta dan Aceh membikin banyak orang tua cemas. Namun bagi Titi, pengalaman nyaris tiga tahun di daycare nan sekarang justru memberinya rasa aman.
“Karena saya bisa pantau langsung, jadi saya percaya anak-anak aman,” katanya.
Selama ini, drama nan terjadi lebih sering berupa hal-hal mini antaranak. Kadang ada anak baru nan belum bisa beradaptasi lampau berebut mainan alias tidak sengaja mencakar temannya.
Namun menurut Titi, pihak daycare selalu terbuka menceritakan apa nan terjadi kepada orang tua.
Meski begitu, dia juga mengakui ada sisi lain dari kehidupan daycare, anak-anak lebih mudah tertular batuk pilek lantaran intens berjumpa banyak kawan sebaya.
“Tapi saya rasa di sekolah juga begitu ya,” katanya.
Di kembali itu semua, ada perihal lain nan justru membikin Titi merasa keputusan menitipkan anak di daycare bukan keputusan nan salah. Ia memandang anaknya tumbuh lebih mandiri, aktif bersosialisasi, dan punya ikatan kuat dengan teman-temannya. Bahkan terlalu kuat.
Karena daycare hanya menerima anak sampai usia sebelum SD, Titi mulai menghadapi drama baru ialah perpisahan. Anaknya kudu berpisah dengan teman-teman nan sejak mini makan, tidur siang, bermain, dan tumbuh berbareng setiap hari.
“Kadang anak jadi nangis lantaran belum mengerti kenapa kudu pisah,” ujar Titi.
Di situlah dia sadar, daycare bukan lagi sekadar tempat penitipan anak. Di sana, anak-anak belajar punya bumi kecilnya sendiri.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·