Cerita Babeh Is, Penjaga Perlintasan Kereta Sebidang Kawasan Tebet

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Babeh Ismail alias nan kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di area Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Pria paruh baya itu terlihat duduk santuy menjaga palang kereta di area Tebet. Matanya sesekali melirik tajam ke arah Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet, dua stasiun nan mengapit perlintasan sebidang nan dijaganya.

Pria itu adalah Ismail (65), alias nan kerap disapa Babeh Is. Ia sudah lebih dari dua dasawarsa setia menjaga perlintasan nan ramai dilewati penduduk maupun pemotor.

Bagi penduduk sekitar maupun pelaju nan mau memotong jalan melewati perlintasan tersebut, sosok Babeh Is adalah “penyelamat” waktu.

Babeh Ismail alias nan kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di area Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Babeh Is bercerita bahwa keberadaan pos penjagaan ini awalnya dibentuk sebagai wadah bagi penduduk sekitar nan tidak mempunyai pekerjaan tetap.

“Tadinya kan dibikin ini untuk dikaryakan saja, jadi nan nganggur ada kesibukan, ada juga sedikit-sedikit pemasukan,” ujar Babeh Is saat berbincang santai, Sabtu (2/5).

Siapa sangka, inisiatif lokal ini justru memberikan faedah luas. Tak hanya bagi penduduk sekitar, tetapi juga para pekerja kantoran hingga pengemudi ojek online nan menggantungkan rutenya di jalur tikus ini.

“Dan memang akhirnya berfaedah untuk semua orang. Tidak hanya untuk penduduk sekitar. Untuk orang luar juga banyak nan lewat,” tambahnya.

Bekerja hanya berjarak beberapa jengkal dari kereta nan melaju kencang tentu bukan perkara mudah bagi orang awam.

Namun bagi Babeh Is, bunyi mesin dan getaran rel adalah perihal nan sudah dia kuasai di luar kepala. Instingnya sudah menyatu dengan agenda kereta nan melintas setiap menit.

“Wah, sudah hafal banget lah,” katanya mantap saat ditanya soal agenda kereta.

Baginya, mengenali kehadiran kereta bukan sekadar mendengar bunyi klakson, tetapi juga memantau titik-titik buta di ujung rel.

“Kan jarak Stasiun Tebet sama Cawang dekat, dari sini kelihatan. Itu nan terang itu belokan. Kalau di sana belokan di gedung,” jelasnya sembari menunjuk ke arah rel nan menikung.

Babeh Ismail alias nan kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di area Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

“Ya, orang lahir di sini ya hafal lah,” lanjutnya.

Rasa takut tertemper kereta sudah jauh hilang.

“Tapi ini sudah ada pembatas. Enggak perlu waswas,” katanya tenang, meski kereta baru saja melintas di dekatnya.

Kondisi perlintasan nan dijaga Babeh Is sekarang jauh lebih layak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dahulu, dasar untuk melintas hanya berupa kayu-kayu nan rentan rusak.

“Tadinya pakai kayu. Akhirnya pihak KAI mendukung, dikasih paving,” kenang Babeh Is.

Babeh Is pun membenarkan bahwa pihak otoritas kereta api akhirnya turun tangan memberikan support material agar pengendara lebih nyaman saat melintas.

Dari enam titik penyeberangan nan ada di area tersebut, pos tempat Babeh Is bekerja adalah satu-satunya nan beraksi nonstop.

“Dari enam penyeberangan itu, hanya ini nan 24 jam. Kasihan pedagang malam, ojek-ojek malam,” tuturnya penuh empati.

Meskipun demikian, pendapatan Babeh Is jauh dari kata pasti. Ia bekerja dengan sistem shift tiga jam sekali, sehari masuk dan sehari libur.

“Tidak tentu. Dari sekian ribu motor—bukan ratusan, ribuan—paling nan ngasih hanya satu-dua,” ungkapnya.

Bahkan dalam satu shift pada jam landai, Babeh Is mengaku mengantongi duit nan tidak seberapa.

“Paling mini itu gocap (Rp50 ribu). Dapat segitu sudah syukur. Kalau siang dapat Rp60 ribu saja sudah bersyukur. Orang nan lewat itu ojek-ojek, belum tentu semuanya memberi,” ujarnya.

Meski tak ada insentif unik dari pihak mana pun dan hanya mengandalkan keikhlasan para pelintas, Babeh Is tetap bertahan. Baginya, memandang gerobak dan motor bisa melintas dengan kondusif adalah kepuasan tersendiri.

“Awas kereta,” pungkasnya sembari kembali menjaga palang sebelum kereta lewat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan