Cara Membangun Keberanian Anak Melaporkan Kekerasan Menurut Psikolog

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Cara Membangun Keberanian Anak Melaporkan Kekerasan Menurut Psikolog Ilustrasi(magnific)

MEMBANGUN keberanian pada anak untuk melaporkan tindak kekerasan, baik di lingkungan bentuk maupun ruang digital, memerlukan fondasi kuat sejak dari rumah. Psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa komunikasi terbuka dan literasi menjadi kunci utama dalam upaya perlindungan ini.

Menurut Ocha, budaya komunikasi nan hangat dan responsif antara orangtua dan anak merupakan aspek protektif terkuat dalam mencegah kekerasan. Hubungan nan terjaga membikin anak merasa kondusif untuk bersuara.

“Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak setiap hari tanpa langsung menghakimi, menyalahkan, alias terburu-buru memberi solusi,” ujar Ocha saat dihubungi di Jakarta, Kamis (23/7).

Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa ketika anak terbiasa didengar dalam hal-hal sederhana, mereka bakal mempunyai kepercayaan diri bahwa orang tua bakal memberikan perhatian nan sama saat mereka menghadapi masalah serius.

Literasi Digital dan Pendampingan

Terkait ancaman di bumi maya, Ocha menyebut bahwa keberanian melapor perundungan digital kudu dibarengi dengan literasi. Pendampingan digital perlu dilakukan secara berjenjang sesuai dengan usia dan tingkat kematangan anak.

Orangtua diharapkan aktif membujuk anak berbincang mengenai konten internet, pentingnya menjaga privasi, hingga mewaspadai orang asing. Anak juga kudu dibekali keahlian teknis untuk melindungi diri secara mandiri.

Aspek Perlindungan Langkah Praktis bagi Anak
Teknis Digital Memblokir akun, melaporkan konten negatif, dan keluar dari percakapan nan tidak nyaman.
Kemampuan Asertif Berani mengatakan "tidak", "berhenti", alias "aku bakal lapor orang tua" saat merasa terancam.
Peran Upstander Berani mencari support orang dewasa ketika memandang kawan lain menjadi korban kekerasan.

Melatih Batasan Diri

Selain literasi, melatih keahlian asertif dan menjaga batas diri (personal boundaries) sangat krusial. Anak perlu memahami bahwa mereka mempunyai kewenangan penuh atas kenyamanan dirinya, apalagi di hadapan orang nan lebih tua alias sudah dikenal sekalipun.

“Misalnya, mengenalkan kata ‘aku tidak mau’ alias ‘berhenti’ dapat dilatih melalui permainan peran (role play), diskusi, maupun studi kasus nan sesuai dengan usia anak,” tambah psikolog nan tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut.

Dengan edukasi mengenai beragam corak kekerasan sejak dini, anak tidak hanya tahu apa itu kekerasan, tetapi juga mengerti langkah konkret nan kudu diambil untuk menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. (Ant/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia