Budaya Membeli Kopi dari Kafe dan Kedai Kopi: Antara Fungsi dan Gengsi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi secangkir kopi nan tergeletak di atas meja. Foto: Nam Quach/Unsplash

Saat ini, beragam kafe dan warung kopi mulai tersebar luas menawarkan ragam kopi nan beranekaragam dengan nilai mencapai puluhan ribu. Mereka tidak sekadar menawarkan produk kopi itu saja, melainkan juga pelayanan nan baik, kebersihan tempat, apalagi kelengkapan akomodasi seperti Wi-Fi dan stop kontak.

Meskipun begitu, keberadaan pedagang kopi keliling alias starling tetap datang hingga hari ini. Mereka menjajakan beragam minuman, salah satunya kopi, dengan nilai nan lebih ramah di kantong. Namun, banyak orang nan lebih memilih untuk membeli kopi di kafe alias warung kopi nan sedang viral. Mengapa?

Yang Dibeli Bukan Sekadar Kopi

Kopi nan dibeli di kafe alias warung kopi terbungkus dalam bungkusan menarik dengan merek produk nan terpampang jelas sehingga dapat membikin orang lain penasaran dan ikut "terpengaruh" untuk membeli produk nan sama. Belum lagi jika terdapat banyak orang nan mengunggah produk kopi tersebut ke media sosial. Akibatnya, banyak orang beramai-ramai untuk membeli produk nan sama lantaran menganggap "mengonsumsi kopi merek A = keren" mengingat harganya nan tidak murah bagi sebagian orang.

Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Tania, C. & Hurdawaty, R. (2022) nan menemukan bahwa budaya konsumsi kopi berpengaruh dari globalisasi nan berakar dari budaya barat. Penyebabnya adalah prioritas diri untuk menampilkan kelas sosial nan tercermin dalam pertimbangan nilai kopi untuk menunjukkan kemewahan.

Satu Kopi = Dua Makna

Umumnya, sasaran pasar untuk kopi kafe alias warung kopi adalah mahasiswa dan pekerja korporat. Mereka mengonsumsi produk kopi untuk menahan rasa kantuk serta memperbaiki suasana hati. Inilah nan disebut sebagai nilai guna (use value), ialah kegunaan praktis kopi nan dikonsumsi untuk membantu individu.

Di samping itu, terdapat pula nilai tanda (sign value) pada segelas produk kopi. In this economy, kopi dari kafe dan warung kopi ternama—terlebih lagi jika sedang naik daun—cenderung dianggap superior. Akhirnya, terbentuklah stereotip di masyarakat nan memandang bahwa produk kopi tersebut menandakan gambaran diri, style hidup modern, dan status sosial (prestise) nan "tinggi" dari sang pembeli. Ini adalah interpretasi dari pemikiran kritis Jean Baudrillard dalam kajian masyarakat konsumen.

Dengan demikian, satu produk kopi tidak hanya menjadi minuman nan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan bentuk perseorangan saja, melainkan juga sebagai penanda berarti eksklusif nan merepresentasikan identitas diri dan status sosial sang pembeli kopi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan