BPS Ungkap Fenomena Bermunculan di Daerah-Daerah RI, Harga Beras Naik

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, kenaikan nilai beras di beragam wilayah mulai dipicu oleh menipisnya stok hingga naiknya nilai dari distributor. Kondisi itu membikin nilai beras di sejumlah wilayah mengalami kenaikan cukup tinggi pada April hingga minggu kedua Mei 2026.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, rata-rata nilai beras nasional saat ini mencapai Rp15.325 per kilogram (kg). BPS juga mencatat sudah ada 111 kabupaten/kota nan mengalami kenaikan nilai beras.

"Beras rata-rata nasional Rp15.325 per kg. 111 kabupaten/kota mengalami kenaikan nilai beras," ungkap Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (18/5/2026).

Adapun sejumlah wilayah nan mengalami kenaikan nilai beras, antara lain Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Teluk Bintuni, hingga Kabupaten Paser.

BPS juga memetakan sejumlah aspek pemicu kenaikan nilai beras di daerah. Menurutnya, kenaikan nilai tak hanya dipicu stok nan menipis, tetapi juga kenaikan nilai di tingkat pemasok hingga terbatasnya pasokan beras lokal di pasar.

Salah satu contohnya terjadi di Kota Denpasar, Bali. Inflasi beras secara bulanan alias month-to-month pada April 2026 tercatat mencapai 2,76% dengan andil inflasi sebesar 0,11%.

Amalia menjelaskan, kenaikan nilai di Denpasar dipicu kenaikan nilai di tingkat pemasok nan mengikuti naiknya nilai gabah dan beras di sejumlah wilayah sentra produksi di Bali seperti Jembrana, Badung, Gianyar, hingga Bangli.

"Karena fenomenanya nan kami tangkap dari BPS wilayah adalah kenaikan nilai dari distributor, di mana ini kenaikan di tingkat petani Jembrana, Badung, Gianyar, Bangli, dan juga nilai dari distributornya mengalami kenaikan," jelasnya.

Sementara di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kenaikan nilai beras disebut terjadi akibat stok nan mulai menipis di tengah belum masuknya masa panen. BPS mencatat inflasi beras di wilayah tersebut secara month-to-month mencapai 6,54% dengan andil inflasi sebesar 0,37%.

Data BPS menunjukkan, pasokan beras di pasar tetap terbatas lantaran sebagian wilayah belum memasuki masa panen. Kondisi itu membikin peralatan nan tersedia di pasar relatif sedikit dan mendorong kenaikan harga.

"Ini fenomenanya lantaran stok menipis, kemudian ada di situ belum panen. Karena memang beras tetap belum panen, sehingga peralatan nan tersedia di pasar tetap relatif sedikit," kata Amalia.

Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain seperti Kota Palangkaraya, Kabupaten Tanah Laut, hingga Hulu Sungai Tengah. Dalam paparannya disebutkan, kenaikan nilai di wilayah-wilayah tersebut dipicu terbatasnya suplai beras lokal lantaran panen belum berjalan optimal, sementara sebagian gabah justru keluar wilayah sehingga pasokan di pasar menurun.

Di beberapa wilayah, kenaikan nilai juga dipengaruhi meningkatnya nilai beras dari Pulau Jawa nan masuk ke daerah, di tengah terbatasnya stok beras lokal.

Meski begitu, BPS memperkirakan kondisi stok beras bakal mulai membaik pada Mei hingga Juni 2026 seiring masuknya musim panen berasas hasil survei produksi padi.

"Mungkin jika tidak salah, kelak sekitar.. menurut hasil perkiraan dari KSA survei produksi padi kami, memang stok kemungkinan bakal naik di bulan Mei-Juni," pungkasnya.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News