Caroline yang Manis, Catatan Pinggir Menonton Laga Kesebelasan Inggris

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi fans kesebelasan Inggris menyanyikan Sweet Caroline. (Gambar ilustrasi oleh AI/Gemini).

Lebih dari separuh abad lampau musisi Amerika Serikat Neil Diamond terperangkap di sebuah hotel. Proses kreatifnya tersendat. Ia sedang mencipta lagu romantis untuk memuja istrinya, Marcia Murphey, namun ada satu halangan. Ia kesulitan memasukkan nama sang istri (yang terdiri dari dua suku kata) ke dalam lirik. Ia memerlukan kata dengan tiga suku kata [1].

Lalu dia terkenang sebuah foto nan memikatnya beberapa tahun sebelumnya. Sebuah foto di majalah Life yang menampilkan Caroline Kennedy kecil, putri mantan Presiden AS John F. Kennedy, sedang mengenakan busana berkuda. Foto anak mini polos nan manis.

Ia ingat lagi nama itu, Ca-ro-line. Itu persis tiga suku kata nan dia butuhkan. Jadi lah lagu Sweet Caroline, Caroline nan Manis.

Sweet Caroline,

Good times never seem so good

I've been inclined

To believe the never would,

But I

Setengah abad kemudian, fans Inggris mengangkat lagu ini sebagai salah satu lagu kebanggaan (anthem song)  tim kesebelasannya. Ritual menyanyikannya begini: dia dinyanyikan sebelum tim kesayangan bermain. Lalu dia bakal dinyanyikan lagi di akhir pertandingan jika Inggris memenangi laga. Sweet Caroline, lagu romantis nan riang, adalah lagu kemenangan.

Disukai Kawan dan Lawan

Sweet Caroline memang lagu yang  populer di Inggris. Ia sudah lama dinyanyikan di bar dan di lounge hotel. Ia sejenis lagu nan cocok dinyanyikan bersama. Temponya tidak terlalu cepat. Nadanya stabil. Lirik reffrainnya mudah diingat, dan nan paling keren, dia mengundang partisipasi penonton menyanyi penuh semangat dengan teriakan Bum, Bum, Bum di bagian akhir reffrain.

Lagu itu resmi diadopsi menjadi lagu kebanggaan tim Inggris tahun 2021 [2]. Ia diperdengarkan di stadion Wembley saat  turnamen Euro 2020 (yang diundur ke tahun 2021), setelah Inggris membungkam Jerman 2-0. Ia melengkapi koleksi lagu-lagu kebanggaan tim Inggris lainnya, God Saves the King (diadopsi 1795), Three Lion, Football's Coming Home (1996), Vindaloo (1998), dan Wonderwall (2026).

Liriknya sangat optimis membawa kesan nyaman (good times never felt so good), berbeda dengan beberapa lagu kebanggaan tim Inggris lainnya nan oleh musuh terkesan arogan dan emosional. Sweet Caroline dengan mudah mengundang semua orang untuk turut bernyanyi.  Ketika  jeda terompet tiba, suporter spontan berteriak "Bum, Bum, Bum" , dilanjutkan dengan lirik "Good times never seemed so good" yang langsung disahut dengan  "So good, so good, so good!" [2].

Saat Bum, Bum, Bum itu diteriakkan dan sahutan so good itu bergaung mengisi seisi stadion, semua fans larut dalam sebuah realitas nan berbeda dari kehidupan sehari-hari. Perbedaan status sosial dan latar belakang perseorangan melebur. Semua menyatu dalam emosi kegembiraan, mengangkat tangan dan apalagi berpelukan. Seakan mengenal satu sama lain.

Orang nan pertama mengusulkan Sweet Caroline menjadi lagu kebanggaan tim nasional Inggris adalah Tony Perry, DJ resmi Stadion Wembley. Menjelang pertandingan babak 16 besar Euro 2020 antara Inggris melawan Jerman, Tony Perry sengaja menyiapkan lagu tersebut di daftar putarnya. Ia merasa lagu klasik ini mempunyai daya universal nan bisa dinikmati semua orang.

