Catar Asal Palu Terkesan Penilaian Seleksi Akpol Transparan: Tak Ada Celah Diubah

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Semarang -

Ghyna Islamiati Ramly mengaku kewalahan menghadapi soal-soal akademik dan bahasa Inggris saat tes masuk Akademi Kepolisian (Akpol) tingkat pusat. Meski begitu, dia merasa lega lantaran proses ujian terselenggara secara transparan dan adil.

"Menurut saya rekrutmen ini setara lantaran nilai langsung ditampilkan di komputer masing-masing, jadi kami bisa langsung memandang hasil sendiri," kata Ghyna di Kompleks Akpol, Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (26/7/2026).

Usai nilai muncul di komputer masing-masing peserta, panitia mencetak seluruh nilai dalam satu lembar dokumen. Dokumen itu kemudian ditandatangani berbareng oleh seluruh peserta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan sistem tersebut, setiap calon taruna (catar) dapat memandang hasil satu sama lain. "Semua nilai peserta di-print dalam satu kertas untuk ditandatangani bersama-sama. Jadi kami bisa memandang nilai peserta lain juga," ujarnya.

Menurut alumnus SMA Al-Azhar Mandiri Palu tersebut, panitia juga memperlakukan seluruh peserta tanpa membeda-bedakan latar belakang. Contohnya, jika ada satu catar nan tidak disiplin alias melanggar aturan, maka seluruh catar bakal dijatuhi hukuman.

"Saya merasa panitia memperlakukan masing-masing dari kami secara adil, tidak memandang latar belakang kami apa. Kalau satu salah, semua kena hukuman," ucap Ghyna.

Objektivitas penilaian juga dia rasakan saat tes kesamaptaan jasmani. Seluruh aktivitas peserta dihitung menggunakan perangkat digital sehingga hasilnya tidak berjuntai pada penilaian manual petugas.

"Tes jasmani juga semua gerakannya dihitung perangkat digital, bukan orang nan menghitung. Jadi objektif," sebut wanita berumur 18 tahun ini.

Terkait latar belakangnya, Ghyna merupakan personil Paskibraka Provinsi Sulawesi Tengah 2024 dan pernah dua kali dipercaya mewakili Indonesia di forum internasional. Ghyna menjadi delegasi Indonesia dalam Asian Youth Forum 2025 di Korea Selatan dengan membawakan materi tentang kesehatan mental.

Pada tahun nan sama, dia kembali mewakili Indonesia dalam Global Youth Forum 2025 di Jepang untuk mempresentasikan rumor pemanasan global. Meski mempunyai pengalaman berbincang di forum internasional dan aktif mengikuti lomba bahasa Inggris sejak SMP, Ghyna mengaku tetap kesulitan berhadapan dengan soal tes bahasa Inggris tingkat pusat Akpol. Namun baginya, tingkat kesulitan nan tinggi tersebut merupakan standar nan wajar.

"Saya merasa tesnya sangat sulit. Menurut saya setara soal olimpiade. Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Jadi memang kudu bisa memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa taruna-taruni Akpol mempunyai kualitas nan dibutuhkan negara," ungkap dia.

Dalam seleksi tingkat pusat ini, Ghyna memperoleh nilai Tes Potensi Akademik (TPA) 74, Tes Bahasa Inggris 56, dan nilai kesamaptaan jasmani 72.

(aud/isa)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News