Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rata-rata nilai beras di tingkat penggilingan maupun satuan tetap mengalami kenaikan pada Juli 2026.
Kenaikan terjadi baik secara bulanan maupun tahunan, dengan beras kualitas premium di tingkat penggilingan mencatat lonjakan paling tinggi secara tahunan.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan, rata-rata nilai beras di tingkat penggilingan pada Juli 2026 naik 0,94 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan meningkat 5,11 persen dibandingkan periode nan sama tahun lampau (year-on-year/yoy).
“Rata-rata nilai beras di penggilingan pada kondisi Juli 2026 secara total naik 0,94 persen alias secara mtm dan naik sebesar 5,11 persen secara yoy,” kata Ateng dalam konvensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (3/8).
Menurut BPS, jika dirinci berasas kualitasnya, beras premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan 0,44 persen secara bulanan dan melonjak 10,02 persen secara tahunan.
"Pada Juli 2026, nilai rata-rata beras di penggilingan kualitas premium sebesar Rp 14.880 per kilogram (kg). Sementara untuk penggilingan beras medium sebesar Rp 13.694 per kg," tulis catatan BPS.
Sementara itu, nilai beras medium di tingkat penggilingan naik 1,25 persen secara bulanan dan 3,24 persen secara tahunan.
Selain kenaikan nilai di tingkat penggilingan, BPS juga mencatat inflasi nilai beras di tingkat grosir maupun satuan sepanjang Juli 2026.
Di tingkat grosir, inflasi beras mencapai 0,61 persen secara bulanan dan 4,11 persen secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, inflasi tercatat sebesar 0,49 persen secara bulanan dan 3,10 persen secara tahunan.
Ateng menegaskan bahwa nomor tersebut merupakan rata-rata nilai beras nasional nan dihitung dari beragam kualitas beras di seluruh wilayah Indonesia.
“Sebagai informasi, teman-teman media, nilai beras nan kami sampaikan nan tadi saya sebutkan merupakan rata-rata nilai beras nan mencakup beragam jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia,” katanya.
NTP Naik Tipis
Selain melaporkan perkembangan nilai beras, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 sebesar 127,84 alias naik 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan NTP terjadi lantaran penurunan indeks nilai nan dibayar petani lebih dalam dibandingkan penurunan indeks nilai nan diterima petani.
Ateng menjelaskan, penurunan indeks nilai nan diterima petani terutama dipengaruhi oleh melemahnya nilai sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabe rawit, bawang merah, tomat, dan cabe merah. Kondisi tersebut membikin subsektor hortikultura menjadi sektor dengan penurunan NTP terdalam pada Juli 2026.
“Subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 8,49 persen. Kondisi ini disebabkan lantaran indeks nilai nan diterima oleh petani hortikultura turun sebesar 8,74 persen. Turun lebih dalam jika dibandingkan dengan indeks nilai nan dibayar ialah turun 0,28 persen,” ungkap Ateng.
Di sisi lain, BPS mencatat nilai tukar perikanan meningkat 1,01 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya nilai tukar nelayan maupun pembudidaya ikan, dengan komoditas seperti rajungan, tongkol, rumput laut, bandeng, dan udang menjadi penyumbang utama kenaikan indeks nilai nan diterima.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·