Ilustrasi(Dok Istimewa)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berbareng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Yapen, Papua, resmi bersinergi untuk menyelamatkan bahasa Wabo dari ancaman kepunahan. Bahasa wilayah tersebut sekarang dilaporkan telah berada pada tingkat kritis akibat jumlah penutur nan semakin terbatas dan tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Sinergi penyelematan ini dibahas dalam audiensi antara peneliti Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra BRIN dengan Bupati Kepulauan Yapen Benyamin Arisoy, serta jejeran pemda di Serui, Papua.
Peneliti BRIN, Satwiko Budiono, memaparkan bahwa tim riset telah melakukan pengarsipan bahasa Wabo selama beberapa tahun terakhir. Progresnya meliputi pengumpulan info kebahasaan, pengarsipan ke repositori nasional dan internasional, hingga penyusunan tata bahasa deskriptif.
“Bahasa Wabo merupakan bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Kepulauan Yapen nan kudu dilindungi bersama. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci keberhasilan pelindungan bahasa wilayah nan terancam punah hingga kritis,” ujar Satwiko melalui keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Satwiko menambahkan, keberhasilan pelindungan bahasa Wabo nantinya bakal dijadikan model alias percontohan untuk mendokumentasikan bahasa wilayah lain di wilayah Kepulauan Yapen nan juga memerlukan perhatian serius.
Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoy, menyambut positif kehadiran tim BRIN dan menyatakan komitmen penuh pemda untuk mendukung keberlanjutan program ini melalui kebijakan daerah.
“Pemerintah wilayah mendukung penuh upaya pelindungan bahasa Wabo lantaran bahasa merupakan identitas dan warisan budaya masyarakat nan tidak boleh hilang. Apa nan dilakukan BRIN hari ini merupakan investasi bahasa dan budaya untuk masa depan generasi muda,” tutur Benyamin.
Senada dengan bupati, Kepala Bapperida Kabupaten Kepulauan Yapen, Saskar Paiderouw, mengakui bahwa daerahnya mempunyai keterbatasan sumber daya manusia nan kompeten di bagian pengarsipan bahasa spesifik. Oleh karena itu, asistensi keilmuan dari BRIN menjadi sangat krusial.
Saskar memastikan Pemkab Kepulauan Yapen terbuka untuk mengalokasikan support pendanaan melalui sistem APBD nan berlaku, sementara BRIN bakal mengawal dari aspek teknis dan metodologi riset.
Audiensi tersebut menghasilkan kesepakatan awal mengenai arah kerja sama ke depan. Salah satu agenda utama pasca-penyusunan tata bahasa deskriptif adalah memproduksi Kamus Bahasa Wabo.
Program penyusunan kamus ini nantinya bakal didelegasikan berbareng kepada Bapperida serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen agar masuk ke dalam program pelindungan budaya daerah.
BRIN berambisi kamus tersebut tidak hanya berakhir sebagai produk literatur ilmiah di perpustakaan, melainkan dapat diproduksi massal sebagai bahan ajar lokal. Kamus ini ditargetkan menjadi media pembelajaran utama bagi generasi muda nan mau mempelajari kembali bahasa leluhur mereka agar eksistensi bahasa Wabo tetap terjaga di tanah Papua. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·