Saat lagu dimainkan tepat sebelum kick-off, baik suporter Inggris maupun Jerman merespons dengan sangat antusias. Setelah Inggris mengalahkan Jerman 2-0, Tony Perry awalnya memutar lagu wajib Three Lions (Football's Coming Home). Namun, demi menjaga atmosfer emosional penonton nan sedang merayakan kemenangan historis tersebut, dia secara hatikecil memutuskan beranjak memutar Sweet Caroline sekali lagi. Keputusan itu langsung membikin seisi Stadion Wembley bergemuruh dahsyat dan diadopsi langsung oleh para pemain di lapangan.

Inggris bukan nan pertama mengangkat dan merasakan magis dari Sweet Caroline. Di Amerika Serikat, dia telah lebih dulu diadopsi oleh tim baseball Boston Red Sox. Ia selalu dinyanyikan setiap kali tim bermain di Stadion Fenway Park [3]

Pada tahun 1997, Amy Tobey, seorang wanita petugas kendali bunyi di Stadion Fenway Park  memutar lagu Sweet Caroline. Ia mempersembahkan lagu itu untuk  teman dekatnya yang  baru saja melahirkan bayi wanita nan diberi nama Caroline. Kebiasaan memutar lagu itu dia lanjutkan di kemudian hari, dan penonton selalu merespons dengan gembira. Lebih ajaib, Tim Red Sox sering memenangkan pertandingan jika lagu itu diputar.

Menyadari perihal itu, manajemen klub akhirnya mulai memutar Sweet Caroline secara rutin jika tim sedang memimpin, alias sebaliknya, jika pertandingan terasa ketat. Pada tahun 2002,  manajemen baru memutuskan untuk meresmikan lagu ini menjadi tradisi tetap.

Perspektif James Carey: Komunikasi sebagai Ritual

Ini mengingatkan kita bakal peran lagu dalam ibadah keagamaan. Ia memberi angan dan mengusir kecemasan. Dan olah raga, kerap mempunyai kesamaan dengan agama.

Martin Smith, seorang ateis fans Manchester United, mengibaratkan sepak bola sebagai kepercayaan bagi orang Inggris. “Sepak bola adalah kepercayaan saya dan mungkin juga kepercayaan Anda,” kata mantan sekretaris Federasi Nasional Perhimpunan Mahasiswa Ateis, Humanis dan Sekuler (AHS) Inggris itu [4].

Mendukung sebuah klub sepak bola, kata dia, mempunyai banyak kesamaan dengan menganut suatu kepercayaan agama. “Seperti halnya agama, begitu Anda memilih klub sepak bola, Anda langsung menjadi bagian dari organisasi tersebut.”

Menjadi fans sepak bola di Inggris berfaedah meletakkan seluruh pertaruhan hidup pada tim nan didukung. Sedih dan gembiranya tidak bisa dilepaskan dari apa nan terjadi pada tim. Menang alias kalah diterima dengan kesetiaan dan cinta nan sama.

“Menyaksikan kesedihan berbareng nan dirasakan oleh para fans sepak bola nan timnya baru saja terdegradasi alias nan baru saja kalah di final piala, hanya dapat dibandingkan dengan para umat beragama di Lapangan Santo Petrus saat wafatnya seorang Paus,” lanjut Smith.

“Setiap minggu jutaan orang di seluruh bumi melakukan perjalanan ratusan, terkadang ribuan mil untuk menonton pertandingan sepak bola. Bagi orang-orang ini, sepak bola adalah 'agama' mereka,” kata Smith.

Sweet Caroline telah mempersatukan fans Inggris seperti lagu-lagu nan dikumandangkan pada ibadah keagamaan mempersatukan umat. Ia telah menjadi perangkat komunikasi nan merekatkan seluruh fans.

James Carey nan dalam  bukunya, Communication as Culture (1989): membagi langkah pandang komunikasi menjadi dua: Perspektif Transmisi (Transmission View) dan Perspektif Ritual (Ritual View). Perspektif  transmisi adalah pendapat bahwa komunikasi merupakan proses pengiriman alias penyampaian pesan dari pengirim ke penerima untuk menyebarkan info dan mencapai kontrol [5].

Ada pun perspektif ritual memandang komunikasi bukan sekadar perangkat untuk mengirim pesan. Ia adalah proses sakral untuk membangun, memelihara, dan merayakan kebersamaan serta nilai-nilai budaya dalam suatu masyarakat.

Carey mengeritik perspektif tradisional nan memandang komunikasi hanya sebagai transimi pesan, seperti mengirim paket pos melintasi ruang demi tujuan kontrol alias pengaruh. Sebaliknya, perspektif ritual melihat komunikasi seperti asal katanya, community (komunitas) dan communion (persekutuan). Tujuan utamanya bukan kontrol, melainkan partisipasi, asosiasi, persahabatan, dan pemeliharaan masyarakat dalam waktu.

Membaca surat kabar dari perspektif transmisi, bisa dicontohkan dengan orang nan mau mencari info kontrakan rumah alias hasil pilkada. Namun, membaca surat kabar dari perspektif ritual, adalah membaca sebagai kebiasaan, habitus, nan dijalankan secara otomatis. Ada nan kurang jika tidak dijalankan. Mirip seperti orang menghadiri misa alias salat Jumat di masjid; dilakukan secara rutin karena telah menjadi ritual nan memberikan rasa keteraturan dan membikin seseorang merasa terhubung dengan orang lain nan melakukan perihal serupa.

Sweet Caroline memainkan peran nan sama. Di stadion, suporter menyanyi bukan lantaran liriknya memberikan info baru. Ia juga bukan lagu nan baru dikenal beberapa hari belakangan. Tetapi fans menyanyikannya sebagai tindakan berbareng lantaran dia telah menjadi  ritual  yang menegaskan kebersamaan. Ritual menyanyi di stadion menjadi katarsis komunikasi nan sangat krusial untuk memelihara solidaritas identitas fans di tengah kultur masyarakat nan condong egois di kehidupan sehari-hari.

Harapan di Saat-Saat Tergelap

Agama selalu berbincang tentang harapan. Sepak bola bagi orang Inggris juga adalah harapan. Harapan nan tetap bertahan, “bahkan di saat-saat tergelap sekalipun,” tulis Smith.

Fans kesebelasan Inggris telah bertahun-tahun menjalani saat-saat tergelap itu. Berulang kali mereka menangis menyaksikan timnya tersisih dari Piala Dunia, tetapi belum juga putus harapan.

Inggris dikenal sebagai tempat lahirnya sepak bola tetapi baru sekali mereka juara [6]. Mereka  adalah negara pertama di bumi nan menyelenggarakan kejuaraan resmi sepak bola (1871). Klub sepak bola tertua, Sheffiled F.C., lahir di negara ini (1857). Tim nan pertama kali menyelenggarakan pertandingan internasional adalah kesebelasan Inggris. Liga primer negara itu adalah liga nan paling banyak ditonton di seluruh dunia. Tidak ada keraguan untuk membanggakan Inggris sebagai tanah asal sepak bola.

Namun dengan julukan itu, Inggris baru sekali jadi juara bumi sejak turnamen itu diadakan tahun 1950. Mereka telah 77 kali berlaga, menghasilkan 110 gol, bertandang ke beragam penjuru dunia, termasuk ke Afrika Selatan, Jepang, Qatar dan Rusia. Mimpi menjadi juara dunia, membawa sepak bola kembali ke 'kampung halamannya,' belum juga terwujud. Sudah terlalu lama kerinduan itu. Enam puluh tahun. Pertanyaan dan angan saya (sebagai fans Inggris), akankah Sweet Caroline dinyanyikan sampai akhir turnamen?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan